Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Melahirkan


__ADS_3

Setelah makan siang, Reya dan teman - temannya berencana untuk berkeliling desa. Sebelum itu, mereka bersih - bersih diri dahulu karena bau keringat akibat perjalanan jauh mereka.


Selagi menunggu Ani dan Anggel mandi, Reya pergi menghampiri Ronald yang ada di rumah Juragan Nalendra.


Untungnya Juragan Nalendra sedang pergi ke kandang karena harus memeriksa stok vitamin untuk ternak - ternaknya.


"Cepat ke sini kamu Ron" Reya melambaikan tangannya ke arah Ronald yang sedang memakai sepatu di depan pintu.


"Apaan Rey? Bentar lagi juga aku ke rumahmu" ucap Ronald sambil memakai sepatunya yang sebelah kiri.


Kemudian, Ronald berjalan menghampiri Reya yang sedang berdiri di teras.


"Aku belum buat perhitungan sama kamu kenapa kamu ke sini? Gimana kasus Juragan Broto? Masak kamu lepas tangan gitu aja sih" cerca Reya saat Ronald berdiri di sampingnya.


Ronald berdecak mendengar perkataan Reya, "Elah, sabar dulu dong Rey. Main ngamuk aja" ucap Ronald dengan santai.


Reya menahan amarah mendengar ucapan Ronald, "Tenang aja, aku ke sini bukan liburan doang. Aku sedang memantau proses hukumnya Juragan Broto. Kamu taukan di sini bukan wilayah kerjaku, jadi aku meminta bantuan teman jaksaku yang ada di sini" jelas Ronald.


"Nah, aku juga mau bantu temanku itu nyari bukti lain dengan datang ke sini. Siapa tau aku bisa nyari bukti - bukti baru yang bida memberatkan Juragan Broto" lanjut Ronald menjelaskan.


Reya mengela nafas lega mendengar lenuturan Ronald, untungnya dia tidak lepas tangan begitu saja saat sudah berhasil menjerat Juragan Broto.


"Rey, Ron. Ngapain di sana, ayo katanya mau jalan - jalan" teriak Anggel dari depan rumah Reya.


"okey, tunggu kita" balas Ronald dengan berteriak juga.


Mereka kemudian berjalan bersama untuk berkeliling desa. Langit yang mulai redup membuat mereka menjadi lebih bersemangat karena sinar matahari sudah tidak sepanas tadi.


Mereka sangat bersemangat untuk menjelajah desa Reya, terutama Ronald dan Ani yang terus betanya tentang lingkungan sekitar.


"Rey, lapangannya cuma satu ya? Kalo ada acara selalu di lapangan ya?" tanya Ani dengan heboh saat melewati lapangan.


"Tergantung acaranya An, kalo pengajian ya gak mungkin di lapangan" jawab Reya.


"Rey, di sini ada sungai atau danau gak?" tanya Ronald.


"Ada, gak jauh dari sini" jawab Reya sambil menunjuk ke arah sungai.


"Seru nih kalau kita mancing. Rey, punya pancing gak? Atau kita beli aja dulu" ucap Ronald yang penuh dengan semangat berpetualangan.


"Diem dulu sih Ron, Reya belum juga jawab" sahut Anggel yang sudah lelah dengan Ani dan Ronlad yang terus berbicara dari tadi.


Padahal Anggel ingin menikmati suasana desa dengan tenang, tapi malah di ganggu oleh dua sejoli itu.

__ADS_1


"Gak ada pancing aku, beli aja nanti di toko. Kalau mau mancing jangan sekarang, besok aja" ujar Reya sambil menggelengkan kepalanya melihat keluan teman - temannya.


"Rey, atau kita ke itu apa namanya peternakannya tunanganmu?" usul Anggel.


"Oke, ayo kita ke sana" ajak Reya.


Mereka kemudian berjalan menuju kandang milik Juragan Nalendra. Sepanjang jalan Ani dan Ronald masih saja bertanya banyak hal. Memang cocok merrka menjadi sepasang kekasih, sama - sama cerewet.


......................


"Wah, gede banget peternakannya" seru Ronald saat sampai di depan peternakan Juragan Nalendra.


"Bener Beb, Rey keren banget kamu bisa dapet Juragan sekaya ini. Gajinya di ngalah - ngalahin gajiku" sahut Ani.


"Jangankan gajimu An, si Ronald aja kalah jauh penghasilannya" timpal Anggel.


Reya tersenyum bangga mendengar pujian teman - temannya itu, "Sudah, ayo ke sana. Katanya mau lihat - lihat".


Mereka bertiga mengganguk dan mulai mengikuti Reya masuk ke area kandang. Mereka meilhat Juragan Nalendra sedang memeriksa seekor kambing yang sepertinya sesang hamil.


