Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Penangkapan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu sejak acara syukuran sekaligus lamaran Juragan Nalendra berlalu, Juragan Nalendra juga mulai disibukkan dengan peternakan dan sawahnya.


Sawah Juragan Nalendra sudah mulai waktu matun (pengambilan rumput liar di sekitar tanaman padi). Reya yang tidak memiliki banyak kegiatan hanya di rumah saja atau kadang keluar bermain dengan Tole dkk.


Cuaca yang cerah membuat Reya ingin bersantai di luar rumah untuk menikmati semilir angin. Saat ini Reya sedang duduk di bawah pohon mangga yang ada di depan rumah Juragan Nalendra sambil menonton drama di laptopnya.


Saat sedang asik menonton, HPnya berbunyi. Reya mengecek ternyata itu adalah panggilan dari Ronald. Dia segera mengangkat telfon itu.


"Ada apa?" tanya Reya saat telfon berhasil tersambung.


"Ada kabar gembira Rey, surat penangkapan Juragan Broto sudah keluar dan sekarang pasti polisi sedang dalam perjalanan ke sana" ucap Ronald dengan semangat yang menggebu - gebu.


"Serius? Bagus. Akhirnya hama itu bisa di singkirkan" ujar Reya dengan mata yang berbinar - binar.


Reya mendengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan, sepertinya polisi yang Ronald maksud sudah hampir sampai di rumah Juragan Broto. Reya ingin ke sana untuk menyaksikan kegembiraan.


"Sudah dulu Ron, aku mau lihat penangkapan Juragan Broto. Bye" ucap Reya dengan tergesa - gesa.


Tak lama mobil polisi melewati rumahnya, dia menunggu sekitar dua menit sebelum berjalan ke rumah Juragan Broto.


Sesampainya di sana, sudah banyak warga yang mengerumuni rumah Juragan Broto. Terlihat Yani yang sedang menangis sambil menarik - narik baju salah satu polisi di sana, dia berusaha menahan polisi itu agar tidak membawa suaminya.


"Tidak, kalian tidak boleh membawa suamiku pergi. Pergi kalian" teriak Yani sambil menangis.


Polisi sedikit kewalahan menghadapi perilaku Yani. Juragan Broto yang sedang di borgol hanya bisa diam tidak melakukan apa pun, terlihat dari raut wajahnya bahwa dia sangat frustasi menghadapi situasi ini.


"Ada apa ini Bu? Kok Juragan Broto di tangkap?" tanya Reya ke salah satu Ibu - ibu di sana.


"Gak tau itu Mbak, katanya sih soal uang - uang gitu deh" jawab salah satu Ibu di sana.


Reya hanya mengangguk mendegar perkataan Ibu itu. Dia melihat ada Aldi di belakang polisi - polisi yang sedang mengamankan Juragan Broto.


Aldi terlihat tenang, tapi matanya memancarkan amarah yang sangat besar. Reya sedikit tidak puas saat melihat Aldi tidak ikut di tangkap. Padahal Aldi juga ikut berperan penting dalam kasus ini.


Setelah Juragan Broto berhasil di amankan, beberapa warga mulai membubarkan diri. Aldi yang dari tadi diam saja, mulai menghampiri Reya.


"Kamu yang melakukan semua ini kan?" tanya Aldi dengan nada datar.


Reya berpura - purat terkejut dan memasang tampang lugu, "Apa maksudmu? Aku tidak tau tentang semua ini" ucap Reya dengan polosnya.

__ADS_1


"Aku bukan Nalendra yang bisa kamu bodohi, aku tau ini semua perbuatanmu. Ini semua terjadi sejak kedatanganmu" ujar Aldi yang tetap berusaha tenang.


Mendengat perkataan Aldi, Reya mengubah ekspresinya menjadi datar.


"Kalau memang aku pelakunya, memang kenapa? Kalian yang memulai semua ini, jika adikmu tidak mengusikku maka semua ini tidak akan terjadi" ucap Reya dengan tenang.


"Kamu jangan senang dulu, semua ini belum berakhir. Selama ada aku, pasti akan ku balas perbuatanmu ini" kata Aldi yang mulai tersulut emosi.


Reya tertawa pelan mendengar perkataan Aldi, "Jangan main - main denganku. Aku bisa menjebloskan ayahmu ke penjara, aku juga bisa melakukannya padamu" ucap Reya.


Aldi menjadi marah dan mengangkat tangannya ingin memukul Reya. Sebelum tangan itu mengenai wajah Reya, Juragan Nalendra tiba - tiba muncul dan menghadang tangan Aldi.


