Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 17. Dendam Adin


__ADS_3

"ARGH!"


Adin memukul setir mobilnya sendiri sehabis pulang dari rumah sakit, pikiran Adin benar-benar sudah ikutan sakit.


Adin kini memarkirkan mobilnya di depan rumahnya, harusnya kini rumah itu ada satpam dan pembantu tapi Adin menyuruh mereka pulang semua.


Adin masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumah tersebut, dia langsung mengambil vas bunga yang diatas meja dan membantingnya.


PRANG!


Seketika pecahan beling bertaburan di lantai rumah Adin, ia berjalan ke arah sofa dan menghamburkan semuanya, dia Frustrasi dengan jawaban Aida kepadanya.


"Kenapa Aida! Kenapa! Saya cinta sama kamu! Tapi kenapa kamu seolah menolak saya!"


PRANG!


Vas bunga lainnya ikut pecah dan kali ini pecahannya mengenai tangan Adin sampai berdarah, Adin duduk di sofa dengan tangan yang masih berdarah.


"Sakit! Tapi lebih sakit lagi hati saya Aida!"


"SAYA AKAN MEMBUAT KAMU MENYESAL AIDA!"


Adin berteriak kencang yang membuat suaranya menggema di rumah tersebut karena semua ruangan tertutup disana sehingga suara Adin memantul.


Hati Adin kini tengah panas, dia adalah sahabat baik Darion tapi ternyata Darion adalah saingan terbesarnya.


Adin beranjak dari posisinya menuju tangga, dia menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua, sesampainya di kamar dia langsung menarik kemeja tanpa membuka kancingnya membuat kancing kemeja itu bertaburan ke lantai karena terlepas dari tempatnya.


Adin melirik sebuah foto diatas nakas tempat tidurnya, foto Aida, foto wanita yang dia cinta, dia mengambil foto berbalut bingkai itu dan memeluknya.


"Kenapa Aida! Apa kamu masih cinta dengan Darion! HAH! KAMU MASIH CINTA SAMA DIA!"


PRANG!


Adin melempar foto itu ke lantai yang membuat beling dari kaca bingkai bertebaran dimana-mana.


Bahkan kamar Adin yang memiliki AC sudah tidak bisa menahan panasnya rasa hati Adin, dia menatap cermin yang ada di kamarnya, wajahnya berantakan karena keringat dan amarah.


"Darion! Saya akan menyingkirkan kamu, lebih tepatnya mempertemukan kamu dengan Tuhan lebih cepat! Kalau saya harus jadi antagonis disini, saya akan menjadi Antagonis yang paling kejam sekarang!"


PRANG!


Lagi-lagi kaca bertebaran karena Adin meninju cermin itu membuat kacanya retak dengan Adin terbungkus emosi.


Adin meraih ponselnya dan mengetik nomor seseorang, dia menaruh ponsel itu ditelinganya sembari menunggu sambungan telepon itu.


"Halo!"


"Halo! Saya butuh kamu melenyapkan nyawa seseorang, malam ini!" ujar Adin yang langsung membuka aplikasi mobile bankingnya dari hp lain dan mengirim sejumlah uang. "Uangnya sudah saya Transfer, saya ingin mendengar kabar duka malam ini!"





Aida masih terdiam kaku membaca buku Diary Agnes, jadi Agnes meninggal bukan karena gagal mengejan tapi dia memang menderita kanker darah.


"Assalamualaikum!"


Disaat Aida terdiam, suara salam membuat Aida beranjak keluar, masa lalu Aida yang lainnya kembali datang, itu adalah Babah Arga dan Bunda Gevanya.


"Waalakumsalam, Babah, Bunda?"


"Aida! Ngapain kamu disini?" tanya Babah Arga dingin kepada Aida. "Dimana Reza?"


Aida lantas mengambil Reza yang tertidur kemudian memberikannya kepada Babah Arga, berbeda dengan Babah Arga yang dingin, Bunda Gevanya malah hangat melepas rindu dengan mantan menantunya.


"Kamu yang sabar yah dengan sikap Babah, menantu idaman dia itu Agnes dan dia mungkun masih belum welcome sama kamu," bisik Bunda Gevanya. "Bunda tadi kesini, karena ditelepon kalau Ion masuk rumah sakit dan Reza gaada yang jaga, ternyata ada kamu, kamu ngapain disini?"


Belum sempat Aida menjawab, Reza sudah menangis karena kehausan, Aida inisiatif meraih Reza dan membalikkan badan untuk menyusuinya.


"Jadi kamu! Ibu susu Reza?" tanya Babah Arga terkejut.

__ADS_1





Makin Panas konfliknya.


Kalau rame kta up lagi bab baru hari ini


Ayok komen yang banyak!


Assalamualaikum, Author hadir menyapa dengan novel Baru.