"Sayang, sedang apa?" tanya Reya saat sampai di dekat Juragan Nalendra.


"Kenapa kamu ke sini? Ini aku sedang melihat kambing ini, sepertinya sebentar lagi mau melahirkan" jawab Juragan Nalendra.


Ani, Anggel dan Ronal juga sanagt bersemangat mendengar kalau kambing itu akan melahirkan. Mereka belum pernah melihat proses kambing melahirkan secara langsung.


Mereka semua berdiri di luar kandang kambibg yang sedang hamil itu, Ani bahkan sampai merekam kambing itu.


Sekirat sepuluh menit kemudian, kambing itu terlihat seperti sedang mengejang dan ada cairan yang keluar dari organ reproduksinya.


Ani dan Anggel berteriak saking senangnya melihat itu, Juragan Nalendra mengerutkan keningnya ke arah mereka berdua karena terlalu berisik.


"Jangan berisik, kalian menakut - nakuti kambingnya" ujar Juragan Nalendra dengan dingin.


Ani dan Anggel yang di marahi hanya menciutkan lehernya dangan takut, mereka juga sedikit merasa bersalah karena menakut - nakuti kambing itu.


"Sudah, jangan marahi mereka. Mereka hanya terlalu senang melihat ini" Reya mengelus lengan Juragan Nalendra dengan lembut.


Juragan Nalendra membalas Reya dengan senyum lembutnya. Mereka kemudian kembali fokus ke kambing itu.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kepala anak kambing itu mulai terlihat. Mereka sangat bersemangat sambil menahan teriakannya, Ani bangkan sampai memperbesar video yang di ambilnya.


Lima menit kemudian kedua kaki anak kambing itu keluar dan tak lama seluruh tubuh anak kambing itu akhirnya keluar dari dalam perut ibunya.

__ADS_1


Ani dan Anggel sangat senang sampai mereka berdua berpelukan, Ronald juga melompat dengan gembira, sedangkan Reya memeluk lengan Juragan Nalendra dengan gembira.


Juragan Nalendra yang di peluk hanya kaku karena tidak tau harus berekspresi bagaimana untuk merespon pelukan Reya.


Ibu kambing kemudian memotong ari - ari anaknya yang baru keluar dan mulai memakannnya, "Eh, itu Ibunya makan apa" tunjuk Ronald ke arah ari - ari kambing.


"Itu ari - ari anak kambing, normal jika induknya memakan ari - ari anaknya" jelas Juragan Nalendra.


"Oh"


Semua orang orang mengangguk mendengar penjelasan Juragan Nalendra.


"Hanya satu anaknya?" tanya Ani.


"Tunggu saja sebentar, nanti juga keluar lagi" jawab Reya karena setaunya kalau kambing biasanya melahirkan dua anak.


Mereka kemudian menunggu lagi, tiga puluh menit kemudian kambing itu mulai mendengus dan mengejang lagi. Lima belas menit kemudian, anak kambing yang kedua akhirnya lahir juga.


Semua kembali bersemangat saat melihat anak kambing yang kedua. Kedua anak kambing terlihat identik dengan rambut yang berwarna hitam dan putih.


Mereka masih menunggu lagi, siapa tau akan ada anak ketiga. Tapi, setelah menunggu lama, tidak ada tanda - tanda anak ketiga. Bahkan anak pertama sudah mulai untuk menyusu.


"Sepertinya hanya ada dua" ucap Anggel.


Ani dan Ronald mengangguk dengan kompak saat mendengar perkataan Anggel sambik terus melihat kedua anak kambing itu.


"Anak kambingnya sudah lahir, ayo kita pulang. Ini sudah sore" ajak Reya.


Mereka akhirnya mengangguk setuju, "Sayang, kamu juga pulangkan?" tanya Reya.


"Em, aku juga pulang. Ayo kamu naik motor denganku saja" jawab Juragan Nalendra.


"Tapi, bagaimana dengan teman - temanku" tanya Reya.


"Biarkan mereka pulang sendiri, mereka sudah tau jalannyakan. Jangan manjakan mereka" ucap Juragan Nalendra dengan santainya.


Ani, Anggel dan Ronald yang sedang di bicarakan hanya bisa diam mendengar percakapan mereka sambil mengehela nafas.


"Oke kalau begitu, kalian pulang sendiri ya. Kalau lupa jalannya bisa tanya ke orang, tanya saja arah rumah Juragan Nalendra" ucap Reya dengan senyum manis seolah tidak mau di tolak.


Ani, Anggel dan Ronald hanya mengangguk saja melihat ke arah Reya dan Juragan Nalendra yang sudah mulai berjalan ke arah tempat memarkirkan motor Juragan Nalendra.


"Dasar gak setia kawan" gumam mereka bertiga.

__ADS_1


__ADS_2