Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 22. Tidak Ada Antagonis Di Kisah Ini


__ADS_3




"Kenapa kau masih mempertanyakan hal itu? Kau pikir bagaimana dia bisa menjadi ibu susu anakmu jika dia tidak pernah hamil," jawab Adin yang membuat Darion membalikkan badannya kepada Adin.


"Dia menjalani suntik hormon, Din!"


"Jangan bodoh Darion, kau itu Dokter, proses suntik hormon tidak secepat itu, dia pernah mengandung dan keguguran yang menjadi pemicu ASI-nya, dan kau sudah tahu anak siapa yang dia kandung kan? Itu anakmu! Jika kau tidak percaya tanya saja Dokter yang menangani suntik hormonnya!"


Mendengar penjelasan Adin, semakin membuat perasaan bimbang di hati Darion membuncah.


Darion kembali menghadapkan badannya kepada Aida, dia menatap Aida dalam. "Apakah itu benar?"


Aida diam, air matanya jatuh perlahan, semua pertanyaan ini benar-benar membuat batin Aida terguncang, perlahan Aida menganggukkan kepala.


Anggukan kepala itu berarti iya atas semua jawaban dari pertanyaan yang diberikan Darion tentang pernyataan Adin kepadanya.


"Tapi kenapa? Kenapa kamu gak bilang ke kakak?" tanya Darion yang membuat Aida mengangkat kepalanya.


Mata Aida sembab mendengar itu, kenapa? Darion masih mempertanyakan kenapa Aida tidak mengatakannya dulu.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kak Ion terbebani perasaan bersalah, apalagi waktu itu kak Ion sudah menikah dengan Kak Agnes, apakah pantas menganggu pernikahan kalian?" jawab Aida.


Rasanya Darion bagai ditampar sembilu mendengar itu, dia tidak menyangka Aida sudah banyak berkorban untuknya selama ini.


Aida meraih tasnya kemudian pergi dari sana melangkahkan kakinya, kini Darion sudah tahu semuanya.


"Aida, tunggu!"


Darion hendak mengejar Aida, tapi Aida sudah jauh melangkahkan kakinya pergi, tak lama kemudian Babah Arga dan Bunda Gevanya datang bersama Reza.


"Aida?" panggil Bunda Gevanya saat Aida melangkah melewatinya.


Bunda Gevanya dan Babah Arga yang melihat Darion di koridor lantas menghampiri mereka.


Darion tidak menjawab, dia menunduk, rasanya begitu penyesalan yang ada didalam hatinya.


"Aida benar-benar pergi rasanya, Ion baru menyadari bahwa dia sama tertekannya dengan Ion, bahkan lebih parah apa yang dia rasakan."


Babah Arga menatap Darion dalam. "Maksudmu Apa!"


"Apa? Ini semua karena keegoisan Babah! Andai saja Babah tidak memaksa Darion untuk menikah dengan Agnes mungkin ini semua tidak akan terjadi, selama ini Darion bertahan namun cinta Ion hanya untuk Aida bukan untuk Agnes, dan ternyata dulu, Aida hamil dan dia keguguran anaknya saat kami bercerai."


Babah Arga terdiam, rasanya dia merasa sangat bersalah, ini semua karena keegoisan di masa lalu.

__ADS_1


"Maafkan Babah, Ion."


Darion tidak menjawab, dia mengambil Reza dari gendongan Bunda Gevanya kemudian berjalan pergi dari sana menggendong anaknya.


"Ion mau kemana?" tanya Bunda Gevanya.


Darion tidak menjawab, dia melangkahkan kakinya pergi dan dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang.


Darion berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan menggendong anaknya, Reza. "Betapa memalukannya Papa kamu ini, Nak, Papa adalah orang yang paling tidak bertanggung jawab."


Reza tertidur dalam gendongan Darion, rencananya Darion ingin pulang saja ke rumah, ternyata ini alasan ketidak ikhlasan dalam hati Aida saat Darion meminta mereka kembali.


Ternyata tidak semudah itu mengulang masa lalu, apalagi masa lalu itu adalah masa lalu yang benar-benar pahit didalam hati kita.


"Maafkan, Papa!" jawab Darion mengecup kening Reza. "Papa rasa kamu bisa mendapatkan sosok ibu bagi kamu, namun rumahnya Papa hanya seorang yang tidak pantas untuk memberikan kamu ibu pengganti."


Darion menyesali banyak hal, ada dua hal yang dia sesali, kepergian Aida dan kecewanya Agnes.


Apakah pantas dia menghadap ke Tuhannya dalam kondisi seperti ini, rasanya Darion ada pria yang baik tapi tidak pantas.



__ADS_1



__ADS_2