
•
•
•
"Kak, kakak sibuk gak?" Aida menuruni tangga dan berjalan ke arah Darion yang sedang duduk di sofa. "Aku mau minta tolong."
"Apa?" tanya Darion membuka kacamatanya kemudian menatap Aida. "Kamu minta nyawa kakak aja, kakak juga ikhlas."
"Gaklah, aku cuma mau minta kakak ke minimarket beli bahan dapur," jawab Aida duduk disamping Darion.
"Papa muda gini kamu suruh ke minimarket belanja?" ujar Darion padahal usianya sudah kepala tiga walaupun dia masih tampan dan menawan. "Yaudah mana list belanjaannya."
Aida memberikan list belanjaan kepada Darion, Darion menerimanya dan melihat isinya, kemudian mengangguk. "Hadiahnya apa?"
Aida mendelik. "Hadiah?"
"Mumpung Reza lagi sama kakek neneknya," jawab Darion menaik turunkan alisnya.
Aida mengusap wajah suaminya itu dan mencium pipinya. "Nih udah aku cium, semangat yah suami."
Darion mengangguk kemudian berdiri dan beranjak keluar dari rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah, Darion masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya minimarket.
Minimarket terdekat dari rumahnya dekat tidak jauh sehingga tidak butuh waktu lama,
Darion memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk ke dalam minimarket mencari belanjaan yang disuruh Aida, cukup lama karena memang belanjaannya cukup banyak.
Setelah selesai, Darion memilih mengantri di kasir untuk membayar, Darion awalnya diam saja, sebelum seseorang menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Ngapain?" tanya orang tersebut yang ternyata Adin. "Aku baru saja ingin menemuimu."
"Astagfirullah, bikin kaget Din, aku beli belanjaan bulanan Aida, menemuiku? Mau minjem duit?" jawab Darion.
Adin menepuk kepala Darion kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. "Katanya ini adalah yang paling bagus, aku membelinya mahal."
"Heh? Apaan ini?" Darion melihatnya terbungkus plastik tapi isinya bubuk seperti gula pasir. "Gula pasir?"
"Bukan," jawab Adin, ia kemudian meminta Darion mendekat kemudian berbisik. "Itu obat per-angsang."
"HAH!"
Darion sontak berteriak yang membuat orang yang mengantri menatap kepadanya, Adin sendiri langsung membuang muka karena ulah Darion.
"Gila, mana mau aku pake beginian," jawab Darion yang membuat Adin menatapnya malas.
"Pake dulu, cobain deh," jawab Adin bersikeras, tapi Darion menolak.
Saat diluar, Adin dengan sengaja menyenggol Darion dan memasukkan bungkusan itu ke kantong belanja Darion.
"Maaf, gak sengaja bro, yaudah kalau kau gamau, aku duluan yah," jawab Adin menepuk pundak Darion.
Darion mengangguk kemudian masuk ke dalam mobilnya, Darion kemudian mengendarai mobilnya menuju rumah karena badannya sudah lelah, sesampainya di rumah, Darion mengucap salam.
Darion berjalan ke arah dapur dimana Aida berada sedang membuat makan siang. "Udah selesai, Kak?"
"Udah, kakak taruh disini yah," jawab Darion menaruh kantong belanjanya di counter dapur. "Dek, buatin kopi."
Darion berjalan menuju ruang tamu dan kembali duduk, laptopnya masih ada disana, Darion memilih mengecek email saja.
__ADS_1
"Kak! Gulanya mana?" tanya Aida dari dapur.
"Dikantong, sayang, yang bungkus plastik itu," jawab Darion.
Aida membuka kantong plastik dan mendapati sebuah bungkusan yang sama yang diberikan Adin kepada Darion tadi.
"Yakin ini gulanya, kok bungkusnya kecil?"
"Iya, cuma satu kok itu yang gitu, berarti kalau bukan gula apalagi," jawab Darion.
Aida menurut saja, ia memasukkan bubuk itu semua kedalam kopi, walaupun menurutnya aneh tapi kalaupun gula kenapa bungkusnya kecil sekali.
Setelah selesai mengaduk kopi, Aida membawakan kopi itu kepada Darion, Darion menerima kopinya sedang Aida duduk disampingnya.
"Makasih sayang," jawab Darion meminum kopinya namun baru beberapa saat dia sudah menyemburkan kopi dimulutnya. "Kok pahit, gak pake gula yah?"
"Pake kok," jawab Aida.
Darion merasakan bahwa kini jantungnya berdebar sendiri setelah meminum kopi itu. "Ada apa ini?"
•
•
•
TBC
Ahahahahaha mampos!
__ADS_1
Assalamualaikum