Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Kebakaran


__ADS_3

Acara pengajian dimulai setelah sholat isya, sekitar pukul 08.00 WIB. Reya membuat janji dengan Juragan Nalendra untuk pergi ke masjid setelah sholat magrib karena mereka harus membawa snack ke sana lebih awal.


Sekitar jam enam, Juragan Nalendra sudah menunggu Reya di depan rumahnya. Saat Reya keluar rumah, Juragan Nalendra tertegun melihat prenampilan Reya yang memukau malam ini.


Reya memakai gamis berwarna biru dongker dipadukan dengan hijab yang bernawan senada dengan gamisnya. Kebetulan, Juragan Nalendra juga memakai baju koko berwarna biru dongker. Saat mereka bersama terlihat seperti pasangan baru karena warna baju mereka.


"Wah baju kita senada warnanya, seperti sudah janjian" ucap Reya sambil tertawa bahagia.


"Hem, mana kunci mobilmu. Biar aku yang bawa" ujar Juragan Nalendra sambil mengulurkan tangannya. Reya segera memberikan kunci mobil ke Juragan Nalendra.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan pegi menuju masjid. Suasana malam itu sangat menenangkan hati, terdengar suara sholawat yang dilantunkan melalui speaker masjid karena akan ada pengajian.


Reya melihat ke luar jendela mobil dan melihat suasana malam ini. Angin malam yang berhembus ringan menerpa pepohonan yang ada di sepanjang jalan, hati Reya merasa sangat damai karena suasana malam ini yang sangat indah.


Sesampainya di masjid, Juragan Nalendra segera menghentikan mobil di depan gerbang untuk mempermudah menurunkan kotam snack. Di sana mereka langsung di sambut oleh Lek Yayuk yang sudah menunggu mereka di sana.


"Semuanya sudah lengkap Mbak?" tanya Lek Yayuk saat melihat Reya yang sudah turun dari mobil.


"Tenang saja Lek, semua sudah aman kok" ucap Reya sambil membentuk tanda oke dengan tangannya.


"Loh ada Juragan Nalendra juga?" ucap Lek Yayuk kaget saat melihat Juragan Nalendra yang turun dari kursi pengemudi.


Juragan Nalendra hanya diam tidak menanggapi perkataan Lek Yayuk melainkan langsung membantu Reya menurnkan semua kotak snack dan di bawa ke teras masjid.


"Kamu sama Juragan Nalendra ke sininya Mbak?" tanya Lek Yayuk.


"Iya Lek, Lek yayuk juga lihat sendiri Juragan turun dari mobilku" ucap Reya dengan senyum manis sambil mengangkat kotak snack.


Reya meninggalkan Lek Yayuk sendirian di samping mobil untuk membawa kotak snack ke teras masjid, Lek Yayuk segera tersadar dari keherannnya dan membantu Reya menurunkan semua kotak snack.


Di pelataran masjid sudah perpasang terop dan kursi plastik yang disusun di bawahnya. Ada juga panggung yang terpasang di sana, sepertinya akan ada hiburan hadroh dan tafi sufi.

__ADS_1


Reya mengetahui itu karena ada peralatan hadroh yang tersusun di atas panggung. Serta dia juga melihat ada topi yang biasanya di pakai untuk tari sufi yang tergeletak di pelatarn masjid, tapi dia tidak melihat dimana penarinya.


Setelah sholat isya berjamaah, banyak warga yang berdatangan untuk menghadiri acara pengajian akbar itu. Ada juga beberapa pedagang keliling yang mulai berdatangn untuk menjajahkan dagangannya.


"Wah ramai juga ya acaranya" ucap Reya dengan kagum melihat sekeliling.


"Iya" jawab Juragan Nalendra yang duduk di sampingnya.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, kursi yang ada di pelataran masjid sudah terisi semua. Bahkan ada yang sampai duduk selonjoran di teras masjid. Karena sudah banyak warga yang berkumpul, acar pengajian pun di mulai.


Pengajian itu dimulai dengan pembacaan ayat suci Al -Qur'an, yang di bacakan oleh seorang remaja laki - laki yang tidak dikenal oleh Reya. Bacaan remaja itu terdengar sangar indah di telinga Reya.


Kemudian acara dilanjutkan dengan hiburan berupa tari sufi dan hadroh. Suasana di sana saat ini sangat meriah, banyak anak - anak yang mengikuti gerahan penari yanga ada di depan. Tapi baru beberapa putaran saja, anak - anak itu terjatuh karena pusing.


