
"Kak Ion, bercanda ah, udah yuk pulang, kasian Reza kalau ditinggal kelamaan sama Babysitternya," Aida berdiri dan berjalan mendahului Darion.
Darion hanya terhenyak, Aida rupanya sudah melupakan hal dia dan Darion pernah lakukan dulu, tapi faktanya tidak seperti itu, Aida hanya menghargai kehadiran Darion dan Almarhumah Agnes.
Sangat tidak etis rasanya jika Darion mengungkapkan hal dimana ia baru saja kehilangan istrinya, kecuali selama pernikahannya dengan Agnes, yang ada didalam hati Darion adalah Aida.
Masa bodo dengan semua itu, Aida harus sadar apa tujuannya kesini, dia hanya ingin menjadi ibu susu untuk Reza, tidak lebih dan tidak kurang.
"Aida tunggu, kamu belum menjawab pertanyaan saya," Darion berlari menyusul Aida.
"Pertanyaan yang mana kak?" Aida berhenti dan menatap Darion.
"Tentang hal yang membuat saya selalu memikirkan kamu."
"Kakak tuh gak memikirkan aku, ada satu hal yang perlu kakak tahu, kakak baru kehilangan istri kakak dan kakak ketemu sama aku, jadi hati kakak seolah kakak mikirin aku padahal pada dasarnya kakak cuma cari pelampiasan dari rasa gelisah kan?"
Deg!
Darion skakmat, apakah benar yang Aida katakan, tapi firasat dan hati Darion berkata lain tentang hal itu.
Darion berdiri dan berjalan menyusul Aida, Darion belum sempat menanyakan bagaimana hasil suntik hormon tadi.
"Loh, Aida."
Deg! Aida tertegun sudah, bagaimana bisa Adin ada disini, bertepatan dengan dia yang bersama Darion.
"P-Pak Adin?"
"Aida kamu ngapain disini, eh Pak Darion, Pak Darion juga disini."
Darion ingin menjawab tapi Aida langsung menarik tangan Adin pergi dari sana, Darion mengernyitkan kening ada apa sebenarnya.
Sesampainya ditempat yang lumayan aman, Aida langsung melepas tangan Adin. "M-Maaf Pak, aku pegang tadi."
"Gapapa, kamu ngapain disini?"
"Ehm, itu anu, Bapak sendiri ngapain?"
"Saya habis jengukin kak Allan, ini baru mau pulang, mau sekalian?" Adin tersenyum kepada Aida.
"Eh, gak usah Pak, aku pulangnya sama Pak Ion aja, gak enak lagian kesininya sama Pak Ion," jawab Aida yang membuat Adin menganggukkan kepalanya.
"Oke kalau gitu, saya temuin Pak Darion dulu," Adin hendak melangkah kembali ke tempat Darion tadi tapi Aida langsung menghadangnya.
"G-gak usah, Pasti Pak Adin capek banget habis kerja terus ke rumah sakit, mending Pak Adin istirahat aja dirumah, gimana?" Aida memberi saran membuat Adin berpikir sejenak.
__ADS_1
"Okelah kalau begitu, kamu tahu aja saya lagi capek," jawab Adin. "Aida tunggu, saya pengen kasih kamu ini."
"Apa ini?" tanya Aida mengambil sebuah kotak berwarna hitam itu. "Ini kan cincin, buat apa Pak?"
"Gapapa, kamu simpan aja," Adin senyum-senyum sendiri melihat Aida.
"Ini mahal, gak mau ah Pak," Aida mengembalikan kotak tersebut tapi Adin segera menahannya. "Ambil aja. Itu ada suratnya juga."
"Surat?" Aida melihat sepucuk kertas di dalam sana, dia mengambilnya. "I Have Crush On You?"
Sudah tidak terselamatkan Adin rasanya ingin segera mengungkapkan perasaannya.
"Oh jadi mereknya I Have Crush On You, sama kayak Drakor yah Pak, Crash Lending On You."
"Hah?" Adin menatap Aida serius.
"Yaudah Pak, aku balik dulu yah, Tapi aku gak butuh cincinnya, mending kasih aja buat orang yang Bapak suka," Aida mengembalikan kotak itu tapi tidak ditahan lagi.
