Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Pelaku Sebenarnya


__ADS_3

Hampir satu bulan proses pembangunan rumah Reya berlangsung, setiap hari Reya sibuk membuat makanan ringan untuk para pekerja bangunan.


Seperti saat ini, Reya sedang sibuk membuat pisang goreng dan kopi di dapur Juragan Nalendra.


"Kamu masak apa?" tanya Juragan Nalendra dari balik tubuh Reya, dia mengintip ke wajan yang ada di kompor.


"Aku buat pisang goreng Juragan, Juragan mau? Ambil saja itu yang sudah jadi" ujar Reya mengarahkan pandangan ke piring yang sudah ada pisang goreng di atasnya.


"Nanti setelah kamu memasak, aku mau bicara sesuatu ke kamu" ucap Juragan Nalendra sambil mengambil sebuah pisang goreng.


"Bicara tentang apa Juragan?" Reya membalikkan badannya ke arah Juragan Nalendra.


"Nanti saja, setelah kamu selesai memasak" ucap Juragan Nalendra sambil berjalan keluar dari dapur.


'Ada apa ini? Tidak biasanya Juragan seperti ini' batin Reya.


Reya kemudian melanjutkan menggoreng pisang, namun dia tetap kepikiran tentang apa yang mau Juragan Nalendra bicarakan.


......................


"Jurgaan" ucapan Reya yang berjalan ke arah Juragan Nalendra dan duduk di sampingnya.


"Sudah kamu antar pisang gorengnya ke mereka?" tanya Juragan Nalendra sambil melihat ke arah Reya.


"Sudah Juragan. Sebenarnya Juragan mau bicara apa sama aku?" tanya Reya.


Bukannya menjawab pertanyaan Reya, Juragan Nalendra malah memberikan sebuah dokuman yang cukup tebal.


"Kamu baca ini" ucap Juragan Nalendra sambil memberikan dokumen itu.


Reya melihat dokumen itu dengan bingung, "Apa ini Juragan?" tanya Reya.


"Sebenarnya, aku telah menemukan pelaku sebenarnya yang telah membakar rumahmu" ucap Juragan Nalendra yang mengejutkan Reya.


Reya buru - buru membuka dokumen itu dan mulai membaca isinya. Alis Reya mengkerut saat membaca dokumen itu, dia terihat marah dan bingung.


"Jadi orang yang bernama Hedrik dan Joko yang telah membakar rumahku, tapi aku tidak mengenal mereka. Kenapa mereka membakar rumahku?" ucap Reya setelah membaca dokumen itu.


"Saat di introgasi oleh polisi, mereka mengaku kalau mereka hanya iseng ingin mebakar rumahmu" ujar Juragan Nalendra.


"Tapi, saat aku berbicara sendiri dengan mereka dan menekan mereka untuk berbicara yang sebenarnya. Mereka mengaku kalau mereka di suruh oleh Ratih, sayangnya mereka tetap tidak mau menyebut nama Ratih kepada polisi bagaimana pun aku memaksa mereka. Kata mereka, mereka mempunyai banyak hutang kepada Juragan Broto. Jadi, mau tidak mau mereka harus mengikuti perintah Ratih. Jika mereka menolak, mereka menyakiti keluarga mereka" lanjut Juragan Nalendra.


'Ternyata memang benar dia dalangnya' batin Reya kesal.


"Kapan sidang putusan perkaranya?" tanya Reya.


"Sekitar satu minggu lagi, kamu mau datang?" ujar Juragan Nalendra.


"Tidak, aku tidak mau ketemu mereka" tolak Reya.

__ADS_1


"Mafkan aku, semua ini terjadi karena aku" ucap Juragan Nalendra sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak Juragan, itu bukan salahmu. Itu salah Ratih yang berbuat jahat, jangan menyalahkan diri sendiri" Reya meletakkan tangannya di atas bahu Juragan Nalendra.


Juragan Nalendra mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Reya yang sedang tersenyum lembut kepadanya.


'Betapa baik hatimu Reya, padahal Ratih berbuat seperti itu karena kedekatan kita. Kamu tenang saja, aku pasti akan membuat Ratih membayar perbuatannya itu' batin Juragan Nalendra.


"Oh ya Juragan, kapan sawah Juragan akan panen? Sepertinya sudah terlihat menguning padinya" ucap Reya mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin satu minggu lagi, kenapa kamu bertanya? Mau ikut membantu?" tanya Juragan Nalendra.


"Em, aku mau melihat proses memanen padi" ucap Reya dengan semangat.


"Kalau begitu, nanti saat panen kita ke sawah bersama - sama" ujar Juragan Nalendra.


"Siap" ucap Reya dengan semangat sampil memberi gestur hormat ke Juragan Nalendra. Mereka berdua kemudian tertawa bersama karena tingkah Reya.


......................


"Aku tidak mau keluar kota" teriak Ratih sambil membanting semua barang yang ada di kamarnya.


"Jangan membantah perintah Bapak, semua ini terjadi karena perbuatanmu sendiri" ucap Juragan Broto dengan marah.


