Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 21. Harapan Adalah Keinginan Yang Tertunda


__ADS_3




"Pak Adin?"


Darion yang melihat itu merasa bingung, bagaimana bisa orang itu adalah Adin, padahal dirinya tidak memiliki masalah apapun dengan Adin.


"Pak Adin, kenapa Pak?" tanya Aida.


Dari sekian banyak kosakata bernada pertanyaan yang ingin di ungkapkan oleh Aida, yang keluar dari bibirnya malah pertanyaan itu.


Aida masih sulit mempercayai bahwa orang yang ada dibalik penutup kepala itu adalah Adin, Adin yang dikenal baik dan ramah.


Adin diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan itu, Darion dan Aida sama kagetnya, bahkan Darion kini sedang mengusap wajahnya sendiri karena masih tidak percaya akan apa yang ada dihadapannya.


"Kenapa, Din!?" Darion meraih kedua bahu Adin dan memaksanya untuk berdiri.


Adin meringis pelan karena bahunya masih sakit setelah dipukul oleh Aida, kini Darion mendudukkan Adin di ranjangnya dan bersiap menerima segala jawaban pria ini.


"Kenapa, Din!"

__ADS_1


Adin diam, dia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak ingin menatap Darion, Darion yang sudah kepalang kesal hendak memukul Adin namun tertahan.


Darion mengurungkan niatnya, dia menurunkan tangannya kemudian menghembuskan napas panjang.


"Kenapa tidak jadi? Pukul Ion, pukul!" ujar Adin yang membuat Aida juga menatap ke arahnya.


Akhirnya Adin angkat suara tapi bukan ini yang mereka inginkan melainkan jawaban atas pertanyaan tadi.


"Saya gak tahu Din, kamu ada masalah apa sebenarnya sama saya?"


"Masalah, kamu nanya masalah apa? Kamu masalah terbesarnya Ion!" jawab Adin yang membuat Darion membulatkan mata sempurna. "Jika ada yang harus disalahkan atas masalah yang terjadi, itu adalah kamu."


"Ma-Maksudnya?"


"Apa maksudmu!"


Kali ini Darion benar-benar emosi, dia menggebrak nakas disamping ranjang kemudian menatap dalam Adin.


"Aku bingung kenapa Aida masih memilihmu setelah kau mengecewakannya, padahal ada aku yang siap untuknya, tapi kau? Aku menyesalkan dia memilih pria yang tidak bertanggung jawab!"


"Berhenti berbicara yang tidak penting, Din! Langsung saja ke intinya," jawab Darion yang wajahnya sudah merah padam.


"Kenapa kau tidak tanyakan saja pada Aida," jawab Adin yang membuat Darion melirik Aida.

__ADS_1


Aida yang berdiri tidak jauh darinya hanya diam seribu bahasa, dia menundukkan kepalanya enggan menatap Darion.


"Tanyakan pada Aida, istri yang kau tinggalkan, kau meninggalkannya tanpa kau sadari apa yang terjadi dengannya!"


Mendengar ucapan Adin, membuat Darion semakin mempertanyakan ada apa ini sebenarnya, Darion berjalan ke arah Aida, dia menatap Aida dalam.


Rasanya Aida kehilangan kesempatan untuk menghindar, bagaimana bisa dia menghindar sedang Darion sudah benar-benar full di hadapannya.


"Kau lupa? Saat kau meninggalkannya, dia hamil, dia hamil anakmu brengsek! Tanpa sekalipun kau mengecek keadaannya, dia bekerja menghidupi dirinya sendiri dalam kondisi Hamil sampai dia keguguran dan kehilangan anaknya, dia melewati masa suram itu sendiri, dan kau? Apa yang kau lakukan! Kau bahkan tidak memikirkan kondisinya!"


"Dia berbohong kan?" tanya Darion pada Aida memastikan ucapan Adin kepadanya.


Aida diam, sekali lagi dia hanya diam, bagaimana bisa dia mengutarakan pernyataan dan kondisi begini, padahal dia sudah berjanji untuk tidak mengungkapkan fakta yang ada.


"Aida! Jawab!"


Darion semakin menekan Aida untuk menjawab fakta yang Adin berikan, lantas Aida harus apa sekarang.




__ADS_1


__ADS_2