Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Panen


__ADS_3

Selama beberapa hari, Reya tidak di izinkan oleh Juragan Nalendra untuk melakukan pekerjaan rumah, baik itu memasak atau menyapu.


Oleh sebab itu, semua pekerjaan rumah Juragan Nalendra sendiri yang mengurusnya. Sayangnya, kemampuan Juragan Nalendra dalam memasak cukup buruk, dari tiga masakan hanya satu yang bisa dimakan itu pun rasanya kalau tidak hambar ya keasinan.


"Sayang, biar aku saja yang masak" ucap Reya berusaha membujuk Juragan Nalendra yang sedang memotong sawi.


"Tidak, tanganmu sedang sakit. Aku tidak ingin kamu menggerakkan tanganmu" tolak Juragan Nalendra dengan tegas.


"Tapi, aku sudah tidak sanggup memakan masakanmu lagi" ucap Reya dengan pasrah, dia sudah tidak sanggup jika harus memakan masakan Juragan Nalendra.


Tangan Juragan Nalendra yang sedang memotong sawi langsung berhenti saat mendengar perkataan Reya, Juragan Nalendra menatap Reya dengan sedikit malu.


"Apa seburuk itu?" Tanya Juragan Nalendra dengan tidak yakin, dia meresa bahwa masakannya masih bisa dimakan.


"Yah gitulah" Reya tidak mengatakan dengan pasti karena takut Juragan Nalendra akan sedih.


Juragan Nalendra mencuci tangannya, kemudian mengelapnya dengan serbet. Dia berjalan ke meja makan dan mengeluarkan HPnya.


"Kamu mau apa?" Reya berjalan menghampiri Juragan Nalendra.


"Aku mau meminta bawahanku untuk membelikan makanan" jawab Juragan Nalendra yang masih sibuk dengan HPnya.


Reya tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil HP Juragan Nalendra, "Sudah, kita masak saja" ucap Reya.


"Tapi aku tidak mau kamu menggerakkan tanganmu, bagaiaman jika tanganmu sakit lagi?" Tolak Juragan Nalendra dengan keras.


Reya memegang tangan Juragan Nalendra dengan lembut, "Tanganku tidak seburuk itu, kamu tenang saja" bujuk Reya.


Juragan Nalendra hanya bisa pasrah terhadap keputusan Reya, "Baiklah" lirih Juragan Nalendra.


"Tapi, aku yang potong bahannya" lanjut Juragan Nalendra.


Reya mengangguk dan mereka akhirnya memasak bersama.


......................


"Hari ini sawahku panen" ucap Jurgaan Nalendra saat sedang sarapan.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu aku ikut ya!" Pinta Reya dengan semangat.


"Em, tapi kamu hanya melihatnya dari saung saja. Kamu tidak usah ikut aku berkeliling" ujar Juragan Nalendra.


"Oke, aku janji" balas Reya sambil tersenyum bahagia. Juragan Nalendra ikut tersenyum saat melihat senyum Reya.


Selesai sarapan, mereka berganti baju untuk pergi ke sawah. Reya memilih memakai baju dan celana panjang agar mengurangi sengatan panas matahari saat di sawah.


"Sayang, kamu punya topi gak?" Reya berjalan menghampiri Juragan Nalendra setelah berganti baju.


"Ada, tunggu disini" jawab Juragan Nalendra.


Juragan Nalendra kemudian berlari masuk kembali ke rumah untuk mengambil topi. Setelah mendapat topi yang dia cari, Juragan Nalendra segera menghampiri Reya.


Dia langsung menaruh topi itu ke kepala Reya, Reya tersenyum menatap Juragan Nalendra. Mereka kemudian berboncengan naik motor Juragan Nalendra menuju sawah.


Di sepanjang jalan, Reya melihat ada beberapa sawah yang sudah selesai dipanen dan ada yang sedang di potong padinya.


Ada juga beberapa motor yang sedang membawa karung yang berisi ladi untuk di bawa ke rumah pemilik sawah. Beberapa karung padi di tumpuk berjejer rapi di pinggir jalan.


Sesampainya di sawah Juragan Nalendra, mereka berhenti dan turun dari motor. Sudah ada beberapa orang yang sibuk memotong padi di sana dan ada beberapa sedang mengangkat padi ke mesin pemisah padi.


Mereka berdua berjalan bersama menuju saung, Reya berjalan di depan dan Juragan Nalendea berjalan di belakang. Sepanjang jalan, banyak orang yang berbisik sambil melihat ke arah mereka.


"Kamu duduk disini, aku mau berkeliling dulu" ucap Juragan Nalendra.


