
"Sepertinya akan turun hujan" ujar Reya melihat ke atas, terdapat awan mendung yang mulai menyelimuti langit sore itu.
"Le, kamu angkat jemuran sana" perintah Lek Yayuk, Tole menghela nafas lelah saat di lerintah ibunya.
"Aku lagi" keluh Tole sambil beranjak dari atas dipan ke arah jemuran baju.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu" ujar Reya yang akan beranjak dari tempat duduknya.
"Gak nanti aja, hujannya juga belum turun. Lagian dirumahmu ada Ratih lo, takutnya nanti dia berbuat macam - macam ke Mbak Reya" tegur Mbah Nem yang kawatir dengan keselaman Reya.
"Gak apa - apa Mbah, tenang aja" ujar Reya yang sudah mulai berjalan meninggalkan mereka sambil membawa kresek yang berisi ikan dan tas kain yang berisi toples dan botol minuman.
"Moga ae Mbak Reya gak di apak - apak ne karo Ratih ya" harap Mbah Nem.
"Iya Mbah, semoga Ratih gak berbuat nekat" sambung Lek Yayuk.
Reya berjalan perlahan menuju Rumahnya, dia sudah siap menghadapi Ratih. Jika Ratih berbuat kasar kepadanya, akan dia balas juga. Reya sudah membawa tongkat perlindungan diri yang ada di sakunya.
Sejak kecil, Reya sudah di ajarkan oleh orang tuanga untuk selalu membawa tongkat perlindungan diri. Dia juga belajar taekwondo sejak dini, untuk pertahanan diri. Makanya, Reya berani untuk menghadapi Ratih dan ajudannya.
Dari kejauhan, Reya seperti melihat Juragan Nalendra yang sedang mengendarai motor. Reya kemudian berhenti sebentar dan mengamatinya. Saat sudah dekat dia yakin kalau itu merupakan Juragan Nalendra.
"Juragan" teriak Reya sambil melambaikan tangannya. Juragan Nalendra yang melihat Reya melambaikan tangannya kemudian melajukan motornya ke arah Reya untuk menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Juragan Nalendra saat sudah sampai di samping Reya.
"Tidak ada Juragan, cuma mau menyapa saja. Juragan mau pulang?" tanya Reya basa - basi.
"Iya" jawab singkat Juragan Nalendra.
"Wah, sama dong. Gak mau ngasih aku tumpangan gitu Juragan?" tanya Reya dengan malu - malu.
Juragan Nalendra menatap Reya dengan pandangan aneh, "Rumahmu sudah dekat dari sini, dari sini saja sudah kelihatan. Kenapa aku harus memberimu tumpangan?" ujar Juragan Nalendra yang tidak faham dengan sirkuit otak Reya.
Reya terdiam dengan perkataan Juragan Nalendra, "Gak peka banget sih" gumam Reya.
__ADS_1
"Kakiku agak sakit Juragan, tadi sudah jalan terlalu jauh" keluh Reya sambil memijat pelan kakinya.
"Kalau Juragan memberi tumpangan, aku akan merasa terbantu sedikit" lanjut Reya dengan memasang wajah memelas.
Juragan Nalendra menghela nafas ringan, "Ayo naik" ucap Juragan Nalendra.
Reya sangat senang dipersilahkan untuk naik ke motor. Sebernarnya dia ada niat tidak baik ke Juragan Nalendra saat memberhentikannya, dia ingin memanfaatkan Juragan Nalendra untuk menghadapi Ratih.
Sesampainya mereka di depan rumah Reya, mereka langsung disambut oleh Ratih dengan wajah marah. Setelah turun dari motor, Reya memasang wajah takut dan menarik baju Juragan Nalendra.
"Juragan, kenapa Ratih ada di rumahku lagi? Apa aku membuat dia marah lagi? Tapi aku tidak melakukan apa - apa" ucap Reya dengan ketakutan.
"Sialan kau wanita pelacur, lepaskan tangan kotormu itu dari bajunya" teriak Ratih sambil menunjuk Reya dengan tongkat yang ada di tangannya. Ratih buru - buru menghampiri mereka berdua dengan ajudannya.
"Juragan" ucap Reya lirih dari balik tubuh Juragan Nalendra.
"Cukup Ratih, kamu itu mau apa sebenarnya? Kenapa kamu selalu mengganggunya, apa salah dia?" ujar Juragan Nalendra dengan tegas.
