
"khanza sama papa dulu ya, biar bunda istirahat aja dulu, nantik kalau bunda nya khanca capek nantik bunganya sakit." Adnan mengatakan seperti itu agar anaknya paham dan ia juga melihat Ferdiansyah yang tampak kesal.
"ya pa, anza ulang Ulu unda, makasih unda, om." ucap Khanza kepada Ara dan juga Ferdiansyah.
"sama-sama khanza, minum obatnya dan jangan lupa makan." ingat Ara.
"Iya unda."
"laki sendiri aja nggak pernah di ingetin." batin Ferdiansyah mendengar ucapan Ara.
"kalau begitu saya permisi Ara, Ferdiansyah sekali lagi terimakasih." ucap Adnan di ikuti oleh mbak lela.
"ya bang adnan." tersenyum ramah.
"ya." ucap Ferdiansyah setelah di senggol oleh Ara.
mereka tidak melanjutkan permainan setelah kejadian tadi. Bik Siti menyiapkan makan malam jntuk mereka di bantu oleh Ara dan juga Auristela.
Ara melihat Auristela yang bisa di katakan baik, meskipun mereka berdua jarang mengobrol. Ara tau karena Auristela tepikal tidak banyak ngomong berbeda dengan dirinya.
"wah mantap menu makan malam kali ini. Menu masakan rumahan." Niko
"jadi kangen rumah." ujar Doni
mereka sudah duduk di kursi masing-masing, mereka begitu takjub dengan rasa masakan tersebut.
"Enak." ucap Doni mencicipi sayur soup.
"ya kah?"tanya Ara.
"Iya, sama seperti masakan restoran."Doni memperagakan tangannya seperti chef yang mengatakan delicius. Ara yang melihat itu tersenyum pepsodent.
"jangan kegeeran kamu." Ferdiansyah yang melihat Ara tersenyum, ara langsung menatap Ferdiansyah dengan tatapan sinis."
"Kenapa? kan benar?"
"bilang aja sirik." Ara melanjutkan makannya.
Auristela melihat hal tersebut, ia tidak pernah seperti itu, selama ia bersama Ferdiansyah. Ferdiansyah selalu berbicara halus dan sering memberikan hadiah kepada dirinya.
Doni dan Niko asyik dengan makanan mereka tetapi Zian tersenyum melihat tingkah suami istri tersebut.
Selesai makan malam bersama, akhirnya teman-teman Ferdiansyah pamit untuk pulang.
"lain kali sering ajak kami makan malam di sini." ucap Niko dan Doni mengangguk kepala.
"Terimakasih Ferdiansyah, Ara atas jamuan makan malamnya." kata Zian, Ara dan Ferdiansyah menjawab dengan tersenyum meskipun Ferdiansyah berjalan hanya deheman.
"Terimakasih Di, Ara." ucap Auristela
"Ya sama-sama mbak Auristela" ucap Ara tersenyum
"Hem." ucap Ferdiansyah berbeda ketika menjawab Doni dan teman-teman lainnya.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit."
"ya mbak" ucap Ara, Ferdiansyah langsung masuk ke dalam rumah, Ara yang melihat tampak kebingungan.
"Dasar laki-laki baperan." ara menutup pintu rumah.
Ara membantu Bik Tutik membereskan peralatan alat makan. Karena sudah larut malam akhirnya Bik Tutik menginap di rumah Ferdiansyah.
Ara sudah di ambang pintu kamarnya, ia sempat melihat pintu kamar Ferdiansyah yang tertutup rapat.
sebelum pula tidur Ara melaksanakan kewajiban nya setelah kita ia mengecek kembali hpnya. Dan benar saja, ada pesanan untuk besok dan akan yang pemesan minta di antar.
Ara akan memastikan orderannya besok pagi dan akan menelfonnya besok, karena kalau di telfon sekarang hari sudah larut malam.
"Besok aku telfon dia." ucap Ara senang, karena pesanannya cukup banyak.
***
Matahari menampakkan di ufuk Timur, tandanya hari sudah pagi. Pagi ini juga Ara menelfon orang yang mengirimnya pesan dan benar saja pesanan tersebut akan di antar siang nanti sebelum makan siang.
Ara menyiapkan bahan-bahan dan akan membuat adonan kulitnya. Bik Tutik juga membantu Ara menyiapkan bahan isiannya mulai dari memotong wortel, kentang, dan lain-lain.
adonan dan isian sudah siap memerlukan waktu setengah jam membuatnya. Sarapan sebelumnya sudah siap dan sudah di letakkan di meja makan.
