
Tibanya di Bioskop wajah Ferdiansyah begitu dingin, dan setelah percakapan di mobil mengenai Khanza dan juga papanya, Ferdiansyah tidak berbicara sama sekali dengan Ara.
"apa yang bagus dari duda anak satu tu? udah jelas laki masih lajang malah suka duda."batin Ferdiansyah kesal.
Banyak orang yang antusias dengan film tersebut, karena pemainnya adalah artis muda yang terkenal dan juga berbakat. Dan juga filmnya di angkat dari cerita novel yang sedang viral.
Dan pembelian tiketnya dari film tersebut juga banyak terjual. selesai menyaksikan film tersebut pemain dari film tersebut ke depan mengucapkan terimakasih.
karena merasa bosan, Ara keluar dari sana dan ingin membeli sesuatu yang membuatnya senang. Ara menikmati ayam Krispy dengan minuman Boba.
"bukan main enaknya." menikmati makanannya.
sudah tidak terasa Ara berada di sana sudah setengah jam, selesai makan ia duduk sambil membuka pesan dari beberapa pelanggan yang ingin memesan kuenya.
"kamu dari tadi Abang cari ternyata disini." Ara yang mendengar langsung melihat pemilik suara tersebut.
"sudah selesai?"
"sudah."
seorang wanita muncul di belakang Ferdiansyah siapa lagi kalau nggak Auristela. pandangan orang-orang di sini tertuju kepada kedua artis tersebut.
"Abang pulang dulu soalnya Au sedang sakit. kamu pulang sendirinya karena Abang mau antar Au ke rumah sakit."
"Tapi... baiklah."
"ini uang untuk pesan taksi." Ferdiansyah memberikan 3 lembar pecahan seratus ribu. Dan langsung pergi.
Ara melihat uang tersebut di atas meja dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dan Ara juga melihat Ferdiansyah dan Auristela berjalan beriringan keluar dari tempat tersebut.
Dimata Ara, Ferdiansyah begitu peduli kepada Auristela. Bahkan ia rela mengantar ke rumah sakit dan meninggalkan istrinya sendiri di mall.
ketika melihat Ferdiansyah pergi seorang anak perempuan sedang menatap Ara dengan senang, anak tersebut langsung menghampiri Ara.
Khanza berjalan-jalan bersama papanya di mall, niat awalnya ia ingin menonton agar bisa bertemu dengan sang bunda tetapi di larang oleh papanya. Dan akhirnya ia hanya berjalan-jalan sambil berbelanja makanan, mainan dan lainnya yang ia senangi.
"unda....." Khanza dengan senang.
"eh ada Khanza, Khanza ke sini sama siapa?"
"cama papa, itu papa." menunjuk papanya yang berada di pintu masuk.
"kamu di sini juga?"
"ya bang."
"Khanza mau makan?" ucap Adnan, Khanza yang melihat piring Ara
"Khanza mau makan? sini duduknya. Bunda balik dulu ya soalnya udah lama di sini."
"nggak, anza nggak mau makan. Anza mau ulang aja pa cama unda."
"tapikan Khanza belum makan, gini aja papa pesankan makanan nantik kita langsung pulang bareng bunda gimana?"
"oke."
"nggak papakan Ara?"
__ADS_1
"iya nggak papa kok bang."
setelah memesan makanan, awalnya ingin pulang dengan ojek dan berakhirlah Ara di mobil Adnan.
setibanya di rumah, Ara tidak melihat mobil Ferdiansyah ia merasa sedih dan lesu. ia buang pikiran sedih nya lalu ia membersihkan rumah Dengan menyetel lagu yang cukup keras sambil berjoget-joget.
tak lama Ara pulang, Ferdiansyah masuk ke dalam rumah dan mendengar suara orang yang bernyanyi dengan cukup keras. Ferdiansyah melihat pemandangan yang jarang ia dapati.
ia melihat Ara yang berjoget-joget dengan semangat sambil menyanyi seakan-akan sapu yang berada di pegangannya adalah mic. Tidak sampai di situ Ferdiansyah terkejut dengan gaya cool Ara yang seolah-olah ia sedang membelakangkan rambutnya dengan tangan padahal ia memakai jilbab.
(terbayangkan yang kayak cowok cool itu loh, kalau tak terbayang kalian tau Jimin BTS kan. yang sering di lakukan Jimin yang suka belakangin rambutnya itu Lo)
Ara yang sedang semangat-semangatnya berjoget menoleh ke belakang, yang Ara dapati adalah wajah Ferdiansyah yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Ara. seketika jogetan Ara berhenti dan sapu yang di tangannya jatuh.
