
Keesokan harinya, Reya mengantar teman - temannya ke stasiun kereta api karena mereka harus kembali ke Jakarta.
"Kalian yakin gak mau nunggu minggu depan baru pulang?" tanya Reya ke teman - temannya.
Ani, Anggel dan Ronald tidak bisa terlalu lama tinggal di sana karena cuti yang mereka ambil berakhir hari ini.
"Sorry Rey, kita harus balik hari ini. Kalau gak bisa - bisa dipotong ganji kita" balas Ronald.
"Tapi kalian harus dateng ya minggu depan, awas kalau aku nikah kalian gak datang" ancam Reya.
"Tenang Rey, kita pasti datang. Tapi cuma bisa sehari paling" ujar Anggel.
"Gak masalah, yang penting kalian harus datang. Lebih bagus lagi kalian jadi saksi nikah aku" ucap Reya.
"Tenang, bisa di atur" balas Anggel.
"Sudah dulu, kereta kita mau datang ini. Dah" Ani melambaikan tangannya ke Reya diikuti Anggel dan Ronald.
Reya balas melambai ke mereka. Setelah mereka masuk ke stasiun, Reya kembali ke mobilnya dan bergegas pulang karena harus mempersiapkan pernikahannya dengan Juragan Nalendra.
......................
Reya masuk ke dalam rumah dan berganti baju yang lebih santai, kemudian dia pergi ke sawah karena Juragan Nalendra sedang mengawasi pegawainya yang sedang menabur pupuk.
"Sayang" Reya melambaikan tangannya ke arah Juragan Nalendra yang sedang berdiri di pematang sawah.
Juragan Nalendra membalas lambaian tangan Reya dan berjalan ke arahnya.
"Kenapa kamu ke sini? Ayo kita ke saung dulu" ajak Juragan Nalendra.
__ADS_1
Reya mengangguk dan berjalan di belakang Juragan Nalendra. Sesampainya di saung, Reya sangsung meluruskan kakinya karena dia lelah berjalan.
"Capek? Mau ku pijat?" tawar Juragan Nalendra.
"Gak usah, sebentar lagi juga hilang pegalnya" tolak Reya dengan halus.
Juragan Nalendra mengangguk pelan, "Kenapa kamu kesini?" tanya Juragan Nalendra.
"Aku mau bahas pernikahan kita, ada banyak yang harus kita siapakan" ujar Reya.
"Tenang saja, biar aku yang mengurus semuanya. Nanti kamu koreksi saja kalau ada yang tidak cocok menurutmu" jelas Juragan Nalendra sambil membuka turup botol minuman yang kemudian dia serahkan ke Reya.
Reya mengambil botol itu dan meminumnya, "Yakin gak perlu aku turun tangan?" tanya Reya.
Juragan Nalendra tersenyum dan memegang tangan Reya lembut, "Biar aku saja, aku tidak mau kamu kelelahan mengurus semuanya" ucap Juragan Nalendra.
Reya melirik ke tangan mereka berdua yang terjalin dan tersenyum, 'Sudah berani pegang tangan ternyata. Syukurlah, aku tidak harus bersusah payah nanti buat membuka malam pertama saat menikah nanti' batin Reya.
"Kamu di sini dulu ya, aku mau lihat pemupukannya" ucap Juragan Nalendra.
"Oke"
Juragan Nalendra pergi meninggalkan Reya sendirian di saung dan kembali melihat padi yang sedang di pupuk.
......................
Setelah selesai proses pemupukan, mereka pulang ke rumah. sasampainya di rumah, Reya segera memasak untuk makan siang mereka. Selagi Reya memasak, Juragan Nalendra kembali ke rumahnya untuk mandi.
"Apa tidak masalah aku menikah secepat ini?" gumam Reya sambil memasukkan tempe ke dalam wajan.
__ADS_1
"Seharusnya tidak masalah, dia merupakan orang yang aku suka dan dia mempunya sifat yang baik. Kenapa aku tiba - tiba berfikir seperti ini?"
Reya agak bingung dengan fikirannya, bukannya tadi dia masih baik - baik saja. Kenapa sekarang dia menjadi bimbang?.
"Apa mungkin ini yang namanya sindrom mau menikah? Aku jadi bimbang. Aku gak boleh berfikir aneh - aneh, aku sudah memimpikan untuk menikah dengannya"
"Sadar Rey, ini yang kamu inginkan sejak lama" Reya menepuk pelan wajahnya.
"Kamu suka sifatnya, hatinya dan jiwanya. Pokoknya pernikahanku harus lancar dan tidak ada hambatan" lanjut Reya sambil memasukkan beberapa tempe ke dalam tepung.
Apa yang Reya fikirkan memang sedikit aneh, mungkin sebelumnya dia masih bersama temannya dan penuh euforia sehingga fikiran aneh itu tidak muncul.
Saat dia sendirian, fikiran aneh itu akhirnya muncul. Banyak pasangan yang akan menikah memiliki pemikiran ini, biasanya itu terjadi karena tekanan menjelang pernikahan.
Bahkan ada yang gagal menikah karena memikirkan hal - hal yang tidak masuk akal seperti Reya tadi. Reya tidak ingin pernikahannya gagal karena fikiran absurdnya itu.
Untuk menghilangkan fikiran anehnya, Reya mencomot tempe yang baru dia goreng matang. Selama memasak, Reya terus mencomot masakannya itu.
"Ada yang bisa aku bantu?" Juragan Nalendra tiba - tiba muncul dari samping rumah karena Reya sedang memasak di dapur luar.
"Gak ada, kamu duduk saja di sana. Ini tinggal goreng tempe, atau kamu bawakan makanan yang sudah jadi ke meja sana" tunjuk Reya ke meja makan yang ada di dapur luar.
"Em" gumama Juragan Nalendra.
Juragan Nalendra mengambil makanan yang ada di samping Reya dan menatanya di atas meja makan, dia juga mengambil piring dan sendok.
Saat melihat Juragan Nalendra yang sangat menuruti perkataanya, Reya menjadi sedikit bersalah karena fikirannya tadi.
'Kamu harus bersyujur Rey, orang yang kamu suka balik suka ke kamu dan dia juga sangat perhatian ke kamu' batin Reya.
__ADS_1
Setelah selesai memasak, Reya duduk bersama Juragan Nalendra di meja makan. Mereka kemudian mulai menyantap makanan yang sudah Reya makan.