Ferdiansyah yang sudah bangun bersiap-siap karena ada kerja pagi ini, ketika menuju meja makan, sarapan sudah tersedia tetapi tidak ada orang.
"Kemana dia?" ucap Ferdiansyah, dan ia mendengar suara dari arah Dapur, seperti.orang sedang memasak. Ferdiansyah penasaran dan langsung menuju Dapur.
"Nak Ferdiansyah ada cari sesuatu?" tanya bik Tutik, melihat Ferdiansyah yang berada di pintu dapur.
"Begitu, kalau ada apa-apa bilang aja Nak Ferdiansyah."
"Iya Bik." ucap Ferdiansyah melihat Ara yang asik memasak.
Ferdiansyah mengurungkan untuk sarapan, ia malah masuk ke dalam dapur dan menghampiri Ara yang asyik mengisi dan menggulung risoles.
"Ngapain ke sini?" ucap Ara tapi pandangannya ke masakkannya.
"Nggak boleh, terserah saya mau ke mana ini rumah saya."
"ya ya ya."
"Buat apa?" Ferdiansyah bertanya karena Ara serius dengan pekerjaannya.
"Buat Risoles."
"Boleh satu untuk saya."
"Belum boleh, ini belum masak. Nantim Ara sisihkan untuk abang, tenang aja."
"Buatnya kok banyak?"
"banyak kali tanya nya." batin Ara.
__ADS_1
"Pesanan orang, jadi banyak."
"Ada juga yang minat Risoles buatan kamu, nggak nyangka saya."ucap Ferdiansyah, tapi Ara tidak menjawab. Ara tau apabila di jawab maka urusan tidak akan kelar karena Ferdiansyah tipe orang yang tidak ingin kalah.
Ferdiansyah terus mengomel tentang risoles Ara, itu yang salah, ini yang salah, cara menggulung tidak benar dan masih banyak lagi. Tapi Ara tidak meladeninya dan asyik dengan pekerjaannya.
"Tumben si bebek nggak marah, malah diam aja, kayak aku aja yang ngomong dari tadi." batin Ferdiansyah.
"Saya sarapan dulu, bentar lagi saya keluar karena ada kerja pagi." ucap Ferdiansyah yang membuat Ara memberhentikan kerjaannya lalu menatap Ferdiansyah.
"Baiklah, hati-hati dan habiskan sarapan abang." ucap Ara tersenyum.
"pas mau di bilang pergi kerja baru nyaut." batin Ferdiansyah.
Bik tutik yang melihat kelakuan Ferdiansyah hanya bisa geleng-geleng kepala. Ferdiansyah seperti anak-anak yang minta perhatian dari sang ibu. Tetapi Ara acuh tak acuh dengan omelan dari Ferdiansyah.
Ferdiansyah menikmati sarapannya dengan hikmat dan sesekali ia melihat ke arah dapur.
"Aku pergi..." teriak Ferdiansyah, Ara langsung keluar dari dapur.
"Hati-hati." ucap Ara
"Hem.... Nggak antar suaminya gitu mau pergi kerja?"
"emangnya harus?"
"Ntah, saya kurang tau juga tapi... setau saya apabila istri..." terpotong
"Baiklah." ucap Ara menghantarkan Ferdiansyah sampai pintu depan.
"Salam."
"Salam?"
"Iya."
Ara langsung menyalami Ferdiansyah, sedangkan Ferdiansyah tersenyum.
"Bagus." Ferdiansyah, Ara merasa agak aneh dengan kelakuan Ferdiansyah pagi ini. Belum sampai di situ, Ferdiansyah menepuk dua kali kepalanya yang tertutup jilbab dengan lembut.
Ara yang mendapat perlakuan seperti itu terkejut dan mengerjapkan kedua matanya sebanyak 2 kali.1
"Saya berangkat, assalamualaikum."
"wa..waalaikumussalam." ucap Ara yang masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
"Apa dia kerusakan jin tomang?" batin Ara yang masih menatap mobil Ferdiansyah keluar dari pagar.
"Mudah-mudahan yang masuk adalah hal kebaikan, karena sebelum pergi ia baca salam, Aamiin." Ara mengaamiin kan doanya.
Sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
__ADS_1
jangan lupa vote dan follow