
Sesampainya mereka di taman hiburan, Ara begitu senang banyak pengunjung yang berkunjung mulai dari anak-anak sampai orang tua yang ikut bermain untuk menikmati taman hiburan ini pada malam hari. Ara begitu antusias ia ingin menaiki seluruh permainan yang ada di taman hiburan tersebut.
Ferdiansyah hanya mengikuti kemauan Ara yang ingin bermain. Ara sudah mencoba 2 permainan yang ada di taman hiburan tersebut. Walaupun sedikit risih dengan orang-orang yang berada di sekitarnya yang menatap dirinya. Meskipun begitu Ferdiansyah tetap memberikan senyuman kepada pengunjung yang tersenyum kepada dan ada juga yang ingin meminta foto dirinya.
Walaupun Ferdiansyah sedikit kurang nyaman oleh fansnya yang berada di sana. Fans Ferdiansyah pun tau karena itu adalah hal pribadi jadi mereka tidak ingin mengganggu kegiatan Ferdiansyah.
"ramah nya artis satu ini, sama orang lain tebar pesona, senyum. Kalian nggak tau aja kalau dia di rumah macam beruang kutub." batin Ara yang berjalan di depan Ferdiansyah.
"eh ikut saya." kata Ferdiansyah berjalan cepat di depan Ara.
"kemana?" bingung Ara, karena setau dirinya Ferdiansyah di belakang dirinya dan sekarang sudah ada di depannya. Ferdiansyah tidak menjawab pertanyaan Ara, ia terus berjalan dan sampailah mereka di sebuah wahana permainan rollercoaster.
"ngapain ke sini?" tanya Ara
"ya mainlah, ngapain lagi. Ayo buruan." mengajak Ara.
"*pasti rencana dia, lihat aja siap takut." batin Ara tersenyum puas.
"pasti dia takut." batin Ferdiansyah tersenyum*.
Ara sudah duduk di samping Ferdiansyah, Ara memasang wajah biasa seakan-akan ia belum pernah menaiki permainan tersebut. Melihat ekspresi Ara membuat Ferdiansyah tersenyum puas.
wahana akan segera di mula.
3
2
1
wahana sudah berjalan pelan dan lama-kelamaan kecepatan dari wahana tersebut. Bukan teriakan ketakutan yang keluar dari Ara melainkan teriakkan senang dan gembira yang keluar.
"kelihatannya wahana ini nggak buat dia nangis. Oke tunggu bentar lagi wahana selanjutnya " batin Ferdiansyah tersenyum.
Turun dari wahana tersebut Ferdiansyah mengajak Ara menuju permainan selanjutnya tanpa mengatakan mereka ingin kemana.
"mau kemana?" tanya Ara sambil berjalan karena dari tadi Ferdiansyah tidak mengatakan mereka ingin kemana. Ferdiansyah selalu mengatakan ikut dengannya.
__ADS_1
"kok berhenti di sini?" tanya Ara bingung karena mereka berdua sekarang berdiri di depan rumah hantu.
"mau masuk ke dalam?"
"iya, kenapa kamu takut?" tantang Ferdiansyah.
"sedikit sih." menatap rumah hantu tersebut. Ferdiansyah yang melihat wajah Ara tersenyum puas.
"*welcome dalam permainan." batin Ferdiansyah.
"oke, ini mah kecil." batin Ara tersenyum walaupun dengan wajah takut karena ia ingin mengerjai Ferdiansyah*.
sebenarnya Ara tidak takut masuk ke dalam rumah hantu, ia hanya ingin melihat wajah Ferdiansyah bagaimana ketika ia memasang wajah takut. Dan ternyata benar Ferdiansyah tersenyum puas seperti mendapat kontrak ratusan rupiah.
"ayo." Ferdiansyah.
mereka sudah masuk ke dalam rumah tersebut. Hawanya sangat menyeramkan, walaupun hanya pura-pura tetapi kesannya dapat. Seakan-akan memang kita berada di rumah hantu benar.
Ara melihat kanan dan kiri, ia terlihat biasa saja karena ia tidak takut. Ferdiansyah yang awalnya berani sekarang ia merasa hawanya berbeda dan jantungnya was-was karena ia akan malu kalau ia terkejut ataupun kaget. Karena dari tadi Ferdiansyah melihat Ara hanya dengan ekspresi wajah biasa, tidak seperti ekspresi sebelum masuk ke dalam rumah hantu.