"Apa salahku? Aku hanya ingin memperingatkan wanita ****** itu agar tidak mendekati Juragan Nalendra" ucap Ratih di depan wajah Juragan Broto.


"Kamu sudah terlalu di manja, pokoknya besok kamu harus pergi sampai keadaan di sini kondusif. Asal kamu tau, Nalendra sudah mulai mengincar keluarga kita karena perbuatanmu itu" lanjut Juragan Broto sambil menunjuk - nunjuk wajah Reya yang memerah.


"Sudahlah Pak, jangan marahi Ratih terus. Kasihan dia" bujuk Yani sambil mengelus lengan Juragan Broto.


"Diam kamu Yan, semua ini karena kamu yang terlalu memanjakan anak gadismu itu" ucap Juragan Broto sambil menghempaskan lengannya.


"Tenang kan dirimu Pak, tiga hari lagi Aldi akan pulang. Kita bisa meminta saran Aldi untuk mengatasi Nalendra itu" ujar Yani.


"Kamu benar. Ayo kita keluar, biarkan anak manjamu itu menangangkan dirinya" ujar Juragan Broto berusaha meredam amarahnya.


"Tenangkan dirimu dan jangan membuat masalah lagi Ratih" ucap Yani sebelum keluar dari kamar Ratih.


Juragan Broto dan Yani berjalan meninggalkan Ratih sendriran di kamarnya, "Ah, semua ini gara - gara Reya si ****** itu" teriak Ratih mengobrak - abrik kasurnya.


......................


"Mbak Reya" teriak Indah di depan tenda Ratih.


"Aku di sini Dah" ucap Reya yang keluar dari rumah Juragan Nalendra.


"Kita main layang - layang yuk, yang lain sudah ada di lapangan buat main layang - layang" ajak Indah.


"Sepertinya seru, ayo kita ke sana" ucap Reya dengan semangat.

__ADS_1


Reya dan Indah kemudian berjalan menuju ke lapangan. Tapi sebelum dia meninggalkan rumah Juragan Nalendra, dia di hentikan oleh Juragan Nalendra.


"Mau kemana kamu?" tanya Juragan Nalendra dari samping rumah.


Tubuh Indah agak kaku, saat mendengar suara Juragan Nalendra. Walau pun dia sudah sering bertemu dengan Juragan Nalendra semenjak Reya tinggal di halaman rumahnya, dia tetap merasa agak takut dengannya.


Indah menyembunyikan dirinya di balik tubuh Reya, "Kami mau bermain layang - layang, Juragan mau ikut?" tanya Reya dengan ramah.


"Boleh, ayo kesana" jawab Juragan Nalendra.


Indah mendengar perkataan Juragan Nalendra hanya bisa pasrah, pasti dia akan di marahi oleh teman - teman yang lain karena mengajak Juragan Nalendra.


Sesampainya mereka di lapangan, sudah ada Tole, Agus dan Doni yang sedang menerbangkan layang - layang.


"Wah, kalian hebat. layang - layangnya terbang tinggi" puji Reya saat sudah di dekat mereka.


"Jelaslah kan ak ... " sebelum Agus menyelesaikan perkataannya, dia dikejutkan dengan keberadaan Juragan Nalendra.


"Juragan" ucap Agus dengan lirih.


Mendengar ucapan Agus, yang lain sontak melihat ke arah Juragan Nalendra. Mereka langsungsung menundukkan kepalanya karena takut dengan Juragan Nalendra.


"Kenapa kalian diam saja? Juragan Nalendra gak akan makan kalian kok" ucap Reya dengan bercanda.


Anak - anak hanya menganggukkan kepalanya mendekar candaan Reya, "Mbak mau main layang - layang? Itu di sana masih ada layang - layang" tunjuk Tole ke arah tumpukan layang - layang berusaha mengusir Juragan Nalendra agak agak jauh dari mereka.


"Oke, ayo Juragan. Kita main di sana" ajak Reya. Juragan Nalendra hanya mengangguk dan mengikuti langkah Reya.


"Kamu gimana sih Dah, katanya manggil Mbak Reya. Kok malah bawa Juragan Nalendra sih" keluh Agus.


"Mana ku tau, tiba - tiba Juragan mau ikut" balas Indah yang tidak mau di salahkan.


"Sudahlah, kita main saja. Yang penting kita tidak berbuat yang aneh - aneh" ucap Doni berusaha memisahkan Indah dan Agus yang akan bertengkar.


......................


"Ayo kita terbangkan di sini Juragan, aku yang pegang senarnya trus Juragan yang pegang layang - layangnya" ucap Reya mengarahkan Juragan Nalendra.


"Oke" balas Juragan Nalendra.


Juragan Nalendra kemudian membawa layang - layang agak menjauh dari Reya, "Sudah siap?" tanya Juragan Nalendra.


"Sudah" jawab Reya.


"Satu, dua, tiga" pada hitungan ketiga Juragan Nalendra melepaskan layang - layang yang ada di tangannya dan Reya berlari menarik layang - layang itu.


Juragan Nalendra tersenyum melihat kebahagiaan Reya yang sedang bermain layang - layang.


"Seperti anak kecil saja" gumam Juragan Nalendra.

__ADS_1


__ADS_2