Judul: Selepas Kata Akad


Author: Ridz


Sinopsis:


"Akhirnya aku sadar, aku hanya menjadi tempat tujuan untuk dia yang memiliki tujuan yang lain."


Agnes Alaydrus, harus merelakan sidang skripsinya gagal dikarenakan dia menolong seorang pria yang kecelakaan, sesampainya dirumah kabar bahagia yang harus dia bawa hanya tersisa kabar duka.


Setahun kemudian Agnes harus mengalami sebuah insiden yang membuatnya harus menikahi sosok, Halim Guna Hartawan, sosok pria yang ia tolong dulu.


Namun ternyata Halim sudah menjalin hubungan dengan wanita lain bernama Glenda, yang mengaku sebagai malaikat penolong Halim setahun yang lalu, sehingga Agnes harus menerima perselingkuhan suaminya didepan matanya sendiri setelah sah menjadi istri Halim.


Cuplikan:


Setahun sudah berlalu semenjak kematian Ayah dari Agnes, Agnes yang sebatang kara pun harus menerima nasibnya menjadi seorang diri, karena ibunya sendiri sudah pergi entah kemana.


Agnes yang gagal menjadi dokter kini bekerja di sebuah rumah makan sebagai pelayan, karena dia harus mengulang kembali semesternya dan menyiapkan kembali program untuk mencapai cita-citanya yang tertunda.


Jam makan siang sudah tiba, Agnes kini berada di belakang rumah makan, dimana di belakang rumah makan itu ada sebuah meja dan kursi yang menghadap ke gang kecil untuk mengakses rumah warga yang berada di belakang rumah makan itu.


Disaat Agnes sedang duduk melamun, tiba-tiba saja ada seorang nenek tua menghampirinya dan meminta makan.


Agnes terdiam sesaat, dia masuk ke dalam rumah makan menuju ruangan karyawan, mengambil tasnya dan merogohnya.


Isi Tasnya hanya ada uang seratus ribu rupiah, itu adalah uang terakhirnya, dan akhir bulan masih lama, Agnes yang pada dasarnya terlalu baik memilih memberikan uang tersebut dan membungkus makanan untuk nenek itu.


"Ini Nek, makanan sama ada sedikit uang buat Nenek," Agnes memberikan bungkusan makanan dan uang itu kepada nenek pengemis tadi dengan harapan Allah akan membalas kebaikan Agnes hari ini.


"Makasih," Nenek itu beranjak pergi meninggalkan Agnes yang masih terdiam berdiri disana.


Disaat Agnes menatap nenek pengemis itu pergi, ia kembali terhenyak dalam lamunan, padahal uang seratus ribu itu untuk fotokopi tugas kuliahnya yang harus di kumpul besok, sekarang Agnes harus berusaha keras mendapatkan uang gantinya.


"AGNES!"


Suara teriakan kencang membuat Agnes membalikkan badannya dan ternyata ada Bossnya, Bossnya merupakan seorang pria berusia tua yang terkenal pelit.


"Kamu ngasih makanan ke pengemis lagi yah!"


Mendengar itu membuat Agnes mengangguk dengan keadaan menunduk, Bossnya tampak murka, karena Agnes selalu begitu.


"Maaf-"


"Sudah! Lepas seragam kamu kemudian pergi dari sini! KAMU SAYA PECAT!"


Agnes terdiam mematung, dia menganggukkan kepalanya, berjalan masuk ke ruangan karyawan melepas seragam kemudian mengambil tasnya.


Agnes berjalan meninggalkan rumah makan itu, padahal dia sudah nyaman dan sesuai dengan bayaran disana yang bisa memenuhi kebutuhan kuliahnya.


"Apa aku berhenti kuliah aja yah? Tapi ini kan cita-citanya Ayah, kalau aku berhenti sekarang, berarti cita-cita ayah gak kesampean dong," ujar Agnes dalam hati.


Agnes berjalan melangkahkan kakinya meninggalkan area rumah makan itu sebelum sebuah mobil menghadang dirinya.


Agnes kebingungan karena dia tidak tahu menahu apa yang akan terjadi sekarang, dari dalam mobil turunlah seorang Ibu Paruhbaya yang sangat dia kenali bersama wanita yang Agnes juga kenal beserta beberapa bodyguard mereka.


"Mama!" Agnes berteriak dan berlari memeluk Ibunya itu yang sudah beberapa tahun ini tidak bertemu dengannya.


Namun sayang, bukannya sambutan baik yang dia terima, Agnes malah enggan dipeluk dan di dorong agar menjauh sedikit.

__ADS_1


"Mama gamau peluk Agnes, Agnes kangen sama Mama, Ma, Ayah udah meninggal, Mama kemana aja?"


"Bu Sinta, bawa sekarang?" tanya Bodyguard yang ada disana.


