
Sekitar pukul tujuh, rumah Reya sudah di datangi banyak orang untuk membantu memasak. Banyak anak - anak juga datang ikut meramaikan karena hari ini bertepatan dengan hari minggu.
"Lek, ini ayamnya di masak dulu buat sarapan semuanya" ucap Reya yang membawa empat ekor ayam yang cukup besar.
"Iya Mbak, bawa sini" sahut Lek Yayuk.
Reya mebawa ayam itu ke Lek Yayuk dan Lek Yayuk menyerahkan ke salah satu Ibu - ibu di sana untuk di potong dan di cuci.
Tak lama terdengar suara anak - anak yang meneriakkan bahwa kambingnya sudah datang, kambing itu di bawa ke samping rumah Reya oleh Juragan Nalendra. Di sana sudah ada beberapa Bapak - bapak yang siap membatu proses penyembelihan.
Anak - anak sangat bersemangat untuk menyaksikan proses penyembelihan kambing itu, kambing itu akan di potong oleh seorang Ustad yang bernama Ustad Sholikin.
Ustad Sholikin lah yang biasanya yang bertugas menyembelih hewan - hewan besar yang digunakan untuk acara tertentu di desa. Saat Idul Adha, Ustad Sholikin juga yang menyembelih hewan kurbannya.
Reya keluar rumah untuk melihat kambing itu, ternyata kambing itu sangat besar dan gemuk. Reya agak takut jika harus melihat proses penyembelihannya, jadi dia masuk lagi ke dalam rumah.
Mbah Nem yang sedang memotong kentang segera berdiri saat mendengar kambing sudah mau di potongĀ dia berdiri untuk mengambil layar sebagai alas untuk para Bapak - bapak saat memotong - motong kambing itu.
"Biar aku aja Mbah, Mbah duduk saja" Reya menghentikan Mbah Nem yang sedang membawa layar.
"Yo wes ini bawa en ke sana. Nanti di jembreng sekalian ya Nduk" ucap Mbah Nem sambil memberikan layar yang ada di tangannya.
Reya segera membawa layar ke samping rumah dan membentangkannya. Tole yang melihat Reya ke susahan membuka layar langsung membantunya.
"Ayo Mbak, tak bantu" ucap Tole yang memegang ujung layar yang lainnya.
Dengan bantuan Tole, Reya lebih mudah untuk membentangkan layar itu. Selesai membentangkan layar, Reya masuk lagi ke dalam rumah untuk membuatkan es.
Reya mengambil termos es besar dan memasukkan teh yang sudah di rebusnya tadi, kemudian dia memasukkan es batu ke dalamnya. Reya memasaukkan es itu dengan utuh tanpa mehancurkannya dulu agar esnya tidak cepar meleh. Dia juga membuat untuk Ibu - ibu yang sedang memasak.
Reya mengeluarkan kue tradisional yang di buat tadi malam dan menatanya di atas piring. Dia memberikan bagian Ibu - ibu yang di dapur, baru bagian Bapak - bapak yang ada di luar.
Saat dia keluar membawa semuanya, dia melihat kalau kambingnya sedang di kuliti oleh dua Bapak - bapak. Reya meletakan es dan kue tradisional itudi dekat layar yang dia bentabgkan tadi.
__ADS_1
"Bapak - bapak, ini es sama kuenya" ucap Reya sambil menaruh semua bawaannya.
Anak - anak yang terlebih dahulu menyerbu Reya saat mendengar perkataannya. Reya tersenyum melihat semanga anak - anaka itu.
"Dasar bocah. Kene seng nyambut, kono seng mangan" cletuk salah satu Bapak - bapak di sana.
Selesai menaruh semuanya, Reya mencari Juragan Nalendra. Ternyata dia sedang menelfon di salah satu sudut halaman.
......................
"Ada apa?" ucap Juragan Nalendra saat menganggkat telfonnya.
"Juragan, aku menemukan bahwa ada seseorang yang sedang menyelidiki Juragan Broto" jawab orang yang di sebrang telfon.
Juragan Nalendra sedikit mengnyengitkan alisnya, "Siapa dia?" tanya Juragan Nalendra.
"Seorang Jaksa di kejaksaan Agung" jawab orang itu.
