Mengejar Cinta Juragan Tampan

Mengejar Cinta Juragan Tampan
Pembangunan Selesai


__ADS_3

Waktu berlalu dalam sekejap, proses pembangunan rumah Reya akhirnya selesai juga. Reya sangat puas dengan kinerja para tukang yang telah berhasil membangun rumahnya sesuai dengan apa yang dia mau.


Reya berkeliling rumah barunya dengan Juragan Nalendra, semua furnitur tertata dengan rapi dan terstruktur. Rumah baru Reya memiliki ruang tamu, ruang makan, ruang santai, tiga kamar dengan satu kamar besar sebagai kamar utama.


Kamar utama memiliki kamar mandi di dalamnya, sedangkan dua kamar lainnya tidak memikinya. Ada dua kamar mandi yang berjejer dekat dengan dapur, satu untuk mandi dan satu untuk toilet.


Ada dua dapur di rumah Reya, dia ingin satu dapur di dalam rumah dan satu dapur terbuka di luar. Dapur terbuka di gunakan untuk memasak dan dapur di dalam rumah hanya di gunakan saat Reya ingin masak di malam hari.


Reya membuat dua dapur karena dia sangat ingin mempunyai dapur terbuka yang dapat melihat lingkungan sekitar saat dia memasak, sehingga dapat menambah suasana yang nyaman saat memasak. Tapi dia takut jika lapar di malam hari harus ke luar untuk memasak, jadi dia membuat satu lagi dapur di dalam rumah.


Beberapa pintu antar ruangan dibuat tanpa daun pintu, dengan ornamen ukir khas jawa yang menambah daya tariknya. Ukiran kayu terbuat dari kayu jati yang sudah tua, sehingga memiliki daya tahan yang lama.


Selama berkeliling rumah, Reya terus tersenyum memandang hasil akhir rumahnya.


"Sayang, aku sangat puas dengan hasil akhirnya" ucap Reya yang sedang duduk di dapur luar sambil menikmati es lemon yang baru dibuatnya.


"Em, aku juga senang saat kamu bahagia" Juragan Nalendra tersenyum lembut menatap Reya yang sedang meminum es lemon.


"Setelah pembangunan rumah, apa aku harus mengadakan syukuran rumah baru? Aku dengar kalo di desa sering mengadakan syukuran saat selesai membangun rumah" ucap Reya yang meminta pendapat ke Juragan Nalendra.


"Terserah kamu, yang penting kamu tidak kerepotan nanti" ujar Juragan Nalendra.


Reya diam sejenak memikirkan apa dia mau mengadakan syukuran atau tidak. Jika dia tidak mengadakannya, apa nanti dia akan di pandang sebagai orang sombong. Atau lebih baik dia mengadakannya saja.


Tapi dia sudah habis banyak uang untuk membangun rumah, jika mengadakan syukuran nanti dia harus mengeluarkan uang lagi.


Reya mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Sudahlah, jika kamu keberatan tidak usah saja" Juragan Nalendra mengusap kepala Reya dengan lembut untuk menenangkannya.


"Tidak, aku harus mengadakannya. Aku tidak mau di bilang orang sombong yang tidak mau mengadakan syukuran rumah" Reya dengan tegas memutuskan untuk mengadakan syukuran.


Juragan Nalendra tertawa pelan melihat tingkah Reya, "Siapa juga yang akan bilang kamu sombong sayang, sudah tidak usah saja. Kamu terlihat keberatan" bujuk Juragan Nalendra.

__ADS_1


"Tidak, kamu jangan membujukku untuk mengurungkan niatku. Aku harus mengadakannya" tekat Reya.


"Iya, kita adakan syukuran" ucap Juragan Nalendra.


"Apa yang harus di siapkan untuk mengadakan syukuran?" Tanya Reya.


Juragan Nalendra langsug terdiam mendengar pertanyaan Reya, dia tidak pernah mengurusi hal - hal yang seperti itu. Akan ada orangnya yang mengurus seputar acara seperti itu.


"Aku tidak tau" lirih Juragan Nalendra.


Reya menatap Juragan Nalendra dengan aneh, bagaimana bisa dia tidak tau. Apa dia tidak pernah mengadakan syukuran atau semacam tahlilan, seharusnya dia pernah melakukan itu.


