Mengasuh Anak Mantan Suamiku

Mengasuh Anak Mantan Suamiku
BAB 23. Still Loving You, Maybe?


__ADS_3




Darion kini berada di rumahnya, dengan menumpangi Taksi, dia menggendong Reza masuk ke dalam rumah, rumah sudah terang, dia berpikir Aida sudah menyalakan lampu sebelum dia pergi.


"Assalamualaikum," ucap Darion membuka pintu rumah, walaupun tidak ada siapapun disana, dia ingin mengucapkan salam saja.


Darion menatap seisi rumah, benar, tidak siapapun disini, Darion rasanya lelah sekali, dia pergi dari rumah sakit secara mendadak, ditambah kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya membaik.


"Maafin Papa Ion yah Reza, sepertinya Papa yang akan menjadi Papa sekaligus Mama buat kamu," ujar Darion duduk di sofa.


Disamping sofa ada box bayi milik Reza, mungkin lupa dimasukkan kedalam kamar, Darion menaruh Reza disana dan duduk di sofa.


"Maafkan kakak, Aida," bisik Darion pada hatinya sendiri.


Kini sudah nasibnya menjadi duda anak satu tanpa seorang istri, sudah dua wanita yang dia kecewakan, dan penyesalan seorang suami yang dia rasakan sekarang rasanya sudah tidak berguna.


Darion melirik sebuah buku diatas meja, itu adalah buku diary Agnes yang Aida baca tadi, dan Aida lupa mengembalikannya.


Darion membuka buku itu, membaca apa yang dibaca Aida, betapa terlukanya hatinya, ternyata Agnes juga sama tersiksanya, intinya mereka bertiga adalah korban dari skenario yang ada.


Darion menaruh kembali buku itu, air matanya jatuh, ibarat kata luka sudah tidak berarti dan pilu sudah terjadi, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.


Perlahan Darion tertidur di sana, entah kenapa dia sudah sangat lelah dengan semua ini, jika tidak berpikir Reza, lebih baik dia mati saja.

__ADS_1



Aida kini berada di depan rumah Darion, bukan Darion yang membawanya kesini tapi Reza, entah kenapa dia punya firasat tidak enak dan sesampainya disana, Aida langsung mengintip dari jendela.


Reza tengah menangis dan Darion tidur disofa, mungkin Reza kelaparan dan Darion tidak mendengarnya, Aida mencoba membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.


Sudah jam sepuluh malam, Aida masuk ke dalam sana dan menggendong Reza, benar, Reza sedang kelaparan.


"Maafkan Tante yah, Tante telat datang," bisik Aida menyusui Reza.


Reza kemudian menyusu kepada Aida sembari sesekali Aida menimang-nimangnya, terdengar suara kilat diluar sana yang merupakan pertanda bahwa akan hujan.


Memang saat Aida kesini, langit malam begitu pekat, tidak ada bulan dan bintang karena awan hitam.


Setelah cukup lama menyusu, Reza kemudian tenang, Aida menaruh Reza di box bayi dan hendak pergi dari sana, Aida akan berpikiran untuk menerobos hujan saja karena dirumah Darion lebih lama itu bukanlah pilihan.


Aida membalikkan badannya dan Darion sudah terbangun, Aida kemudian berlari keluar, dia tidak memikirkan apapun lagi, kondisi hujan.


Aida kini berada di halaman rumah Darion, basah dengan hujan, langkahnya terhenti karena Darion menahan tangannya.


"Saya hanya butuh satu jawaban atas semua ini, kenapa kamu menutupi hal ini?" tanya Darion.


Aida membalikkan badannya, dia menatap Darion, kini keduanya sama basahnya, bahkan hujan semakin deras seakan mengiring insiden pertemuan keduanya.


"Aku sudah menjawabnya, kak, aku rasa aku ingin lupain semua kejadian ini, hubungan kita, masa lalu kita, aku ingin lupa," jawab Aida mengusap wajahnya.


Darion menatap Aida dalam, Aida melepas pegangan tangan Darion kepadanya, sedang Darion masih berdiri didepannya. "Kamu boleh lupa, kamu boleh untuk sengaja melupakannya, silakan, Kakak gak akan bisa memaksa kamu untuk terus bertahan, Aida."

__ADS_1


"Aku gak tahu kak Ion, rasanya tuh aku pengen nangis aja, aku sekarang aja lagi nangis, aku pengen lupain semuanya dan menjalani hidup baru yang lebih baik, untuk apa aku berada di dimensi antara masa lalu dan masa sekarang, dan untuk kembali ke Kak Ion, aku belum punya alasan yang kuat." Rasanya air hujan sudah menyamarkan air mata Aida.


"LUPAKAN AIDA! LUPAKAN SEMUA, TAPI KAKAK MINTA, Jangan lupakan kakak."


Kedua manik mata itu saling bertemu, sekali lagi dan untuk kesekian kalinya, alasan Aida hanya satu. "Maaf kak, untuk mengingat kakak dan kisah kita aja, aku gak punya alasan yang jelas."


Aida membalikkan badannya dan melangkah pergi dari sana, Darion hanya berdiri menatapnya dalam, dan Aida, dia hanya bisa berjalan meninggalkan Darion ditengah rinai hujan.


"Kamu ingat boneka yang kakak berikan kepada kamu dulu setelah kata Talak itu keluar."


Aida menghentikan langkahnya, Aida jelas mengingatnya itu adalah boneka adaptasi karakter Winnie The Pooh.


Aida masih membelakangi Darion tapi langkahnya masih terhenti.


"Kamu masih ingat kalimat dari karakter boneka itu kan?"


Jelas, Aida mengingat semuanya, kalimat boneka itu adalah. "If one day comes that we can't be together anymore, keep me in your heart. I will be there forever." Yah, Jika kelak datang sebuah hari yang membuat kita tidak bisa bersama-sama lagi, simpan aku di hatimu. Aku akan berada di situ selamanya.


Aida terdiam, Darion masih disana, Darion juga diam sejenak sebelum kembali berkata. "Dan kamu bilang kan, Kak Ion akan selalu ada dihati kamu, dan kata kamu cinta itu tidak dieja tapi dirasakan."


"Kakak harap, masih ada kakak didalam hati kamu."




__ADS_1


__ADS_2