Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Debaran


__ADS_3

Saat Reya yang menahan sakit di kakinya ada sebuah bayangan yang menutupinya, Reya mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berdiri di sampingnya.


Dia melihat ada seorang laki - laki yang memiliki paras tampan, hidungnya mancung, matanya yang tajam, rahangnya yang tegas, kulitnya yang berwarna kuning langsat dan orang itu sangat tinggi. Mungkin tingginya sekitar 185 cm, jauh lebih tinggi dari Reya yang hanya 160 cm.


Reya terdiam sejenak karena terpesona oleh aura dominan laki - laki itu, "Mbak masih sakit gak?" tanya Indah yang tiba - tiba muncul dari balik tubuh laki - laki itu.


Reya tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah Indah, "Masih, kaki Mbak masih sakit" jawab Reya dengan agak canggung.


"Kami meminta bantuan Juragan Nalendra Mbak, tenang saja akan akan segera kami bawa ke puskesmas" ujar Tole yang ada di belakang Indah. Reya hanya mengangguk dengan kaku untuk menjawab perkataan Tole.


Tanpa banyak bicara, Juragan Nalendra kemudian jongkok di samping Reya dan memeriksa kondisi kaki Reya. Reya agak malu kakinya di pegang oleh Juragan Nalendra, rasanya jatung Reya berdebar lebih cepat dari keadaan normal.


"Ini hanya keseleo saja. Jika kamu mau, bisa aku obati sekarang" ucap Juragan Nalendra setelah selesai memeriksa kaki Reya.


"Kalau Juragan tidak keberatan" jawab Reya dengan agak gugup. Tanpa berbicara lagi Juragan Nalendra langsung mengangkat Reya, dia membawanya ke saung tempat dia duduk tadi.


Reya kaget dengan tindakan tindakan Juragan Nalendra, "Tu-turunkan aku Juragan, aku bisa jalan sendiri" ucap Reya dengan agak terbata - bata.


"Jangan membuat masalah, kamu tidak bisa berjalan sendiri dengan keadaan kaki seperti itu. Dan saya tidak bisa memapah kamu berjalan di pematang sawah yang kecil ini" jawab Juragan Nalendra dengan tegas.


"Sudah Mbak, jangan membuat Juragan marah. Kalau Juragan marah nanti Mbak Reya di buang ke tengah sawah" bisik Indah dari belakang. Walau pun Indah berbicara dengan berbisik kecil, Juragan Nalendra juga mendengar perkataan Indah tapi dia hanya hanya diam.

__ADS_1


"Hus kamu itu Dah, jangan ngada - ngada ya" ucap Tole sambil mendorong Indah pelan. Hal itu membuat Indah agak hilang keseimbangannya, untungnya dia berhasil menyeimbangkan tubuhnya kembali.


"Kamu ini Tol, jangan dorong aku. Kalau aku jatuh ke sawah gimana?" ujar Indah dengan kesal. Tole hanya tersenyum tanpa dosa ke arah Indah.


Sesampainya mereka di saung, Juragan Nalendra langsung menurunkan Reya. Dia kemudian mulai mengurut pelan pergelangan kaki Reya. Saat mulai di urut, Reya merasakan kesakitan.


Saking sakitnya Reya sampai meremas bahu Juragan Nalendra. Anak - anak yaang melihat apa yang Reya lakukan merasa kaget dan takut, mereka takut jika nanti Juragan Nalendra marah pada Reya.


Untungnya Juragan Nalendra tidak memperdulikan apa yang Reya lakukan, dia tetap fokus mengurut pergelanga kaki Reya. Setelah selesai mengurut, dia meminta Reya untuk menggerakkan kakinya.


"Sudah selesai, coba kamu gerakkan kakimu" ujar Juragan Nalendra. Reya kemudian mencoba menggerakkan kakinya, ternyata rasa sakitnya sudah berkurang banyak. Walau masih ada sedikit rasa sakit, tapi tidak separah tadi.


"Rasanya sudah lebih baik, terima kasih Juragan" ujar Reya sambil tersenyum ke Juragan Nalendra. Reya melihat ke bahu Juragan Nalendra yang dia remas tadi, dia agak merasa bersalah telah meremas bahunya.


Juragan Nalendra hanya diam tidak menjawab pertanyaan Reya, dia kemudian berdiri dan duduk disamping Reya. Reya merasa agak canggung karena diamnya Juragan Nalendra.


"Terima kasih untuk kuenya" ucap Juragan Nalendra tiba - tiba. Bukannya menjawab pertanyaan Reya, dia malah berterimakasih karena bolu yang Reya kirim kemarin.


Reya kaget dengan perkataan Juragan Nalendra, Reya kemudian tersenyum senang karena ternyata dia mengingat pemberiannya kemarin.


"Sama - sama Juragan. Kalau masih ingin, nanti bisa saya buatkan sebagai tanda terima kasih karena sudah membantuku" ujar Reya.

__ADS_1


"Tidak usah. Kalau sudah tidak ada hal lainnya, kalian bisa pergi" usir Juragan Nalendra. Reya terdiam canggung dengan perkataannya, kenapa tiba - tiba dia diusir. Apa dia mengatakan sesuatu yang salah?


"Ayo Mbak kita pulang dulu, sekalian biar Mbak bisa istirahat di rumah" cetus Agus menghilangkan suasana canggung antara Reya dan Juragan Nalendra.


"Oh iya, ayo pulang. Sekali lagi terima kasih Juragan" Reya dan anak - anak kemudian beranjak dari saung.


Mereka mengambil ember yang berisi belut terlebih dahulu baru berjalan pulang ke rumah Reya. Mereka berjalan perlahan karena kaki Reya masih sedikit sakit jika berjalan lama, sesekali mereka berhenti untuk mengistirahatkan kaki Reya.


Sesampainya di rumah Reya, mereka langsung membersihkan diri dengan kran yang ada di samping rumah Reya. Setelah agak kering, mereka masuk ke dalam untuk istirahat.


Mereka duduk sambil menonton TV, "Ini belutnya kita apakan? Kalau kita bawa pulang nanti Ibu kita mau masakin gak ya, ini kan sudah sore" tanya Doni melihat ke arah sudut ruangan tempat belut itu berada.


"Iya ya, pasti Mak malas masakinnya. Besok baru dimasak sama Mak, aku pengen makan belutnya sekarang" ucap Agus dengan lesu.


"Sama aku juga pengen segera makan belut" lanjut Tole menimpali perkataan Agus.


"Mau Mbak Reya masakkan? Nanti setelah matang bisa kalian bawa pulang" saran Reya.


"Tapi, kaki Mbak Reya kan masih sakit" ujar Indah yang tidak ingin merepotkan Reya.


"Sudah tidak begitu sakit kok, Mbak kan bisa masak sambil duduk. Nanti kalian juga bisa bantu Mbak masak" ucap Reya.

__ADS_1


"Oke kalau begitu" teriak semua anak dengan semangat. Mereka kemudian membawa belut itu ke dapur dan mulai memasak sesuai arahan Reya.


__ADS_2