Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 07. Induksi Laktasi


__ADS_3

"Karena terjadi kecelakaan pada Pak Allan, jadi saya tidak bisa mengajukan izin cuti kepada beliau, jadi saya melampirkan ini saja kepada Pak Adin, selaku perwakilan Pak Allan."


Adin duduk di kursinya sendiri menatap Aida yang melampirkan sebuah kertas, Adin mengambil kertas tersebut. "Apa ini?"


Adin membukanya dan membaca isinya. "Kamu ingin resign?"


"Iya, Pak."


"Tidak bisa Aida, keadaan kantor sedang tidak baik-baik saja apalagi semenjak kecelakaan Kak Allan semalam, kamu sangat dibutuhkan disini."


"Tapi, Pak, saya ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan."


Aida mendelik menatap dalam Adin, Adin terdiam berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kamu tetap bekerja disini, selama Pak Allan gak ada kan saya yang pegang, kamu bisa mengerjakan pekerjaan kamu diluar tapi ketika ada panggilan kantor kamu bisa datang."


Sebenarnya Adin tidak bisa memberlakukan hal seperti ini, tapi alasan utama Adin adalah dia mencintai Aida, Adin tahu Aida adalah seorang janda tapi toh itu hanya status, Adin tidak mempermasalahkan hal itu, dia tetap mencintai Aida.


Tapi Adin tidak ingin mengatakannya karena dia ingin menjadi Fatimah versi pria mungkin, dimana Fatimah lebih memilih mencintai dalam diam, tapi Adin takut ada Pria bersifat Khadijah yang lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Aida.


Aida berpikir sejenak. "Baik, Pak, saya bersedia."


Adin mengangguk.


"Kalau begitu, saya permisi yah, Pak," Aida berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan Adin.


Aida sekarang hanya tinggal menemui Darion, tapi ada satu hal yang membekas di kepala Aida, bagaimana hukum menjadi ibu susu dalam Islam.


Aida harus bertanya pada orang yang tepat, dan Aida memilih bertanya kepada temannya yang seorang ustadzah.


Aida mengambil posisi duduk di kursi yang ada di koridor dan menelepon temannya tersebut, panggilan pertama memang tidak terhubung, namun panggilan kedua membuat Aida tersenyum lega.


"Assalamualaikum," ujar Aida saat panggilan tersebut tersambung.


"Waalakumsalam, Ai, ada apa?"


"Aku mau nanya, hukum seorang Ibu Susu dalam Islam itu boleh gak sih?" tanya Aida guna menghilangkan rasa penasarannya.


Teman Aida terdiam sejenak, seolah memikirkan jawaban yang tepat. "Sah-sah aja."


"Maksudnya?"


"Itu hukumnya, Rada'ah, Ai."


"Rada'ah?"


"Radā‘ah adalah sampainya ASI (Air Susu Ibu) ke perut seorang bayi yang belum berumur dua tahun. Seorang ibu yang menyusui seorang bayi (bukan anaknya) yang belum berumur dua tahun, hubungan di antara keduanya menjadi mahram karena radā‘ah."


Mendengar penjelasan ini membuat Aida bernapas lega, karena setahu Aida, anak Darion baru berusia dua bulan karena terakhir dia hanya mendengar kabar bahwa Agnes melahirkan.

__ADS_1


"Kamu mau jadi Ibu susu?"


"G-Gak, aku cuma nanya aja," jawab Aida gugup.


"Oh, ada yang penting lagi gak?" tanya teman Aida yang membuat Aida menggeleng walaupun tidak bisa dilihat lawan bicaranya.


"Gaada, Makasih yah, Assalamualaikum."


"Waalakumsalam."


Aida mematikan sambungan telepon tersebut, kemudian berjalan menuju parkiran, dia berdiri di depan mobilnya, tidak mungkin dia memakai mobil pribadi ke kediaman Darion.


"Tinggalin ajalah," Aida meraih ponsel di dalam tasnya kemudian memesan taksi online.


Disaat Aida menunggu taksi, ia dikejutkan dengan kehadiran Adin. "Ai, mau kemana? Gak pake mobil kamu."


Aida gugup, dia harus menjawab apa sekarang. "Mobilnya mogok, Pak."


"Yaudah saya anterin," jawab Adin yang membuat Aida segera menggeleng.


"T-tapi, Pak."