Setelah Juragan Nalendra meninggakan Reya sendirian di saung, Reya mulai mengeluarkan tabletnya untuk menggambar suasana sawah saat ini.


Saat hari menjelang siang, Juragan Nalendra datang menghampiri Reya membawa makan siang yang dia beli di warung dan es krim.


"Wah es krim" ucap Reya sambil mengambil es krim dari tangan Juragan Nalendra.


Reya membuka es krim itu dan mulai memakannya, mata Reya menyipit karena menikmati es krim itu. Juragan Nalendra tersenyun melihat tingkah Reya.


"Seharusnya makan dulu, kalau makan es krim saat lerut kosong bisa membuat perutmu sakit" ucap Juragan Nalendra dengan lembut.


"Terlalu lama kalau menunggu nanti, bisa meleleh es krimnya" bantah Reya yang sedang menjilat es krim.

__ADS_1


"Iya, terserah kamu saja" ucpa Juragan Nalendra dengan nada memanjakan.


Juragan Nalendra kemudian duduk di samping Reya dan membuka beberapa bungkus makanan yang dia bawa. Dia membeli ikan nila bakar, cah kangkung, tahu, tempe dan nasi.


Saat Reya melihat makanan yang dibawa Juragan Nalendra, dia mendadak menjadi lapar. Dia segera menyelesaikan es krim yang ada di tangannya dan mulai makan.


"Kamu tadi menggambar apa?" Tanya Juragan Nalendra.


"Aku menggambar suasana saat ini, aku ingin mengabadikan momen ini dalam bentuk gambar" jawab Reya yang sedang berusaha mengambil cah kangkung yang sedikit sulit karena saling menempel. Melihat Reya kesulitan, Juragan Nalendra segera membantu Reya mengambil cah kangkung itu.


"Setelah selesai, nanti kamu tunjukkan kepadaku" ucal Juragan Nalendra sambil meletakkan cah kangkung ke nasi Reya.


Reya mengangguk untuk mejawab perkataan Juragan Nalendra. Selesai makan siang, mereka berbincang sebentar sebelum Juragan Nalendra melanjutkan mengawasi proses panen.


"Ini nanti hasil panennya akan di kirim ke pengepul atau kemana?" tanya Reya yang sedang melihat ke arah sawah.


"Aku mengirimnya langsung ke pabrik beras" jawab Juragan Nalendra.


"Pabrik? Aku pikir harus lewat pengepul dulu" Reya menengok ke arah Juragan Nalendra.


"Tidak, aku sudah bekerja sama dengan salah satu pabrik beras yang ada di kota ini" ucap Juragan Nalendra.


"Awalnya aku memang menyetorkan hasil panenku ke pengepul, tapi harga yang di tawarkan terlalu murah. Jadi aku mencari pabrik yang mau menampung panenku, dan harganya juga lebih tinggi dari yang di tawarkan oleh pengepul" lanjut Juragan Nalendra.


"Oh, apa pengepul itu tidak marah saat tau kamu tidka menjual hasil panenmu lagi ke dia?" tanya Reya dengan penasaran.


"Tentu saja marah, bahkan beberapa warga juga menyerahkan hasil panennya kepadaku. Aku memberi warga harga yang lebih tinggi dari pengepul itu untuk memperbaiki perekonomian warga. Pengepul itu sangat marah dan akhirnya dia menaikkan harga pembelian padinya sama seperti harga yang aku tawarkan" jawab Juragan Nalendra.


Reya tertawa pelan mendengar cerita Juragan Nalendra, "Astaga, kasihan sekali pengepul itu. Harus menaikkan harga untuk bersaing denganmu. Jadi, warga sudah tidak menjual hasil panennya ke kamu?" ucap Reya


Juragan Nalendra tersenyum melihat tawa Reya, "Masih ada warga yang memberikan hasil panennya kepadaku" ujar Juragan Nalendra.


"Benarkah? Lalu dimana kamu menyimpan padi - padi itu?" tanya Reya dengan bingung, pasalnya tidak mungkin halaman rumah Juragan Nalendra muat untuk menampung padi - padi itu.


"Aku ada gudang untung menampungnya" jawab Juragan Nalendra.


Reya menganggu mendengar lerkataan Juragan Nalendra, "Eh, itu mereka sudah mulai bekerja lagi" tunjuk Reya ke arah sawah.

__ADS_1


Juragan Nalendra mengalihkam pandagannya ke arah yang di tunjuk Reya, "Kalau begitu, aku kesana dulu"


Juragan Nalendra kemudian berjalan kearah para warga yang sedang memanen padi untuk lanjut memantau proses panen dan Reya kembali melanjutkan menggambar di tabletnya.


__ADS_2