"Jangan berani - beraninya kamu meletakkan tangamu pada tunanganku" ancam Juragan Nalendra.


"Awas kalian, akan kubalas perbuatan kalian" ucap Aldi sambil menarik tangannya.


Dia kemudian masuk ke dalam rumah dengan kemarahan yang memuncak di dadanya.


"Kamu tidak apa - apa?" tanya Juragan Nalendra sambil memeriksa tubuh Reya.


"Sudah aku tidak apa - apa, ayo kita pulang" ajak Reya.


Mereka kemudian berjalan bersama ke rumah Juragan Nalendra. Sesampainya di rumah, mereka duduk bersama di bawah pohon.


"Aku hanya ingin ikut menyaksikan kegembiraan, siapa tau Aldi tiba - tiba marah tidak jelas ke aku" jawab Reya.


"Lain kali jangan ke sana lagi saat tidak ada aku" ujar Juragan Nalendra.


"Em.."


"Oh ya, kenapa kamu pulang jam segini? Kan belum waktunya makan siang, aku juga belum masak" tanya Reya.


"Tidak ada. Aku hanya kawatir dengan keadaanmu saja" jawab Juragan Nalendra.


"Jangan bohong, jujur saja" desak Reya yang tidak percaya dengan perkataan Juragan Nalendra.


"Aku memang pulang karena kawatir denganmu. Aku mendegar dari beberapa orang kalau Juragan Broto di tangkap polisi, aku takut kamu akan ke sana untuk menyaksikannya. Dan ternyata aku benar" jelas Juragan Nalendra.


"Kenapa takut aku kesana?" tanya Reya lagi.

__ADS_1


"Karena aku yang membantu untuk mengumpulkan bukti kejahatan Juragan Broto" jawab Juragan Nalendra dengan jujur.


Reya sedikit kaget mendengat penuturan Juragan Nalendra, 'Jadi, email itu kiriman dari Juragan Nalendra. Ternyata dia ingin membantuku balas dendam atas perbuatan Ratih' batin Reya.


"Aku takut kalau Aldi akan berbuat macam - macam ke kamu, lihat aku benarkan. Aldi nekat mau memukulmu" lanjut Juragan Nalendra.


Reya tersenyum mendengar perkataan Juragan Nalendra, ternyata dia sangat menghawatirkannya. Walau pun tadi Juragan Nalendra tidka datang dia masih bisa mengatasi Aldi.


"Kamu manis banget sih Sayang, makin cinta deh" ucap Reya sambil memeluk lengan Juragan Nalendra.


Tubuh Juragan Nalendra langsung kaku mendapat pelukan dari Reya, jantungnya berdetak kencang dan wajahnya mulai memerah.


Reya tambah mengencangkan pelukannya dan tertawa saat melihat tingkah Juragan Nalendra.


......................


"Rey, akhirnya kamu menghubungiku juga" ujar Anggel saat menerima telfon dari Reya.


"Idih, lebaynya. Baru beberapa hari" ucap Reya.


Anggel mendengus pelan mendengar perkataan Reya, "Beberapa hari apaan, hampir setengah bulan ini. Giman rumahmu? Sudah jadi apa belum?" tanya Anggel.


"Sudah" jawab Reya dengan singkat.


"Aku ada kabar baik buat kamu Gel" lanjut Reya.


"Kabar baik apa?" tanya Anggel dengan penasaran.


"Aku sudah tunangan" ucap Reya sambil menunjukkan cincin di jarinya ke arah kamera.


Mata Anggel terbelalak kaget mendengat perkataan Reya, "Seriusan kamu Gel? Jadi kamu udah berhasil naklukin Juragan itu. Gila, hebat banget kamu" ujar Anggel dengan penuh semangat.


"Jelaslah, siapa dulu dong yang bertindak. Reya gitu loh" ucap Reya dengan sombong.


"Kalau gitu, aku boleh dong ke sana? Aku mau lihat seperti apa laki - laki yang berhasil mendapatkan hati seorang Reya Tavisha" tanya Anggel.


"Tentu saja, aku kirimkan alamatnya ke kamu" sahut Reya dengan semangat.


"Kalau gitu aku tidur dulu, dah" ujar Anggel.

__ADS_1


"Dah, mimpi indah"


Reya mematikan telfonnya dan rebahkan dirinya di kasur. Dia kemudian mematikan lampu dan bersiap untuk tidur.


__ADS_2