"Kamu tidak tau? Lalu saat kamu mengadakan syukuran, tahlilan atau pengajian siapa yang akan mengurusnya?" Tanya Reya.


"Biasanya ada pegawaiku yang mengurusnya, aku hanya perlu memberikan dia uang" jawab Juragan Nalendra sambil menggatus hidung mancungnya.


"Sudahlah, aku tanya Lek Yayuk saja" ucap Reya.


"Tidak masalah, masih ada orang lain yang bisa aku tanya - tanya" Reya meletakkan tangannya di atas tangan Juragan Nalendra.


......................


"Lek Yayuk" ucap Reya sambil mengetuk pintu rumah Lek Yayuk pelan.


Reya menunggu sekitar lima menit di depan pintu ambil terus memanggil nama Lek Yayuk. Tapi sekian lama menunggu, tidak ada orang yang membukakan pintu.


"Seharusnya dia masih di rumah, kan baru selesai panen. Tapi kenapa tidak ada yang menjawab" gumam Reya.


Reya kemudian berkeliling rumah Lek Yayuk, mungkin dia sesnag ada di belakang rumah. Sesampainya Reya di belakang rumah, dia bisa melihat Lek Yayuk sedang berjongkok di pancuran dekat kamar mandi sambil membersihkan keong.


"Lek Yayuk"


Mendengar suara Reya, Lek Yayuk langsung mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

__ADS_1


"Mbak Reya, ada apa? Tumben jam segini nyari aku" cetus Lek Yayuk saat melihat Reya.


Lek Yayuk buru - buru menuci tangannya dengan sabun dan menutup ember yang berisi keong. Lek Yayuk kemudian menghampiri Reya yang sedang berdiri tidak jauh dari pancuran.


"Ayo ke depan saja, di sini agak berantakan" ajak Lek Yayuk.


Mereka kemudian berjalan ke depan rumah dan duduk di atas dipan. Setelah mereka duduk, Reya mulai mengutarankan niat kedatangannya itu.


"Begini Lek, kan rumahku baru selesai di bangun. Nah, aku mau mengadakan syukuran" Reya diam sebentar, kemudian melanjutkan perkataannya.


"Tapi, aku tidak ada pengalaman tentang proses pengadaan syukuran. Kalau Lek Yayuk tidak keberatan, boleh tidak nanti bantu aku?" Lanjut Reya dengan malu - malu.


"Woalah, bagus itu. Gak usah malu - malu kalau mau minta bantuannya Lek, tenang saja bakal Lek bantu" ujar Lek Yayuk dengan semangat. Reya tersenyum senang mendengar lenuturan Lek Yayuk.


"Kalau boleh tau, apa saja yang pelu di siapkan Lek?" tanya Reya.


"Yang paling penting itu makanan sama tempatnya Mbak. Untuk makanannya biasanya kita masak sendiri, sebagai tanda menghormati orang yang kita undang. Trus kita harus memikirkan tempat berkumpulnya, apa nanti cukup atau tidak menampung jumlah orang yang kita undang" jelas Lek Yayuk.


"Masak sendiri? Apa tidak terlalu berat Lek kalau aku masak sendiri makanannya?" Tanya Reya dengan ragu.


"Aduh, ya bukan kamu sendiri yang masak Mbak. Nanti banyak tetangga yang bantuin kamu, ada - ada saja kamu ini" ucap Lek Yayuk sambil tertawa lucu, Reya merasa malu karena pikiran bodohnya itu.


"Oh gitu ya Lek, aku kira harus masak sendiri itu benar - benar sendirian masaknya" ucap Reya dengan malu - malu.


"Kapan rencananya Mbak Reya mau ngadain?" tanya Lek Yayuk.


"Mungkin dua hari lagi" jawab Reya dengan tidak pasti, dia belum begitu memikirkan waktunya.


"Wah kalu begitu, besok harus mulai beli bahan sama menyicil buat masaknya" ucap Lek Yayuk.


"Ayo ke rumahmu Mbak, kita rinci bahan - bahan yang harus di beli" lanjut Lek Yayuk.


Reya mengangguk mendengar perkataan Lek Yayuk, mereka kemudian berjalan menuju rumah Reya.

__ADS_1


__ADS_2