
Aida kini duduk di bangku koridor rumah sakit, kebetulan Darion adalah seorang dokter disana jadi Aida mudah untuk mendapat pelayanan dari Dokter spesialis hormon karena Dokter yang menangani Aida adalah teman Darion sendiri.
Kini Aida tengah duduk didepan Dokter tersebut setelah pemeriksaan, Aida menatap gelisah sementara Darion ada diluar.
"Maaf, saya ingin bertanya, apakah sebelumnya Mbak Aida, pernah mengalami keguguran?"
Aida terdiam, rasanya begitu berat mengingat masa-masa itu.
"P-pernah Dok."
"Pantas, Bu Aida sebenarnya sudah bisa memproduksi ASI tanpa induksi laktasi, tapi karena Mbak Aida ingin menjadi ibu susu dan meningkatkan hormon tubuh maka tidak apa-apa."
Dokter tersebut memberikan sebuah hasil pemeriksaan kepada Aida, karena sebelumnya Aida sudah melakukan suntik hormon sebelum berbicara dengan Dokter ini.
Sebelum Aida pergi, Aida memegang tangan Dokter wanita tersebut dan menatapnya dalam.
"Dok, saya bisa minta tolong sesuatu, tolong jangan beritahu siapapun kalau saya pernah keguguran."
"Loh, kenapa Mbak Aida?"
Aida terdiam, ia menunduk, mengingatkan kembali dimana dia keguguran di usia kandungan menginjak tujuh bulan bahkan hampir delapan bulan, jika kemarin dia mengatakan usia kandungannya enam bulan, Aida salah perhitungan.
Aida tahu Darion juga berhak tahu bahwa Aida pernah hamil dengan usia kandungan yang lumayan besar, ditambah saat itu Aida harys dikurek dan menjalani perawatan medis yang sangat rawan.
Seorang diri, tanpa suami, tanpa Darion dan tanpa keluarga, Aida sebatang kara saat itu, hidup miskin tanpa apapun, anak yang dia pikir akan menemaninya malah meninggalkannya sebelum terlahir di dunia.
Jelas Aida keguguran saat itu, dia harus menjalani pekerjaan berat sebagai buruh cuci piring karena tidak ada kantor yang menerima ibu hamil, setinggi apapun pendidikan Aida.
Maka dari itu Aida yang butuh makan terpaksa mengabdikan dirinya sebagai seorang buruh cuci piring.
Aida tidak menyalahkan Darion, dia tidak pula menyalahkan Allah atas nasibnya, dia hanya berpikir bahwa semua yang dia alami sudah diatur seisinya.
Dan setelahnya Aida bisa memperbaiki ekonominya dengan sekarang menjabat sebagai General Manager.
"Mbak?"
__ADS_1
Aida terhenyak dari lamunannya sendiri karena flashback masa lalunya.
"Memang kenapa, Mbak?"
Aida menatap Dokter tersebut. "Saya ada alasan tersendiri, Dok."
"Baiklah, saya hargai keputusan Bu Aida, l" Dokter itu tersenyum.
Aida berjalan keluar dari ruangan dokter tersebut dan menuju koridor tidak ada Darion, Aida memilih duduk di kursi tunggu.
Aida henyak dalam pikirannya kali ini, dia sudah membohongi banyak pihak sekarang.
"Setelah perpisahan kita waktu itu, saya belajar banyak hal tentang kehidupan dan memperjuangkan."
Entah darimana datangnya, Darion kini sudah ada disana dan duduk disamping Aida.
Aida menatap Darion yang tengah duduk disampingnya. "Maksud, Kak Ion?"
"Saya menyesali, karena saya tidak bisa memperjuangkan kamu waktu itu," jawab Darion yang membuat Aida tersenyum.
"Andaikan Kak Ion memperjuangkan ku waktu itu, mungkin kita gak akan disini sekarang, lagipula sedari awal harusnya aku bisa menerima bahwa aku, tidak bisa mengharapkan orang lain mengubahku dari gelandangan menjadi bidadari."
"Aku bisa melakukan itu sendiri," jawab Aida yang membuat Darion kembali mengulas senyum, Aida meraih tasnya dan mengambil sesuatu. "Kak Ion, ingat boneka ini?"
"Betapa beruntungnya saya, karena saya memiliki alasan besar untuk tidak meninggalkan semua ini, begitu kan kalimat bonekanya?" Darion meraih boneka Winnie The Pooh itu.
Darion ingat, dia pernah memberikan boneka ini kepada Aida dulu.
#Flashback On.
"Nih!"
Aida menatap sebuah boneka yang disodorkan Darion kepadanya, sebuah boneka karakter kartun terkenal yang mengadaptasi karakter beruang madu Winnie The Pooh.
"Makasih kak," Aida meraih boneka tersebut kemudian mendekapnya.
__ADS_1
Darion mengulas senyum pahit. "Kamu tahu gak kalimat dari karakter boneka itu?"
"Tahu, How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard" jawab Aida yang membuat Darion memberikan jempolnya. "Kalau ada sesuatu yang membuat Kak lon sulit berpisah, kenapa kita harus berpisah."
"Itukan Maksud Kak Darion?"
"Kamu tulus Aida"
"Aku tahu, orang tulus gak akan mencoba dua kali tapi berkali-kali, tetep aja hati Kak lon sulit digapai, dan Kak Ion harus menikahi Agnes."' Aida memandang lurus ke depan.
Mendengar itu membuat Darion berdiri dan
menjulurkan tangannya kepada Aida.
"Kondisinya berbeda saat ini kita harus berpisah, kau bisa mendapatkan pria lain disana."
"Tapi aku gak mau pisah sebenarnya kak, aku gamau buat kakak jadi anak durhaka karena mempertahankan pernikahan kita." Aida meraih tangan Darion sehingga membuat Darion langsung menariknya.
"Seenggaknya saya pamit," Darion tersenyum. "Kamu tahu kan? The most painful goodbyes are the ones that are never said and never explained"
#Flashback Off
"Kak Ion tahu alasannya sekarang?"
"Saya selalu head to head dengan Allah, setiap saya melakukan sholat, dan kamu tahu siapa yang saya diskusikan lewat hati ke hati?"
Aida mengangkat bahunya pelan.
"Kamu, Aida."
Aida terdiam.
•
•
__ADS_1
•
Assalamualaikum jangan Lupa Like