
•
•
•
Setelah membaca doa setelah sholat, tidak ada percakapan diantara Darion dan Aida, Darion kemudian membalikkan badannya menatap Aida dalam kondisi duduk.
"Bagaimana dengan Reza, Aida?" tanya Darion melepas peci dikepalanya. "Siapa yang menjaganya selagi kamu disini?"
"Reza sedang menginap di rumah Bunda Gevanya, tadi sore, Bunda Gevanya datang lagi dan diminta oleh Babah Adam untuk mengajak Gibran menginap di rumah Bunda dan Babah," jawab Aida sembari melepas mukenanya.
Aida memakai hijab lagi didalam mukenanya sehingga Darion tidak bisa melihat auratnya.
"Aida, Kakak pengen ngobrol sesuatu dengan kamu," ujar Darion yang membuat Aida menatap Darion. "Menurut kamu, Reza sudah perlu sosok ibu atau tidak."
"Kenapa kakak nanya begitu?"
"Kakak hanya meminta pendapat kamu," jawab Darion pada mantan istrinya itu, Aida melipat sajadahnya kemudian menatap Darion dalam.
"Kalau kakak nanya pendapatku, yah pendapatku jawabannya ada pada hati kakak sendiri," jawab Aida berdiri dan mengambil tasnya di atas meja.
Dalam kondisi membelakangi Darion, Aida
Tampak gugup, dia tahu kemana arah pembicaraan ini dan Aida sudah menyiapkan jawabannya.
"Kalau kamu, apakah kamu mau menjadi ibu untuk Gibran?" jawab Darion pada Aida.
__ADS_1
Yah, Aida sudah menebak ini sebelumnya dan masih sama, jawaban Aida tetap. "Sekarang, aku gak ada prioritas lain untuk menikah kak."
"Lantas, kenapa kamu memperlakukan kakak seolah kamu memberi harapan bahwa kakak dan kamu bisa kembali seperti dulu lagi?" tanya Darion yang membuat Aida diam.
Benar, kenapa dia harus bersikap seolah dia masih istri Darion Jika faktanya mereka sudah tidak terikat apapun.
"Aku begini gak cuma sama kakak aja, dan demi Gibran," jawab Aida.
"Yakin hanya untuk Gibran?"
Lantas Aida harus apa sekarang, haruskah dia kembali membohongi perasaannya, dia mencintai Darion tapi kejadian bertahun lalu masih berbekas dihati Aida.
Walaupun posisinya Aida yang ikhlas tapi tidak ada ikhlas yang benar-benar ikhlas di hati Aida, dan terkadang Aida masih mempertanyakan dia sudah benar ikhlas atau tidak sekarang.
"Yakin, kakak boleh menginginkan kisah cinta kita terulang kembali, tapi untuk saat ini rasanya kurang worth it untuk membahas perasaan, terlebih dari semua kejadian ini, aku hanya berusaha menjadi ibu susu yang baik."
Entah kenapa sebesar apapun penyesalan Darion kepadanya, dia seperti tidak punya alasan yang kuat untuk kembali seperti dulu.
•
Darion kini duduk di ranjangnya, setelah kejadian tadi, dia tidak melakukan apapun, dia hanya diam dan sudah setengah jam Aida pergi.
Apakah salah jika Darion berulang kali mengutarakan perasaannya namun berulang kali ditolak, apakah ini karma setelah dia melepaskan Aida dulu?
Apa yang terjadi dan pergulatan batin apa yang sedang Darion rasakan sekarang.
Didalam heningnya, tiba-tiba saja, Darion menangkap sosok pria berpakaian hitam masuk ke dalam ruangannya yang membuat Darion menajamkan pandangan.
__ADS_1
"Siapa kamu!" tanya Darion pada pria itu.
Pria itu tidak menjawab, dia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, yah itu sebuah pisau, dia menodongkan pisau itu kepada Darion.
Darion diam, jelas ini semua adalah niat pembunuhan berencana, Darion berjalan mundur sedikit, dia kemudian mengambil ancang-ancang.
BRUG!
Darion memberikan bogeman mentah kepada wajah pria itu yang membuat pria itu mendengus kesal, Darion sebenarnya masih bisa melawan tapi dadanya kembali sesak yang membuat dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Darion sudah pasrah, pria itu kemudian hendak menikam Darion sampai akhirnya ..
BRAK!
Pria itu jatuh ke lantai dengan keadaan kesakitan, karena Aida datang dan memukulnya dengan kayu yang entah dia dapat darimana.
"Kak Ion! Kak Ion gapapa?"
Darion mengangguk, dia kemudian berjalan ke pria yang sedang kesakitan itu dan mendorong pisaunya menjauh. "Gapapa, Aida."
Darion beralih membuka penutup kepala pria itu saat terbuka, Aida benar-benar dibuat terkejut.
"Pak Adin?"
•
•
__ADS_1
•