Wanita bernama Bu Sinta yang merupakan ibu Agnes tersebut lalu mengangguk dan membuat beberapa bodyguard langsung membekuk Agnes dan membawanya masuk ke mobil.


"Ini ada apaan!" ujar Agnes merasa heran.


"Diam! Kalau kamu masih nganggap saya Ibu kamu, kamu harus nurut sebentar lagi kamu akan nikah!" ujar Bu Sinta yang membuat Agnes mendelik tajam.


"Hah!"


"Bisa Diam, Gak!" ujar wanita satunya lagi yang Agnes kenal itu adalah Glenda.


"Mbaknya, Mbak yang dulu kan?" tanya Agnes pada Glenda.


"Iya! Dan aku kakak tiri kamu, hari ini kamu harus nikah dengan pacar aku, dan kamu tahu siapa, dia adalah Halim, orang yang kamu tolong dulu, tapi kamu jangan sampai berbicara apapun tentang masa lalu kepada Halim," jawab Glenda.


"T-tapi, Mama jelasin ini kenapa!"


"Sudah Agnes! Mending kamu nurut dan jangan banyak bicara, sebentar lagi kita akan menemui Halim!" bentak Bu Sinta yang membuat Agnes terdiam.


Tak lama kemudian mobil Bu Sinta dan Glenda sampai di depan sebuah rumah, mereka berdua kemudian membawa Agnes tanpa bodyguard masuk ke dalam sana.


Dimana ada Halim, sosok pria yang Agnss tolong dulu sampai akhirnya Agnes harus kehilangan kesempatan sidang skripsi waktu itu.


"Mas, ini yang akan menikah dengan kamu," ujar Glenda berjalan ke arah Halim kemudian memeluknya.


"Dia siapa, Tan?" tanya Halim pada Bu Sinta.


"Anak Tante, udahlah dia adik tirinya Glenda," jawab Bu Sinta.


"Anak kandung Tante, dong?" tanya Halim.


"Sangat disayangkan, Faktanya begitu."


Bertapa hancurnya hati Agnes mendengar semua perkataan ibu kandungnya itu, yang sudah Agnes rindukan selama beberapa tahun ini.


"Nama kamu siapa?" tanya Halim kepada Agnes.


"A-agnes, Mas," jawab Agnes diam tidak berani menatap.


Halim berjalan ke arah Agnes kemudian menarik dagunya. "Kita akan menikah besok, didepan keluarga saya, sah secara agama dan hukum tapi ini agar saya memenuhi syarat harta warisan keluarga saya, jadi kita hanya menikah kontrak selama tiga bulan saja."


"T-tapi-"


"AGNES! NURUT! KAMU MAU DURHAKA SAMA MAMA!" ancam Bu Sinta yang membuat Agnes terdiam.


"I-iya, Mas."


"Dan selama kalian menikah, kalian cuma formalitas yah, karena Mas Halim itu cintanya cuma sama aku yang nyelamatin nyawanya dulu, jadi kamu jangan berlagak seperti istri sebenar nantinya, oke?" Glenda menggandeng tangan Halim.


Penyelamat nyawa? Glenda? Semua pertanyaan itu berkembang dikepala Agnes, padahal faktanya dialah yang harus merelakan sidang skripsinya demi menyelamatkan Halim dan mendonorkan darahnya waktu itu, jadi ini alasan Glenda menyuruhnya diam.


"Hari ini, kamu nginap disini, memastikan kamu gak kabur nanti! Bodyguard bawa dia ke kamar dan kurung dia!"


Bodyguard tersebut mengangguk mendengar perintah Bu Sinta yang langsung membawa Agnes ke sebuah kamar di dalam rumah, sesampainya didalam sana Agnes langsung dimasukkan dan di ambil ponselnya serta dikunci dari luar.


Agnes terdiam sekarang, dia memilih duduk di ranjang dengan tangisan tiada henti. "Ayah! Tolongin Agnes Yah!"


Agnes sekarang merindukan ayahnya, satu-satunya sosok yang selalu menguatkannya, karena ibu yang dia anggap bisa menguatkannya malah ikut menghancurkan dirinya, berasa dijual dan diperlakukan tidak semestinya, Agnes benar-benar ibarat sampah yang bisa dimainkan dan ibarat boneka yang bisa di setting apapun.


Agnes menangis dalam ringkuh membasahi bantal dikamar itu, salah apa dia selama ini, Agnes menghapus air matanya dan meraih tasnya didalam sana ada mukena.


Agnes kemudian berjalan ke kamar mandi didalam kamar itu mengambil wudhu, karena dia tahu sebaik-baiknya tempat untuk mengadu adalah Allah, karena tidak ada yang lebih dekat darimu kecuali Allah.





__ADS_1


__ADS_2