
Sampainya di cafe, Arya memesan minuman dan cemilan untuk maya.
"Bicaralah"
"May, apa kamu mendengar pembicaraanku dan mama?"
"Iya"
"May, mas gak peduli apapun keadaanmu, bagaimana keluargamu, yang pasti mas cuma mau hidup sama kamu dan reyhan". Arya memegang tangan Maya
"Mas gak perlu seperti itu. Pernikahan mas dan cia juga sudah di tentukan. Besok segera kita urus perceraian kita mas".
"Mas gak mau pisah sama kamu. Mas akan mencari cara untuk memutuskan pertunanganku dengan cia".
"Mas, aku hanya bagian dari masa lalu mas. Anggap saja kita tak pernah kenal. Tapi satu hal, maya gak mau menyerahkan Reyhan kepada mas, karena reyhan adalah hartaku satu-satunya". Bulir putih jatuh di pelupuk mata Maya.
Arya yang melihat maya menangis pun tak tega, dihapusnya dengan penuh perasaan.
"Maya,, tetaplah disisiku, aku akan menjagamu dan reyhan. Perlahan kita yakinkan mama dan papaku agar bisa menerimamu".
Maya menatap mata Arya dan mencari setitik kejujuran dimatanya.
"Kamu mau kan hidup bersamaku??"
Maya mengangguk perlahan dan menahan rasa bahagia di hatinya.
"Terima kasih maya" Arya mengecup kedua tangan maya.
.
Arya dan Maya meninggalkan Cafe menuju rumah maya. Sepanjang perjalanan Arya menggandeng tangan istrinya seolah tak ingin melepasnya lagi.
"Mass, lepasin tanganku dong"
"Gak mau"
"Malu mas dilihat orang"
"Biarin aja orang lihat, kita kan suami istri".
"Masss..."
"iyaa mayaaaa"
__ADS_1
Brusssssssssss
Hujan turun begitu derasnya,,, Arya dan maya berlari untuk mencari tempat berteduh. Melihat Maya yang basah, arya pun memeluk maya.
"Tetaplah seperti ini, mas gak mau kamu kedinginan".
Perasaan bahagia dan berbunga-bunga kini hinggap di hati keduanya. Hujan turun semakin deras dan seolah tak mau berhenti.
"Mas, apa gak sebaiknya kita terobos aja hujannya?? Maya takut rey mencariku. Lagian ini udah jam malem banget mas, maya takut".
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang".
Arya berlari dan terus menggenggam erat tangan maya. Maya pun ngos-ngosan, capek karena berlarian.
"Mas berheenti dulu, aku capek".
Arya menghentikan langkahnya dan malah berjongkok.
"Naiklah may".
"Tapi mas...?"
"Naiklah sayang, biar mas gendong"
"Mas kuat".
"Beneraannn yahhhh"
"iyaaaaaa".
Akhirnya Maya naik ke punggung Arya dan arya pun kembali melangkahkan kakinya menuju rumah maya dengan hati bahagia.
Sampainya dirumah Maya....
"Mas pulang dulu ya"
"Tapi mas basah gini, apa gak sebaiknya ganti baju dulu? nanti mas masuk angin"
"Ehem,, perhatian banget sih istriku ini".
"Maya cuma gak mau mas sampe sakit".
"Memangnya ada bajuku disini??"
__ADS_1
"Ada, yang waktu mas pernah disini".
"Baiklah".
Maya dan Arya pun masuk kedalam rumah, dilihatnya rumah sepi karena shinta dan reyhan sudah tidur.
Maya segera mandi di kamar mandi belakang, sementara Arya mandi di kamar mandi maya.
Setelah mandi, maya mengganti bajunya di kamar, dan Arya baru keluar dari kamar mandi.
Arya memandangi istrinya dengan penuh Hasrat.
Didekapnya Maya dari belakang.
"Sayang, kamu wangi banget". Arya menciumi bahu Maya
"Ahhhh... mas jangan kayak gini. Aku gak tahan".
"Gak tahan kenapa??"
"Geli mas". Maya segera ngikat kimono saten berwarna Navy miliknya.
Arya membalikkan badan Maya dan menatapnya.
"Mas berhak atas dirimu"
"Jadi?"
"Karena cuaca hujan dan dingin, mas mau tidur dipelukan istri mas ".
"Pakai dulu bajunyaa". Maya memberikan kaos putih. Arya pun segera memakai kaos putih itu dan
membopong Maya ke ranjangnya.
"Masss jangan macem-macem yah disini, Ada shinta".
"Jadi kalau gak ada shinta Mas boleh?"
"Emmm iya boleh".
"Oke mas pegang janjimu"
Arya mengecup kening maya dan kemudian ia berbaring di ranjang sambil memeluk Maya.
__ADS_1