"Abang baru datang?Abang mau dibuatin minum?" Ara bertanya sambil nyengir karena di lubuk hati paling dalam ia malu, apakah Ferdiansyah melihat kelakuan nya.
"saya datang dari tadi."dengan mode dingin
..."ondeh malu nyoooo.batin Ara"...
"tawarannya boleh juga." Ferdiansyah berjalan ke lantai 2. Ara yang di belakang bernafas lega karena Ferdiansyah tidak membahas jogetannya.
"joget kamu lumayan juga." kata Ferdiansyah sedikit teriak di tengah tangga, Ara yang akan menuju ke dapur langsung lemas mendengar nya.
"yakk......"teriak Ara. Ferdiansyah yang mendengar tertawa sampai ke kamar.
***
Meja makan sudah di penuhi oleh lauk pauk, malam ini mereka makan berdua di rumah dan itu semua keinginan Ferdiansyah, mulai dari sambal, sup ayam, dendeng lambok dan menu lainnya.
"Kenapa lihatin saya kayak gitu?"
"tidak ada." elak Ara.
"nggak pernah lihat saya makan nambah?"
"bukan gitu."
"trus?" Ferdiansyah meletakkan sendok dan garpu ya di atas piring. Ferdiansyah melihat Ara dan pandangannya tertuju pada tangan Ara yang di atas piring, Ara memang sering makan menggunakan tangan berbeda dengan Ferdiansyah, Ara yang salah paham langsung menggenggam tangannya.
"aduh..... gimana ni? dia lihat tangan ku lagi."batin Ara.
"Tanganmu kenapa? sakit?"
"Nggak."jawab Ara cepat.
"Trus kenapa? saya lagi makan Ara, jangan buat saya marah."
"lebih baik jujur dari pada kenak marah, tapi kalau jujur kenak marah juga nggak ya?"batin Ara berkecamuk.
"Ara mau ngomong jujur, tapi janji Abang nggak marah." tertunduk lesu.
"ya saya nggak marah."
"Ara....Ara... mau... bilang.... kalau...cincin pernikahan yang Abang kasih hilang." kata hilang di ucap dengan nada lirih, meskipun begitu masih terdengar oleh Ferdiansyah. Ara yang menunduk tidak mendapatkan respon sedikitpun dari Ferdiansyah sesekali mengintip bagaimana ekspresi Ferdiansyah, yang Ara dapati hanyalah wajah datar Ferdiansyah.
"Abang janji nggak bakal marah kan kalau Ara jujur."
__ADS_1
"gue kerjain."batin Ferdiansyah tersenyum menang.
"kamu tau harganya berapa?" ucap Ferdiansyah menahan tawa, sebenarnya ia tidak masalah dengan harganya tapi niat ingin mengerjai maka pertanyaan inilah yang cocok.
"Maaf bang." ucap Ara menggeleng.
"Saya pesan cincin itu khusus. kenapa sampai hilang?"
"tadi Ara cuci piring, jadi di lepaskan di letak dekat dapur, pas ambil malah nggak ada. udah di cek semuanya tapi nggak ada. Nantik Ara ganti bang."
"Mau ganti pakai apa?"
"uang lah."
"mau sampai kapan?"
"maksudnya? apa semahal itu?"
"245."
"ribu?"
"juta."
"APA...serius? masak sampai segitunya." Ara terkejut.
"harga mobil di tangan aku, awalnya Makai rasanya biasa, tapi setelah tau harganya lemas jari ku. Gimana cara gantinya? Mau sampai kapan?"batin Ara.
"jadi kamu maunya apa?"
"mau ganti, tapi nggak bisa langsung. Uangnya kebanyakkan. Eh tapi kan itu cincinnya untuk Ara jadi nggak perlu di ganti, mau hilang mau di jual kan urusan Ara, benar nggak?" Ara berfikir dengan ragu, dan sedikit bingung.
"Seharusnya meskipun milik mu, mau di jual ataupun hilang harus memberitahu saya, karena saya suami kamu."
"ada benarnya juga, sekarang Ara sudah kasih tau dan juga minta maaf, jadi solusinya gimana?"
"Tapi belum saya maafkan."
"jadi?"
"mau di maafkan?"
"maulah."
"ada syaratnya."
"syaratnya apa?"
"nyanyi"
"APA?" Ara terkejut
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1