
•
•
•
Darion kini tengah berada di bandara, pesawat yang akan membawanya berangkat ke Makassar, aku berangkat sebentar lagi.
Keberangkatan Darion ditemani oleh Babah Arga, Bunda Gevanya dan Adin, tidak ada Aida, padahal Darion berharap ada Aida disini.
"Bunda, titip Reza," ujar Darion memberikan Reza kepada Bunda Gevanya.
Bunda Gevanya kemudian meraih Reza dan menggendongnya, sementara Darion memilih berjalan-jalan disekitar bandara, menikmati udara kota ini mungkin untuk terakhir kalinya, karena dia akan lama di Makassar sana.
Dia tidak tahu sampai kapan, mungkin sampai dia melupakan sakitnya atau tidak.
"Kak Ion."
Suara panggilan itu membuat Darion membalikkan badannya ke arah sumber suara itu dan benar saja, itu adalah Aida.
"Aida?"
Aida berjalan ke arah Darion, kini keduanya berdiri saling berhadapan, sementara Aida harus menegadah sedikit untuk melihat wajah Darion karena Darion lebih tinggi darinya.
"Kakak mau berangkat, sekarang?" tanya Aida yang membuat Darion mengangguk. "Semoga kakak selamat sampai tujuan."
__ADS_1
Darion melirik sesuatu yang disembunyikan Aida di punggungnya. "Itu saja?"
Darion mengangkat alis kanannya, seolah tahu apa maksud dari Darion membuat Aida mengeluarkan benda itu dan itu adalah boneka karakter Winnie The Pooh yang pernah diberikan Darion saat mereka bercerai dulu.
"Titip, jaga dia yah," jawab Aida yang membuat Darion tersenyum.
"Kamu masih nyimpen?" tanya Darion menatap boneka sedangkan Aida mengangguk. "Ada satu kalimat lagi dari boneka ini."
"How lucky i am to save something that makes saying good bye so hard." ucap Darion dan Aida bersamaan.
Betapa beruntungnya aku, memiliki sesuatu hal yang membuat mengucapkan selamat tinggal itu begitu berat, begitulah kalimat dari boneka itu.
Rasanya Aida dan Darion saling menunduk sekarang, diterpa alasan yang apa yang membuat mereka berat berpisah tapi takdirnya mereka akan segera berpisah.
"Kak Ion juga ingat, semoga kak Ion disana bisa menemukan cinta baru," jawab Aida.
"Berat, berusaha mencintai kehilangan seolah mencintai kehadiran," jawab Darion.
"Semua sudah takdir Kak," Aida tersenyum pada Darion. "Jika suatu saat aku akan menikah dengan pria lain, akan kuberi nama Darion."
Darion tertawa. "Kenapa?"
"Mengabadikan bahwa ada seorang pria bernama Darion yang pernah mengisi hatiku," jawab Aida juga tertawa.
"Kakak juga, jika Reza sudah besar kakak akan menjelaskan kepadanya, bahwa carilah wanita seperti Aida, karena dia bisa melebihi apa yang kau ekspestasikan," timpal Darion.
__ADS_1
"Ekspestasi?" komentar Aida. "Selamat jalan, Kak Ion."
"Sampai jumpa Aida, semoga setelah bertemu nanti kita akan dalam kondisi sama-sama sudah bahagia," jawab Darion.
Darion kemudian kembali ke ruang tunggu bandara, karena cs bandara sudah mengabarkan bahwa pesawat Darion akan berangkat sebentar lagi.
Aida menatap punggung Darion menjauh darinya, Darion sejenak membalikkan badannya menatap Aida kemudian tersenyum.
Aida dan Darion bertepuk tangan, rasanya sudah selesai sandiwara ini, dan Aida dia membalikkan badannya juga pergi dari sana.
Dalam keadaan tersenyum dan berlinang air mata, Aida tidak menyangka bahwa dia yang pernah dia doakan secara serius kini harus dia ikhlaskan secara tulus.
Allah punya jalan terbaik untuknya dan Aida percaya, skenario Allah tidaklah pernah salah, Aida juga yakin, jika mereka berjodoh, dari sudut bumi manapun pasti mereka akan bertemu kembali.
"Aku mencintaimu, Kak Ion, dari dulu dan sampai sekarang masih sama," bisik Aida didalam hatinya.
•
•
•
Jangan lupa like
Komennya tembus 100 baru up lagi yah ahahahaha 50 aja deh mau spam komenpun boleh :)
__ADS_1
Biar semangat~