"Juragan, dia itu berusahan menggodamu. Dia itu suka perpura - pura, kamu jangan tertipu dengan wajah polos itu. Kamu itu milikku Juragan, aku gak mau dia dekat - dekat denganmu" ucap Ratih dengan penuh emosi, dia sangat marah sampai membuat wajahnya merah padam.
"Bisa tidak kamu jangan berbicara yang aneh. Jangan sembarangan memfitnah orang dan aku bukan milik siapa - siapa" Juragan Nalendra sangat kesal dengan perilaku Ratih yang seenaknya itu.
Ratih terkejut dengan perkataan Juragan Nalendra, "Juragan, kamu membela wanita pelacur ini dan mengancamku?" ucap Ratih dengan nada yang sangat kecewa.
"Pelet apa yang sudah kamu berikan kepada Juragan, dasar wanita pelacur" teriak Ratih penuh dengan emosi.
Ratih kemudian maju berusaha menjambak rambut Reya, Juragan Nalendra tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia menangkap tangan Ratih dan mendorongnya sampai membuat Ratih terjatuh ke tanah.
"Juragan, kamu mendorongku?" tanya Ratih dengan getir.
"Cukup Ratih, kamu jangan terus berbuat jahat seperti ini. Cepat kamu pergi saja dari sini" usir Juragan Nalendra.
Ratih dibantu berdiri oleh salah satu ajudannya dan beranjak dari rumah Reya, "Lihat saja kamu" ancam Ratih ke Reya yang bersembunyi di balik tubuh Juragan Nalendra.
Reya yang di ancam hanya menatap Ratih dengan tatapan meremehkan. Melihat respon Reya yang terlihat mengejeknya, membuat Ratih tambah membencinya.
__ADS_1
'Kamu tunggu tanggal mainnya' batin Ratih.
Setelah Reya dan ajudannnya pergi, Reya berjalan ke depan Juragan Nalendra dengan ketakutan.
"Terima kasih Juragan, sudah mau menolongku" ucap Reya dengan pelan.
"Em, jika dia masih mengganggumu cari saja aku. Kalau begitu aku pulang dulu" ujar Juragan Nalendra yang mulai menaiki motornya.
Setelah Juragan Nalendra pergi, Reya berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menaruh barang bawaannya di dapur dan merebahkan dirinya di sofa.
"Sepertinya, Juragan Nalendra sudah mulai menerima keberadaanku" gumama Reya.
Setelah istirahat sebentar, Reya kemudian mulai memasak ikan tangkapannya tadi. Dia ingin memasaknya untuk Juragan Nalendra, Reya selesai memasak sekitar jam lima sore.
Selesai memasak, Reya peegi ke luar untuk mengangkat jemurannya karena gerimis yang mulai turun. Kemudian Reya membersihkan diri, setelah itu dia istirahat sambil menonton TV.
Saat kumandang adzan terdengar, Reya segera menunaikan sholat magrib. Selesai sholat magrib, Reya membawa masakannya ke rumah Juragan Nalendra.
Saat melihat keluar rumah, ternyata gerimis masih turun. Reya kemudian mengambil payung dan berjalan ke rumah Juragan Nalendra.
"Permisi Juraga" Reya mengetuk pintu rumah Juragan Nalendra yang tertutup rapat.
Saat pintu itu terbuka, dia melihat Juragan Nalendra yang memakai sarung dan peci di kepalanya. Hati Reya merasa sejuk melihat pemandangan indah itu.
"Ada apa?" tanya Juragan Nalendra.
"Aku membawa ikan goreng bumbu asam manis, semoga Juragan suka" ucap Reya sambil menyodorkan kotak makan di tangannya.
"Terima kasih, kotak makanmu yang tadi siang belum aku cuci. Besok aku antar ke rumahmu sekalian sama yang ini" Juragan Nalendra mengulurkan tangannya mengambil kotak makan itu.
"Iya, kalau begitu aku pulang dulu. Selamat menikmati makanannya" ucap Reya dengan senyum cerahnya.
"Em" gumam Juragan Nalendra.
Reya membalikkan badannya dan berjalan kembali ke rumahnya, dia berjalan dengan lompatan - lompatan kecil dengan payung di tangannya sambil menggindari genangan air.
__ADS_1
Juragan Nallendra tersenyun tipis melihat tingkah kekanak - kanakan Reya, "Seperti anak kecil saja" gumam Juragan Nalendra.
Setelah memastikan Reya sudah sampai di rumah, Juragan Nalendra kemudian masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.