
•
•
•
Aida berdiri kaku, kata-kata Darion benar-benar masih menusuk dihatinya, tentang pertanyaan yang harus dia jawab sekarang juga.
Air mata Aida memang sudah jatuh sejak tadi, tapi semua disamarkan oleh air hujan malam itu.
Aida membalikkan badannya kemudian berjalan ke arah Darion, Darion masih berdiri didepannya, berdiri dengan badan tegap menanti jawaban dari segala pertanyaannya.
Kini Aida sudah berdiri dihadapan Darion, berdiri dengan mata nanar menatap Darion dalam. "Kak Ion nanya? Apa masih ada nama kak Ion dihati aku?"
"Beberapa tahun lalu Kak Ion menikahiku dan saat itu aku kira hidupku akan membaik, karena aku merasa bahwa hal benar yang pernah aku lakukan adalah saat aku memberikan hatiku kepada Kak Ion, dan bahkan saat kita berpisah dulu, aku masih berpikir peluang bertemu sosok seperti kak Ion itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami," lanjut Aida. "Lantas, haruskah aku menjawab sekarang tentang apakah masih ada nama kak Ion, dihatiku?"
Darion terdiam mendengar itu, Darion hendak meraih tangan Aida namun Aida mengelak.
"Setiap kali melihat kak Ion, aku merasa jatuh cinta lagi, bahkan aku tidak akan pernah membayangkan hidup tanpa Kak Ion dulu, lantas setelah perpisahan kita dulu, dimana kak Ion pergi dan aku harus berusaha menerima keadaan, dan disaat aku menerima keadaan, Kak Ion datang kembali, menerima kak Ion rasanya sama saja dengan menghancurkan perjuanganku menerima keadaan sekian tahun lamanya setelah perpisahan."
__ADS_1
Aida membalikkan badannya, langkah Aida kembali menjauh, Darion benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk kembali kepada Aida, rasanya Darion hanya bisa kembali dengan penyesalannya.
Aida kini sudah menghilang dari hadapan Darion, menyisakan Darion dalam lukanya, penyesalan dan rasa sakit hatinya.
Darion tidak pernah menyesali sebuah pilihan tapi dia menyesali keadaan yang berlaku, apa yang sudah kita lepas tidak begitu mudah untuk kita bawa kembali.
Darion berjalan kembali masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup, hatinya patah berair mata namun dia harus tetap tegas menerima semuanya.
•
Darion terduduk di ruang tamunya dengan menggendong Reza, sedang Babah Arga dan Bunda Gevanya berada di hadapannya.
"Ion, maafkan Babah, kalau Babah tahu begini kejadiannya, Babah tidak akan memaksa kalian dulu," ujar Babah Arga yang membuat Darion membuang wajahnya.
"Tidak ada lagi yang harus disesali Bah, semua sudah terjadi," jawan Darion. "Aku akan pergi dari kota ini, mungkin untuk beberapa tahun ke depan."
"Kemana? Kamu mau bawa Reza?"
Darion mengangguk, dia meraih sebuah kertas dan memberikan kertas itu kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Bunda Gevanya dan Babah Arga membaca kertas itu, itu adalah surat pemindahan praktek Darion, dia harus mengabdi di Kota Makassar sekarang.
Dan kali ini jarak benar-benar akan memudahkannya dengan Aida, dan mau tidak mau Darion harus melakukan itu.
"Apakah kamu tidak mau berjuang dengan Aida kembali?" tanya Babah Arga yang membuat Darion merasakan sesak didada.
Berjuang bagaimana lagi, semuanya sudah terlambat dan tidak ada kesempatan untuk kembali.
Darion bangkit dari duduknya, dia harus menyiapkan hal yang harus dibawa, karena kemungkinan dia di kota itu akan beberapa tahun.
Entah disana dia menemukan cinta baru atau tidak, Darion tidak memastikan kalau yang ada didalam hatinya masih ada Aida.
•
•
•
Hayo Tebak Darion di Makassar bakal ketemu siapa?
__ADS_1