"Benar Juragan, bahkan orang yang menjadi bekingan Juragan Broto juga di incar. Sekarang mereka sedang kesusahan menghadapi Jaksa itu" mendegar itu, Juragan Nalendra mendapat ide bagus.
"Kalau begitu, kamu bantu Jaksa itu. Ungkapkan kejahatan - kejahatan yang telah Juragan Broto perbuat selama ini, kita tambahkan bahan bakar agar Juragan Broto segera hancur" ucal Juragab Nalendra dengan tegas.
"Baik Juragan"
Juragan Nalendra kemudian menutup sambungan telfon dan berbalik menuju rumah Reya. Saat dia membalikkan badannya, dia melihat Reya berdiri di belakangnya. Dia sangat terkejut, apa Reya mendengar perkataannya.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Juragan Nalendra agak gugup.
"Aku mau cari kamu, ayo bantu aku buat kue lagi. Masih banyak yang harus di buat" ajak Reya.
Mendengar perkataan Reya, Juragan Nalendra menghela nafas lega. Sepertinya, Reya tidak mendengar perbincangannya tadi. Juragan Nalendra segera menyetujui ajakan Reya.
Kue yang Reya buat hanya kurang lima belas potong lagi, satu kali panggang dia bisa memanggang delapan kue. jadi hanya butuh dua kali panggang untuk menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
Saat memasukkan adonan pertama ke oven, Reya mendengar suara Lek Sri yang memanggilnya. Dia segera mencuci tangannya dan keluar menemui Lek Sri.
"Ayo sarapan dulu Mbak, kuenya di lanjut nanti saja" ucap Lek Sri saat melihat Reya keluar rumah.
"Oh iya Lek, semua sudah kebagian?" tanya Reya.
"Tenang saja, semua sudah dapat jatah. Ayo segera sarapan, Lek Sri tak makan dulu" ucap Lek Sri.
Reya mengguk dan kembalu masuk ke dalam rumah untuk mengajak Juragan Nalendra sarapan.
"Sayang, ayo kita sarapan dulu" ucap Reya.
Juragan Nalendra mengangguk dan mengikuti reya ke dapur luar. Di dapur semua orang sedang sarapan, mereka kemudian berjalan ke meja yang ada di sana untuk mengambul makan.
Reya melihat bahwa ayam tadi di buat menjadi dua masakan, yaitu opor dan ayam kecap. Dia memilih mengambil ayam kecap, sedangkan Juragan Nalendra mengambil opornya.
Mereka berdua mencari tempat duduk untuk makan, mereka memilih duduk di depan pintu masuk rumah Reya. Sebenarnya Reya ingin makan di dalam rumah, tapi dia sedikit tidak enak dengan semua orang. Yang lain makan di luar, bagaiman mungkin dia bisa makan di dalam rumah.
Selesai makan, Reya mengintip ke samping rumah untuk melihat proses pemotongan kambing. Ternyata kambing tadi sudah selesai di kuliti dan di ambil organ dalamnya. Tapi, dia tidak melihat adanya organ dalam kambing itu.
"Sayang, mana organ dalam kambingnya?" tanya Reya menengok ke arah Juragan Nalendra yang ada di belakangnya.
"Sedang di bersihkan di sawah" jawab Juragan Nalendra.
"Sawah?" ucap Reya dengan bingung, kenapa di bersihkan di sawah.
"Iya, ke sawahku. Di sana ada sumur bor yang biasa di gunakan untuk mengairi sawah, lebih mudah di bersihkan di sana. Kalau di bersihkan di sumur rumah atau kamar mandi nanti akan merepotkan, baunya akan sulit hilang" jelas Juragan Nalendra.
"Oh begitu, lalu kotorannya juga di buang di sawah?" tanya Reya.
"Iya, aku tadi meminta mereka menguburnya di sawah juga. Biar tidak bau kemana" jawab Juragn Nalendra.
Mereka kemudian kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan membuat kue. Awalnya Reya hanya kurang lima belas kue saja, tapi Reya membuat lebih dari itu. Dia membuat sekitar dua puluh lima kue, sisa kuenya akan Reya bagikan agar dimakan orang - orang yang rewang.
__ADS_1