"Gausah nolak, ayo ikut saya," ujar Adin tersenyum pada Aida. "Tunggu."


Adin meriah sesuatu diatas kepala Aida, itu adalah daun kering, perlahan Adin mengusap kepala berbalut hijab itu. "Udah bersih."


Untuk Adin ini adalah perlakuan romantis yang dia lakukan, tapi Aida sendiri tidak pernah menyadari hal itu.


Tentu saja adalah alamat rumah Darion, tidak butuh waktu lama untuk kesana, sesampainya disana, Adin langsung mengerutkan keningnya.


"Ini kan rumah Pak Darion, kamu ada keperluan apa?"


"Keperluan bisnis, Pak," jawab Aida berbohong.


"Yaudah saya temenin yah, ini urusan kantor kan?"


"Eh gak usah Pak, aku aja, Bapak balik aja ke kantor gimana."


Adin mendelik menatap Aida. "Okelah kalau begitu."


Aida meraih tasnya kemudian turun dari mobil. "Makasih, yah Pak."


Adin mengangguk. "Perlu saya jemput pulang?"


"G-gak usah, Pak, ini aja udah ngerepotin."


"Yasudah, hati-hati yah," jawab Adin setelah Aida turun dari mobil. "Assalamualaikum."

__ADS_1


Adin menjalankan mobilnya meninggalkan Aida di depan rumah Darion, Aida berjalan masuk ke rumah Darion dan mendapati Darion sudah ada di teras rumahnya.


"Assalamualaikum, Kak Ion?"


"Waalakumsalam, saya kira kamu gak bakal datang, siapa tadi?"


"Tadi?"


Aida bernapas lega, Darion tidak melihat Adin, kalau dia melihatnya pasti penyamaran sebagai Cleaning Service tempo hari akan terbongkar.


"Pacar kamu yah?"


"Gak ah, lagian aku tuh gamau pacaran kak, kalau ada yang serius mah langsung nikah aja, lagian itu hanya membuat kita tidak fokus dan makin jauh dari Allah, lagian yah jodoh mah sudah diatur."


"Kalau kamu tidak pacaran, bagaimana bisa kamu tahu."


Aida tersenyum. "Karena Allah sudah mengatur jodoh kita jauh sebelum kita diciptakan."


Darion tersenyum pada Aida. "Kamu masih sama Aida."


Darion menundukkan kepalanya. "Saya minta maaf atas kejadian dua tahun lalu."


"Sudahlah Kak, biarlah terjadi, mungkin Allah menakdirkan kita dipertemukan bukan untuk bersama."


"Tapi sekarang, kita dipertemukan lagi kan?"


"Tapi apa mungkin hanya sekedar menjadi ibu susu anak Kak Ion?" jawab Aida yang membuat Darion semakin menunduk.


"Masuk, dulu, Reza ada didalam."


Darion berjalan masuk ke dalam rumah di susul Aida, mereka berdua berjalan menuju kamar Reza, Reza adalah anak Darion.


Seorang bayi laki-laki, sakit rasanya Aida melihat Reza seperti ini, seolah dia masih kecil dan sudah ditinggalkan ibunya.


"Tapi Aida, kamu tidak pernah hamil, tapi saya ingin kamu ingin melakukan terapi hormon induksi laktasi, untuk menghasilkan asi."


Aida terdiam sejenak, sebenarnya Aida sudah menghasilkan asi dari dua tahun yang lalu, kenapa karena setelah mereka pisah, Aida ternyata hamil dan harus keguguran di usia kandungan enam bulan, fase terburuk dalam hidup Aida.


Sebenarnya ada penjelasan medis kenapa Aida bisa menghabiskan asi pasca keguguran, Kehamilan ditandai dengan perubahan hormonal dan fisik yang terjadi di dalam tubuh. Kadang-kadang, tubuh dapat mulai menyusui bahkan setelah keguguran , yang dapat mempengaruhi ibu baik secara emosional maupun fisik. Laktasi setelah keguguran disebabkan karena perubahan hormonal dan ketidakseimbangan yang telah terjadi di tubuh wanita.


Tapi karena Aida tidak ingin Darion mengetahui fakta ini, Aida setuju saja toh suntik hormon ini juga bagus untuk ASI-nya nanti bagi Reza.




__ADS_1


Assalamualaikum


Jangan Lupa Like


__ADS_2