
•
•
•
Hari panas seperti biasa, sudah tiga hari berlalu, tidak ada interaksi dari Aida dan Darion, Darion juga sudah mengetahui pekerjaan asli Aida yang seorang General Manager.
Aida sudah berhenti menjadi ibu susu bagi Reza, ada sesuatu yang berbeda dari dalam hati Aida, dia sudah menganggap Reza seperti anaknya sendiri.
Reza yang memang alergi susu sapi dan sejenis makanan lainnya harus meminum susu formala khusus agar tidak memicu alerginya.
Aida kini tengah berkutat dengan laptopnya sebelum seseorang membuka pintu ruangannya dan menatap Aida dalam, itu adalah Adin.
Sejak kejadian itu, Adin sudah seperti biasa tidak lagi memiliki obsesi apapun kepada Aida, dia percaya jika Allah yang berkehendak mungkin bukan jodohnya.
"Sedang sibuk?" tanya Adin di kursi depan Aida dan hanya dibatasi oleh meja.
"Sedikit, Pak, ada apa?" tanya Aida yang membuat Adin menghela napas panjang. "Ada perlu sesuatu?"
"Kamu sudah tahu rencana keberangkatan Darion ke kota lain kan? Dan kamu tahu kota yang dia maksud bahkan bukan di pulau jawa, dia akan ke Sulawesi Aida," jawab Adin yang membuat Aida menutup laptopnya.
__ADS_1
Aida menatap dalam Adin kemudian menganggukkan kepalanya. "Sudah tahu, aku berharap Kak Ion berhasil menemukan cinta sejatinya disana."
"Aku berani taruhan Aida, dia tidak akan menemukan cinta sejatinya disana," jawab Adin yang membuat Aida mendelik.
"Kenapa?"
"Karena cinta sejatinya itu adalah kamu, dia sudah meninggalkan cintanya disini, lantas apa lagi yang akan dia bawa kesana?" jelas Adin yang membuat Aida berdiri.
"Bapak terlalu banyak membaca novel, semua orang berhak move on, dia tidak mungkin larut dalam satu cinta saja," Aida berjalan ke arah rak buku dan mengambil sebuah map. "Itupun berlaku untuk Kak Ion."
"Semuanya berhak untuk move on Aida, tapi tidak semua bisa melakukannya, aku harap dan sangat berharap kalian berdua bisa bersatu."
"Kenapa bapak berkata begitu?"
"Karena Allah sudah menjanjikan jodoh dan ketika sudah jodohnya dari sudut bumi manapun mereka berpisah, mereka akan tetap bertemu," jawab Adin mengambil map yang susah digapai oleh Aida di rak tadi dan memberikannya kepada Aida.
Setelahnya Adin kemudian berjalan meninggalkan Aida diruangannya dan pergi keluar ruangan dengan Aida yang masih terdiam dalam kondisi berdiri.
•
Darion kini sudah memusatkan beberapa hal untuk dia lakukan, dia tengah duduk di sebuah kursi di taman dan menghela napas panjang.
__ADS_1
"Berapa lama, disana?"
Darion menatap orang yang berbicara itu, itu adalah Adin, dia kemudian duduk disamping Darion dan memberikan Darion sebuah minuman kaleng.
"Lima tahun kayaknya," jawab Darion menerima minuman itu. "Aku akan merindukan kota ini."
"Aida?"
"Hah, maksudmu?"
"Kau tidak akan merindukan dia?" tanya Adin yang membuat Darion tertawa pelan. "Dulu kita berebut untuk mendapatkan cintanya kan."
"Tidak ada yang menang," jawab Darion meminum minuman yang diberikan Adin.
"Kau pemenangnya, bro," Adin menatap Darion dalam. "Hanya saja kau belum mendapatkan hadiahmu sekarang."
"Aku hanya berpikir, dia sudah bukan jodohku," jawab Darion yang membuat Adin menepuk punggungnya. "Aku titip dia yah, kalaupun kalian bersama nanti, aku sudah ikhlas."
"Bagaimana bisa aku bersama dengan wanita yang dihatinya masih ada namamu? Jika sampai sekarang saja masih ada namamu dihatinya bagaimana mungkin aku menggantinya," jawab Adin membalas tepukan pundak Darion.
•
__ADS_1
•
•