Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Pendukung Juragan Broto


__ADS_3

Menjelang sore, panen sawah Juragan Nendra akhirnya selesai juga. Walau pun sudah selesai memanen semua, masih harus membawa semua padi ke gudang. Juragan Nalendra meminta Reya pulang terlebih dahulu karena takut Reya kelelahan.


"Ayo, aku antar pulang dulu. Aku masih harus mengawasi proses pengiriman padi ke gudang" ajak Juragan Nalendra.


"Apa masih lama prosesnya?" Reya sebenarnya masih mau mengikuti Juragan Nalendra.


"Mungkin Isya aku baru bisa pulang, jadi kamu pulang dulu ya" Juragan Nalendra masih berusaha membujuk Reya agar pulang dulu ke rumah.


"Baiklah" Reya dengan pasrah mengikuti permintaan Juragan Nalendra.


......................


Setelah Juragan Nalendra pergi, Reya masuk ke dalam tendan dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasanya tubuhnya sangat lelah, padahal dia hanya duduk saja di saung.


Seberapa lelah Juragan Nalendra yang sejak pagi sampai sore trus berkeliling memantau proses panen. Reya merilekskan tubuhnya di ata kasur agar otot tegang di tubuhnya melemas.


Saat sedang asik mengistirahatkan tubuhnya, tiba - tiba ada panggilan video yang masuk. Reya segera mengeluarkan HP yang ada di sakunya, saat melihat layar HP ternyata Ronald yang menelfon. Reya kemudian mengangkat panggilan video itu.


"Ada apa?" Tanya Reya saat sudah tersambung dengan Ronald.


"Aku punya kabar untukmu" jawab Ronald. Mendengar perkataan Ronald, Reya langsung bangun dan duduk bersila di atas kasur.


"Kabar apa?" Reya dengan semangat bertanya ke Ronald, dia fikir itu mungkin kabar mengenai penyelidikan tentang Juragan Broto.


"Aku ada dua kabar, satu kabar baik dan satunya kabar buruk. Mau dengar yang mana dulu?" ujar Ronald dengan serius.


Reya sedikit lama untuk berfikir, "Kabar baik dulu saja, semua dimulai dengan yang baik - baik" Reya lebih memilih kabar baik.


"Aku sudah tau siapa orang yang melakukan pencucian uang dengan bantuan si Juragan Broto itu. Dia adalah salah satu anggota DPRD, namanya Samsudin dari anggota partai merah" jelas Ronald.


Reya langsung tersenyum senang mendengar info itu, dengan terungkapnya dalang pencucian uang itu maka Juragan Broto akan kehilangan pendukungnya saat si Samsudin tertangkap.


"Bagus itu, lalu kabar buruknya apa?"


Sebelum menjawab pertanyaan Reya, Ronald sedikit menghela nafas frustasi.


"Aku tidak bisa menyentuhnya, bukannya tidak bisa tapi belum bisa. Aku membutuhkan orang yang memiliki jabatan yang tinggi agar bisa menyentuhnya" wajah Ronald sedikit malu saat mengatakan itu.


"Bagaimana mungkin kamu tidak bisa? Bukannya kamu seorang Jaksa, kenapa tidak bisa?" tanya Reya.


"Kekuatan partai merah terlalu tinggi untuk aku sentuh, mereka terlalu melindungi anggotanya" jelas Ronald sambil memijat pangkal hidungnya.


"Lalu, kita biarkan begitu saja?" tanya Reya dengan kesal, wajahnya terlihat sangat kusut.

__ADS_1


"Kamu jangan marah dulu, tenanglah. Wajah kusutmu lebih kucel dari baju yang lama tidak di setrika" Ronald berusaha menenangkan Reya yang kesal.


"Diam saja kamu, dasar Jaksa gadungan" ejek Reya yang tersulut emosi oleh perkataan Ronald.


"Sialan kamu Rey" ucap Ronald dengan kesal, dia kemudian meredakan emosinya dan lanjut berbicara dengan Reya.


"Aku akan berusaha menangkapnya, tapi aku butuh waktu yang sedikit lama. Aku harus meminta bantuan profesorku untuk membantu menangani masalah ini" lanjut Ronald.


"Bagus kalau begitu, pokoknya kamu harus segera mengatasinya. Kalau tidak aku akan membagikan foto aibmu ke pacarmu" ancam Reya.


"Ya ampun Rey, iya aku usahakan. Sudah dulu, aku tutup telfonnya" Ronald langsung memutus sambungan panggilannya dengan Reya.


Reya merebahkan dirinya lagi ke atas kasur, dia menatap langit - langit tenda dengan pandangan kosong.


"Kenapa bisa sesulit ini untuk menjatuhkan Juragan Broto" gumam Reya sedikit frustasi.