Setelah hiburan, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh seorang ustad. Dakwah yang dilakukan ustad itu disambut dengan antusias oleh warga karena di selingi dengan candaan - candaan.


Saat sedang asik mendengarkan ceramah, ada seorang anak kecil yang berteriak kebakara.


Para warga segera membubarkan diri dan menuju ke sumber asap itu. Ada warga yang berlari dan ada juga yang mengendarai motor. Reya yang melihat itu merasa tidak nyaman karena itu adalah arah rumahnya.


Reya dan Juragan Nalendra segera menuju mobil dan pergi ke arah itu. Benar saja, kekawatiran Reya menjadi kenyataan. Ternyata rumah yang terbakar itu adalah rumahnya.


Reya segera turun bersama Juragan Nalendra dan berjalan ke dekat ruamahnya. Api sudah mulai melahap seperempat bagian rumahnya, beberapa warga berusaha memadamkan api itu dengan alat seadanya.


Reya segera mengeluarkan HPnya dan menghubungi lemadam kebawaran terdekat, "Halo, ada kebakaran di desa Padi. Tolong segera datang" ucap Reya saat telfon itu tersambung.


"Baik, kami segera kesana" jawab orang di sebrang telfon.


Reya segera menutup telfon dan terdiam melihat rumahnya yang terbakar. Tangan Reya terkepal di kedua sisinya untuk menahan amarah yang akan meluap.


Dia yakin, kejadian ini pasti karena perbuatan seseorang. Sebab, dia tidak menyalakan api apapun di dalam rumah. Listriknya juga baru di kontrol oleh PLN beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


'Sampai aku tau pelakunya, akan ku balas kau' batin Reya dengan penuh amarah.


"Kamu tunggu di rumahku saja, jangan disini" ucap juragan Nalendra memotong lamunannya.


Reya segera memasang wajah sedih, "Terima kasih Juragan, tapi aku di sini saja" jawab Reya dengan lirih.


"Baiklah, ayo agak ke pinggir. Jangan menghalangi orang yang lewat" ajak Juragan Nalendra dengan lembut, mereka berdua kemudian menepi ke pinggir.


Tak lama, mobil pemadam kebakaran sampai di rumah Reya. Mereka segera mengatur para warga agar tidak menghalangi tugas mereka, dan segera mengeluarkan selang untuk menyemprotkan air.


Sekitar satu jam kemudian, api baru benar - benar dapat dipadamkan. Saat itu juga ada polisi yang datang ke sana untuk meminta keterangan terkait kebakaran yang terjadi.


Polisi segera meminta keterangan warga sekitar dan mulai melakukan olah TKP. Reya sebagai pemilik rumah merupakan orang pertama yang dimintai keterangan.


"Sebelum Mbak pergi dari rumah, apa Mbak menyalakan kompor atau obat nyamuk bakar?" tanya seorang polisi paruh baya ke Reya.


"Tidak Pak. Sebelum saya tinggal ke masjid, kondisi rumah saya sangat baik dan tidak ada masalah apa pun. Saya juga tidak menyalakan api sebelum pergi" jawab Reya.


"Baiklah kalau begitu, tolong tunggu perkembangan selanjutnya" ucap polisi itu.


Setelah polisi itu pergi, Reya dan Juragan Nalendra berjalan ke rumah Juragan Nalendra.


"Untuk saat ini kamu tinggal dulu di rumahku" ucap Juragan Nalendra.


"Terima kasih Juragan, kalau tidak ada Juragan entah aku harus bagaiman" ujar Reya sambil menitihkan air mata.


"Sudah jangan menagis, ayo aku antar kamu ke kamar" ucap Juragan Nalendra sambil mengelap air mata yang ada di pipi Reya dengan lembut.


Mereka kemudian berjalan menuju sebuah kamar, "Ini kamarnya, kamarku ada di sebelah kamar ini. Kalau ada apa - apa kamu ketuk saja pintunya" ucap Juragan sambil menunjuk kamar yang ada di sebelahnya.


Reya mengangguk dan masuk kedalam kamar. Setelah memastikan Reya masuk kamar, Juragan Nalendra berjalan pergi keluar rumah entah mau melakukan apa.

__ADS_1


"Sepertinya ini perbuatan Ratih, kemarin dia bilang tunggu tanggal mainnya. Jika ini benar Ratih pelakunya, dia sudah kelewat batas" ujar Reya yang sedang berbaring di atas kasur dengan penuh emosi.


__ADS_2