Adin yang melihat itu hanya terdiam karena Aida sudah menghilang dari hadapannya.
"Yang saya suka kan kamu," gumam Adin patah hati.
Aida sendiri yang tidak peka langsung kembali ke Darion yang sudah menunggunya. "Aida, darimana aja, Loh Adin-nya, mana?"
"P-Pak Adin pamit duluan katanya, dia nitip salam."
Aduh! Aida bingung, penyamarannya kali ini bisa berantakan dihadapan dua pria ini.
"Dia Boss aku di Perusahaan Pak Allan kan, kan Pak Adin Presdirnya, Pak Allan CeoNya, yah aku Cleaning Service-nya."
Darion hanya menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya dia masih ragu, ada hubungan apa Aida dan Adin.
•
•
•
Darion baru saja pulang dari rumah sakit, sudah satu Minggu lebih Aida menjadi ibu susu untuk Reza, anaknya.
Darion sendiri merupakan seorang Dokter Onkologi yang menangani penyakit kanker.
Di sepanjang perjalanan pulang, dia sempat bercerita kepada Adin, bagaimana caranya dia bisa mengungkapkan perasaan pada seseorang.
Adin memberikan saran bahwa Darion harus memberi orang yang dia maksud kode, Darion memikirkan saran ini, walaupun Adin dan Darion tahu mereka mencintai satu wanita yang sama.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Darion langsung masuk saja, jam masih jam empat sore, harusnya Aida pulang jam delapan malam setelah Reza tertidur.
Jika tengah malam Reza ingin susu, Aida selalu menyediakan ASI yang dia perah sebelumnya dan menaruhnya di kulkas, jadi Darion tinggal menghangatkannya saja.
Sebenarnya agak ribet, harusnya Reza bisa memakai susu Formula, sayang Reza alergi pada Susu sapi dan produk susu yang mengandung minyak ikan.
Darion menatap Aida yang ada di ruang tamu, dia sedang memainkan ponselnya.
"Kamu kepikiran ngelakuin hal yang seru gak sih, terlepas dari rutinitas kamu, sebagai Ibu Susu anak saya tentunya?" Darion duduk disamping Aida yang sedang memainkan ponselnya.
Aida melirik Darion, kemudian menaruh ponsel dengan case costum tokoh karakter Marvel "Thor" itu.
"Ngapain? Main monopoli, ayok, aku juga lagi bosen," jawab Aida yang membuat Darion mengerutkan keningnya.
"B-bukan permainan yang seru begitu, maksud saya itu menjalin hubungan dengan seseorang gitu," jawab Darion yang membuat Aida berpikir sejenak.
"Yaudah kalau kak Ion maunya begitu, kita main Game Stumble Guys, aja, menjalin hubungan satu sama lain kan?"
"Saya berpikir tentang hal yang lebih dewasa sih Aida."
"Oke yaudah, bentar kita main saham aja, Kak."
Darion frustasi sudah, segala kode-kodenya sama sekali tidak mempan.
Perbincangan itu harus berakhir ketika Aida mendengar suara Reza yang menangis, Aida langsung berlari menuju kamar untuk menyusui Reza, sedangkan Darion malah terdiam di ruang tamu.
Darion Frustrasi, Aida adalah wanita mandiri yang tidak gampang terkena kodean, jadi rasanya percuma memberi kode tertentu pada Aida.
Lebih baik to the point bukan, tapi Darion sama saja dengan Adin, mereka berdua ingin menjadi Fatimah versi lelaki yang memendam cintanya dalam diam.
Entah siapa yang akan menjadi Khadijah versi lelaki yang akan mengungkapkan isi hatinya terlebih dahulu nantinya.
Sedangkan Aida, dia tidak sadar bahwa dirinya sedang di beri banyak kode oleh dua pria tampan, berpendidikan, berpekerjaan tinggi dan mencintainya.
Lagipula Prioritas Aida sekarang adalah Reza, dia tidak punya waktu untuk bermain dengan cinta, karena Aida memegang satu prinsip, siapapun jodohnya itu yang Allah pilihkan untuknya.
Aida mau kok dijodohkan, asal bukan dengan manusia tapi Allah yang menjodohkan.
•
•
•
Assalamualaikum
__ADS_1
Jangan Lupa Like
Dan Komen yah