Tiba - tiba saat Reya sedang memikirkan masalah Jurgaan Broto, terdengat suara notifikasi pesan dari HPnya. Dia kemudian mengambil HPnya dan memeriksa siapa yang mengirimnya pesan.


"Ronald? Kenapa chat? Padahal bisa dia sampaikan di telfon tadi kalau ada yang penting" Reya kemudian membuka pesan Ronald.


Rey, hati - hati dengan anak laki - laki Juragan Broto.


Reya bingung dengan isi pesan Ronald, apa maksudnya hati - hati dengan anaknya Juragan Broto. Dia bahkan belum pernah ketemu dengan anak laki - laki yang dimaksud.


Anaknya yang namanya Aldi, jauh - jauh dari dia.


Aldi? Memang kenapa?


"Apa Aldi ini sama dengan Aldi yang kemarin?" gumam Reya yang memandang layar HPnya.


Dia orang yang berbahaya. Dari info yang aku dapat, dialah yang menghubungi Samsudin untuk membantunya mencuci uang yang telah Samsudin korupsi.


Melihat isi pesan Ronald, Reya agak terkejut. Kalau Aldi yang di maksud sama dengan Aldi yang kemarin, maka itu sangat luar biasa.


Dari fisiknya, Aldi mungkin baru awal tiga puluhan. Kalau di hitung, maka Aldi menghubungi Samsudin saat dia masih awal masuk SMA. Jika itu benar, maka Aldi itu sangat berbahaya.


^^^Kamu yakin? Anaknya yang mencari relasi? Bukan Juragan Broto?^^^


Iya, mana mungkin informasiku salah.


^^^Oke, makasih infonya.^^^


Sip [emot jempol]

__ADS_1


Reya meletakkan HPnya dan mulai berfikir lagi. Apa mungkin kejadian dia jatuh dari sepeda dan di tolong oleh Aldi itu bukan kebetulan, melainkan rencananya.


Melihat sifat dari Juragan Broto dan Ratih, mungkin saja Aldi bisa melakukan itu. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Jika tumbung di keluarga seperti keluarga Juragan Broto, maka sangat besar kemungkinan sifatnya akan buruk.


"Astagah, sepertinya bukan Juragan Broto yang sulit untuk di hadapi melainkan si Aldi. Aku tidak tau apa tujuan Aldi untuk mendekatiku, yang pasti itu bukan hal yang baik"


"Pantas saja kemarin Nalendra memintaku menjauhinya, aku harus berhati - hati saat bertemu lagi dengannya".


Reya kemudian berhenti memikirkan urusan Aldi, dia membuka aplikasi video pendek dan mulai menonton video untuk mengembalikan suasana hatinya.


......................


"Sayang" panggil Juragan Nalendra dari depan tenda.


"Apa" jawab Reya dengan kesal.


Reya kesal dengan Juragan Nalendra karena dia berjanji akan pulang setelah waktu Isya. Tapi dia baru pulang jam delapan lebih.


"Kenapa cemberut begitu?" Tanya Juragan Nalendra saat melihat Reya yang memasang wajah jutek.


"Kamu bohong, katanya mau pulang setelah waktu Isya. Tapi malah pulang jam delapan lebih, aku lapar tau" Reya membalikkan badannya sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Maaf, tadi urusannya baru selesai" Juragan Nalendra memegang pundak Reya dan membalikkan badannya dengan lembut agar berhadapan dengan dirinya.


Reya melengoskan wajahnya ke kiri, tidak mau menatap wajah Juragan Nalendra. Juragan Nalendra memegang wajah Reya dan membuatnya menatap dirinya.


"Maafin aku ya, sebagai tanda maaf ayo kita makan di luar. Kamu mau makan apa?" bujuk Juragan Nalendra dengan lembut.


"Terserah" jawab Reya dengan asal.


"Bagaiman dengan steik? Soto? Rawon? Gurameh? Sate ayam? Gulai kambing?" tanya Juragan Nalendra dengan sabar.


Sayangnya, Reya tidak mau menjawab pertanyaan Juragan Nalendra. Dia hanya diam saja sambil melirik ke arah lain.


"Kamu maunya apa? Apa pun yang kamu mau akan aku belikan" tidak putus asa, Juragan Nalendra tetap berusaha membujuk Reya.


"Aku mau sate ayam" jawab Reya masih ketus.


Juragan Nalendra tersenyum saat mendengar perkataan Reya, padahal tadi dia sudah menawarkan sate tapi Reya diam saja. Dia hanya pasrah mengikuti keinginan Reya.


"Ya sudah, ayo kita pegi"


Juragan Nalendra menarik tangan Reya pelan menuju motornya.

__ADS_1


__ADS_2