"kenapa?" tanya Ara untuk menghilangkan keheningan.
"kok sepi ya.. biasanya ada hantu yang nong...." kata ara terpotong karena hantu muncul di sebelah kiri tepatnya di sebelah Ferdiansyah. Ferdiansyah yang berada di situ langsung terkejut dan marah-marah dengan wajah ketakutan.
Ara yang melihat ekspresi Ferdiansyah langsung tertawa tanpa keluar suara.
"senjata makan tuan." batin Ara.
selama melewati ruangan rumah hantu tersebut hanya teriakkan, ketakutan, dan Omelan dari Ferdiansyah saja yang keluar. Mulai dari :
"tuyul tuyul tuyul." teriak Ferdiansyah
"apaan tuh, mama ada Suter ngesot." frustasi Ferdiansyah
"pocong, pocong, pocong ketawa lagi." merinding Ferdiansyah
"apaan ni?." Ferdiansyah melihat benda yang berada di sampingnya ia langsung mengambilnya dan tiba-tiba hantu datang dengan luka dan tangan yang berada di genggaman Ferdiansyah.
__ADS_1
"mama..... Ferdi pegang tangan." langsung berlari, tapi dicegah Ara, Ara langsung memegang tangan Ferdiansyah lalu mengejutkan Ferdiansyah dengan muka konyolnya. Ferdiansyah yang mendapatkan muka konyol Ara langsung terkejut ke dua kalinya.
Selesai dari rumah hantu, Ferdiansyah mencari tempat duduk dan langsung minum dengan tergesa-gesa.
"minumnya pelan-pelan nantik tersedak." kata Ara menasehati Ferdiansyah. Dan ucapan tersebut langsung terjadi.
"Kan udah di bilang pelan-pelan." memukul-mukul punggung Ferdiansyah.
"kamu kalau mau mendoakan saya yang benar dong." kesal Ferdiansyah.
"bukan mendoakan tapi kan benar kalau minum itu pelan-pelan."
"udah lah saya mau pulang."
"tapi kan masih banyak permainan yang belum Ara mainkan."
"kalau mau di sini ya sudah di sini aja, saya mau pulang." langsung berlalu begitu saja tanpa melihat Ara yang masih berdiri di dekat tempat duduk tersebut.
Ferdiansyah begitu kesal karena kedua rencanannya gagal tanpa membuahkan hasil ditambah dia harus tersedak ketika minum. Itu langsung membuatnya malu plus marah.
Ara yang ingin menjawab terlambat karena Ferdiansyah sudah berlalu begitu cepat, Ara juga mengejar Ferdiansyah tetapi terlambat karena mobil yang mereka gunakan ke taman hiburan tadi sudah melaju cukup kencang.
"kamu yang mau mengerjai ara, tapi kamu yang marah dan sekarang kamu ninggalin Ara." sedih Ara yang melihat jalanan.
Ara masih sedih karena di tinggal, ia berniat kembali ke taman hiburan tersebut dan duduk sambil menikmati orang-orang yang bermain wahana permainan. Begitu bahagia orang-orang tersebut bermain yang membuat hati Ara menjadi sedih. Pasalnya ia di bawa kemari hanya untuk dikerjai bukan untuk memberinya kebahagian.
"sedih dengarnya kalau diajak bermain untuk dikerjain. Aku nggak punya harta yang seperti kamu miliki tapi setidaknya hargai seseorang yang tidak sederajat dengan dirimu." Ara tersenyum mengatakan itu sambil menatap wahana di depannya.
Capek dengan kesedihannya Ara langsung mencari makanan pedas. Kebiasaan satu ini adalah hal yang tidak lepas dari Ara yaitu apabila dia sedih ataupun marah dia akan membuat atau membeli makanan pedas. Intinya pedas mau itu bakso, mie, soto, lotek ataupun kripik pedas.
kali ini Ara memesan mie yang pedas, ia begitu menikmati makanan tersebut. Ara emang menyukai makanan pedas. Selesai makan membuang kotak makanan tersebut dan tiba-tiba seorang balita menabrak badannya.
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
gambar hanya sebagai gambaran dari pemainnya agar pembaca bisa membayangkannya.
__ADS_1
jangan lupa vote dan follow
terimakasih 🙏🏻