Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 29. Halusinasi Ini Durasinya Berlebihan


__ADS_3




"Ah! Hanya ilusi," bisik Aida pada dirinya sendiri.


Kenapa? Karena dari dirinya sendiri saat dia membalikkan badan tidak ada seorangpun disana, Makam ini sepi, dia hanya merindukan Reza, sampai dia sendiri memimpikan bahwa Reza ada disini.


Aida bangkit dari posisinya, dia sudah selesai dengan ini, dia ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya, namun dia tidak sempat karena makam kedua ornag tuanya terletak cukup jauh dan hari sudah mulai malam untuk ke komplek pemakaman yang berbeda dari sini.


Aida melangkahkan kakinya keluar, menuju gerbang pemakaman, bunga Kamboja yang jatuh diterbangkan angin saat Aida berjalan melewati semuanya.


Sesampainya di depan mobil Aida kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya meninggalkan area pemakaman ini.


Aida berpikir, dia bukan tidak ingin menerima Darion, tapi kata hatinya yang membuat egonya semakin tinggi.


Aida ingin segera sampai ke apartemen, karena besok dia akan berangkat menuju tempat liburannya, tiga hari bebas adalah hal yang di impikan Aida.



Aida berada di apartemennya, dia melepas mukenanya saat sudah melaksanakan sholat isya.


Aida duduk sejenak diatas sajadah, karena merasakan bahwa ada sesuatu yang masih belum dia ikhlaskan.


Dan dia berat mengatakannya bahwa itu ADALAH kepergian Darion.

__ADS_1


Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar yang membuat Aida bangkit dari duduknya dan dalam kondisi masih memakai mukena dia berjalan membuka pintu apartemen.


"Assalamualaikum, ganggu yah?" tanya seseorang saat Aida membuka pintu. "Kamu habis sholat?"


"Pak Adin, ada.apa Pak?" tanya Aida yang membuat Adin mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Aku disini aja yah, gak enak rasanya, pria masuk ke dalam apartemen yang bukan muhrimnya, ini ada laporan yang sudah selesai, kamu cek aja ini, ya hanya perlu di presentasikan nanti, tidak usah terlalu dipikirkan, urusan pekerjaan ini, kamu kerjakan ketika pulang liburan aja," jawab Adin memberikan map kepada Aida.


"Kamu habis nangis?"


"Gak."


"Bohong, mata kamu sembab." jawab Darion. "Mikirin siapa?"


"Gaada."


"Darion yah, jujur aja Aida," jawab Adin seketika membuat Aida terdiam.


"Kenapa kamu berani bertaruh begitu?" tanya Adin.


"Karena aku rasa itu tidak mungkin, sudah lima tahun lamanya, dan perasaan cinta kak Ion Mungkin sudah hilang."


Adin mengangguk, dia memberikan map yang dia pegang kepada Aida. "Aku berharap Darion datang dan mengatakan cinta sekali lagi."


Aida menerima map tersebut kemudian membacanya sejenak, setelahnya Adin memilih pamit karena hari sudah malam, Aidapun masuk ke dalam apartemen dan membereskan sajadahnya dan bersiap untuk tidur.


__ADS_1


Aida sudah menyiapkan barang-barang yang akan dia bawa menuju luar kota untuk sekedar liburan, kini dia sudah berada di bandara menunggu pesawat yang akan membawanya pergi.


Ia melihat banyak penumpang pesawat yang juga datang ke kota ini, ada yang datang dan ada yang pergi.


Aida duduk di kursi tunggu menanti jadwal keberangkatannya yang kurang setengah jam lagi.


Disaat Aida menunggu, ada sebuah tangan yang menariknya, itu tangan kecil yang sama, dan dia bisa melihat jelas wajahnya.


Anak kecil dengan wajah yang mirip Darion, ini pasti halusinasi Aida saja sama seperti kemarin, jadi dia mengabaikannya.


"Papa Ion, ini Mamanya sudah ketemu," Aida mendelik kenapa halusinasi kali ini durasinya sangat lama.


Tak lama kemudian hadir seorang pria dewasa, wajah dari lima tahun lalu yang tidak berubah, membawa sebuah koper ditangannya.


"Assalamualaikum, Aida, lama tidak bertemu," Aida mengangkat kepala.


"K-Kak Ion?"


Aida rasa, Halusinasi kali ini lumayan berlebihan kecuali ini adalah kenyataan.


"Mama mau kemana? Reza ikut?"


"Hah?" Aida kembali mendelik diam. "Apa ini?"



__ADS_1



Assalamualaikum


__ADS_2