Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 15. Saingan Terberat


__ADS_3

Darion yang masih belum jelas mendengar penjelasan sepihak dari Adin hanya bisa menatap kepergian Adin, tapi bukan Darion namanya kalau dia tidak ingin mencari tahu lebih lanjut.


Darion bangkit dari posisinya kemudian berjalan menyusul Adin yang sudah keluar dari ruangan rawatnya, untungnya Adin masih ada di sekitar sana sehingga Darion bisa mencegatnya.


"Din! Tunggu!" cegat Darion yang membuat Adin membalikkan badan menatapnya.


"Kau mau apalagi hah?" tanya Adin melepaskan tangan Darion yang mencegat tangannya.


"Hamil! Siapa yang hamil?" tanya Darion balik yang membuat Adin mengusap wajahnya penuh penyesalan karena keceplosan tadi.


"Bukan urusanmu!"


Adin berjalan pergi lagi meninggalkan Darion disana, Darion sendiri hanya bisa menatap untuk ke sekian kalinya sembari sesekali menyugar rambutnya karena dipenuhi tanda tanya.


Darion berjalan menuju ruangan rawatnya tapi sebelum masuk ke sana, Darion malah bertemu dengan Aida yang baru mengurus administrasi.


"Kak Ion, kenapa keluar?" tanya Aida yang membuat Darion menatapnya sejenak.


"Tadi saya, habis ketemu dengan Adin, dan dia bilang kalau kamu hamil, dan ah pokoknya semuanya tidak jelas, saya sendiri gak tahu dia ngomong apa?"


Mendengar itu semua membuat Aida mengernyitkan dahi dengan perasaan gugup. "P-Pak Adin?"


Darion beralih mengambil bahu Aida kemudian menatapnya dalam. "Ai, setelah perceraian kita dulu, tidak ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari saya kan?"


Aida terdiam. "Kakak, ngomong apasih, gaada lah."


"Yakin?"


"Gak ada Kak," Aida melepas tangan Darion. "Pak Adinnya mana?"


"Tadi dia keluar dari sini, saya tidak tahu dia kemana."

__ADS_1


Aida segera membantu Darion untuk kembali ke ranjangnya karena kondisi Darion masih belum membaik sepenuhnya.


"Kak Ion disini aja yah, aku mau ngecek kondisi Reza dulu, kasian dia dititipin di tetangga," ujar Aida yang membuat Darion mengangguk.


Aida kemudian mengambil tasnya yang berada di atas nakas kemudian berjalan keluar, sebenarnya dia juga ingin bertemu Adin untuk mempertanyakan hal yang Adin katakan kepada Darion.


Aida berjalan melewati koridor rumah sakit menuju tempat Adin yang kemungkinan besar belum jauh dari sana, dan tepat setelah sampai di lobby rumah sakit, Aida melihat Adin.


"Pak!"


Mendengar suara memanggilnya membuat Adin menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, Aida langsung berjalan ke arah Adin.


"Bapak ngapain disini?"


Adin terdiam sesaat, bingung harus menjawab apa. "S-saya habis jenguk Allan."


"Yakin?"


Aida menghela napas panjang kemudian menatap dalam Adin. "Bapak jujur aja deh, Bapak ngikutin aku terus nemuin Kak Ion kan, terus kakak benerin semua hal tentang aku, aku pernah hamil dan ah sudahlah."


"Saya tidak bermaksud Aida, bukan itu maksud saya, saya tidak sengaja."


Aida menatap sejenak langit-langit rumah sakit sesaat setelah Adin melontarkan kalimat penuh penjelasan yang membuat Aida merasa dia tidak perlu mendengarkan itu semua.


Hening sesaat setelah Adin menjelaskan tentang ini dan Aida dia menatap Adin lebih dalam lagi dengan tatapan penuh intimidasi.


"Bapak tuh sebenarnya, mau apa sih? Kenapa selalu ngelakuin hal tentang aku, kayak ada something sendiri gitu," tanya Aida yang membuat Adin mengusap wajahnya frustrasi.


"Saya cinta sama kamu! Oke!"


"Hah?"

__ADS_1


Aida terdiam sesaat, bola matanya mengembang beberapa bagian yang membuat Aida menghela napas panjang, waktu seakan berhenti diantara mereka berdua saat Adin mengatakan itu.


Bahkan beberapa orang di lobby yang sedang berjalan disana ibarat NPC dalam game sedang Adin dan Aidalah tokoh utamanya.


Aida menatap Adin dalam sekali lagi lebih dalam, masih terkejut dengan kalimat berdurasi singkat penuh pernyataan itu.


"Cinta?"


"Iya Aida! Kamu gak sadar, saya ngelakuin banyak hal, saya perhatian sama kamu, karena apa? Karena saya cinta sama kamu, tapi kenapa kamu gak pernah ngerti perasaan saya?"


Aida kembali terdiam.


"Aku gaada waktu buat cinta Pak, duniaku sekarang adalah fokus dengan tujuan hidupku dan cinta itu gaada dalam list hidup aku."


"Kalau gitu, ayo kita buat list-nya!"


"Bapak maksa sih, Assalamualaikum."


Aida berjalan meninggalkan Adin, Adin terdiam dengan kepala tertunduk, sedang Aida berjalan keluar dari rumah sakit menerima hembusan angin menerpa wajahnya saat langkah kakinya menapak jelas di lantai teras rumah sakit.


"Mungkin sekarang tidak ada di list kamu Aida, tapi saya akan pasti bahwa saya akan membuat list cinta itu di dalam tujuan hidup kamu, dan kamu tahu saya benci kata menyerah, jadi kalau saya belum memiliki kamu, jangan harap orang lain bisa!"


Adin hanya menggumam dalam hati mengutuk diri sendiri dengan janji yang dia akan tepati dan Adin akan melakukan itu walaupun Darion adalah saingan terbesarnya.





Assalamualaikum

__ADS_1


Jangan Lupa Like


__ADS_2