Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Ih abang jahat


__ADS_3

suasana hati Ferdiansyah bisa dikatakan masih kesal di tambah ketika pulang seakan-akan ia di cuekin dan juga melihat ara bersama Adnan tampak seperti keluarga yang harmonis.


***


Cuaca malam hari ini cukup dingin, Ferdiansyah menikmati acara menonton tv, sambil membaca jadwal pekerjaan yang di kirim oleh manajernya.


Ara dan juga hafiz sibuk dengan dunia mereka yaitu belajar bersama di ruangan keluarga tepatnya mereka di karpet sedangkan Ferdiansyah di kursi.


"aunty hafiz ngantuk."


"kalau gitu hafiz langsung ke kamar ya, sebelum itu gosok gigi sama cuci muka, tangan dan kaki terlebih dahulu. "ucap ara yang membereskan peralatan mereka.


"oke aunty cantik." ucap hafiz tersenyum, Ferdiansyah yang mendengar langsung membuat ekspresi wajah mual.


"kenapa?" ucap ara tidak terima


"asal abang tau kalau anak kecil ngomong itu jujurbtampa ada rekayasa, bukan seperti abang penuh dengan fiktif belaka." ucap ara yang masih mengemas peralatan tadi.


"asal kamu tau kalau tidak fiktif belakan maka tidak akan ada namanya film, sinetron, drama ataupun lainnya."


"no coment."


"susah kalau bicara sama kamu." ucap Ferdiansyah kesal, ara yang mendengar tidak ingin menjawab karena akan membuat dirinya capek.


"kenapa nggak di jawab? kalau orang ngomong harus di jawab." jelas Ferdiansyah


"nantik kalau di jawab, situ ma5ah."


"ya marah karena kamu nggak jawab." ucap Ferdiansyah masih kesal.


"di jawab kesal, tak di jawab kesal, maunya apa sih."batin ara.


"jangan menggerakkan di dalam hati, itu tidak boleh." jawab Ferdiansyah melihat ara yang asik dengan kegiatan beberesnya. Tanpa di komando ara berdiri dan ingin meletakkan barang-barang yang sudah ia bereskan.


"kamu mau kemana?suami ngomong malah pergi."Ferdiansyah mencekal tangan Ara dan itu membuat peralatan yang ia bereskan tumpah dan berceceran. Keduanya sama-sama diam dan tertuju pada benda yang berceceran itu.


"ups sory.. " pelan Ferdiansyah


Tv yang menayangkan beberapa hal viral pun sontak mengeluarkan sound yang tengah viral, seakan-seakan itu adalah backsound dari kejadian yang baru saja terjadi.


ih abang jahat aku tu cinta berat sini dong dekat-dekat ku pegang erat-erat....


Ara yang tau dengan lagu tersebut langsung menyambungnya dengan kata-kata yang menyelenggarakan.


"biar aku selendang abang." mengucapnya dengan irama lagu.


"ha?"


"kenapa?bukannya bantuin malah berdiri aja."


"ya." Ferdiansyah membantu ara dan ia juga yang membawa peralatan tersebut.


"kenapa nggak makan martabaknya?"


"ha? martabak?"


"ha, hi, hu."


"jadi martabaknya buat ara?"


"bukan itu untuk orang, jangan kegeeran."


"oh tadi ara pikir bukan untuk ara, minta izin mau makan tadi, abang tidur dan tadi juga pergi ke taman jati nggak sempat ngomongnya."


"yaudah buruan makan."

__ADS_1


"oke, terimakasih bang."


Ara menyiapkan 2 piring karena ia akan makan martabak telur yang sangat menggiurkan di tambah isiannya begitu padat. Kalau di lihat-lihat pasti harganya lumayan untuk sebuah martabak telur.


"ini untuk abang." menyerahkan piring berisi martabak.


"kamu saja, saya nggak makan ini."


"kenapa? takut gemuk?"


"bukan, saya kurang suka."


"trus kenapa di beli?"


"ya siapa tau ada yang suka, mangkanya saya beli."


"misalnya nggak ada jang suka?"


"tinggal bagi ke orang yang suka, kalau nggak buang." ucap Ferdiansyah tanpa memikirkan ucapannya.


"orang kaya bebas, tapi nggak gini juga, masak di buang."batin ara yang


"kenapa?buruan makan?"


"ya ini mau makan, tapi...." ara ingin memasukkan makanan tersebut tetapi tidak jadi karena ia segan kepada Ferdiansyah. Masak dirinya makan sedangkan Ferdiansyah tidak.


"kenapa lagi?" sudah habis kesabaran Ferdiansyah menghadapi Ara.


"abang beneran nggak mau?ini enak lo.."


"nggak saya nggak suka."


"kenapa?"


"karena pedas, puas kamu?"


"itu terpaksa."


"oh..."


Ferdiansyah melihat Ara makan begitu lahap, dan tiba-tiba saja ia ingin mencicipi martabak tersebut setelah melihat ara yang makan begitu lahap. Dapat di lihat dari tahapan dan juga jakunnya naik turun seakan-akan ia sedang memakannya.


Tanpa berbicara tiba-tiba saja Ferdiansyah mengambil martabak di kotak lalu melahapnya tanpa melihat ekspresi wajah ara yang tersenyum mengejek. Dan Ferdiansyah ingin sekali memakan martabak yang berada di piring ara.


"Katanya nggak doyan tapi di comot juga."


"Terserah saya, ini milik saya."


"ya ya ya ini milik bapak Ferdiansyah." ucap Ara dengan hormat. "Tapi pak kalau bapak mencicipi dengan kuah cuka akan terasa lebih nikmat pak." usul Ara yang masih berbicara dengan formal.


"Boleh."


"Baiklah pak tunggu sebentar biar saya tuangkan kuahnya terlebih dahulu."


"lama."ucap Ferdiansyah langsung mengambil piring dan juga sendok ara, tanpa menunggu ia langsung melahapnya. Ara yang melihat terkejut karena sendok tersebut adalah bekas mulutnya.


"eh." ara terkejut dan tidak bisa mengeluarkan kata-kata.


"kenapa? kamu nggak suka saya makan punya kamu?"


"bukan gitu....maksud ara...itu bekas mulutnya ara."


"jadi?"


"jadi....nggak boleh." tegas ara.

__ADS_1


"kenapa, kamu kan istri saya, sah-sah aja lebih dari ini pun halal." ucap Ferdiansyah dengan wajah biasa saja. Ara yang mendengar hal tersebut bengong plus menutup badannya dengan menyilangkan kedua tangannya.


"kenapa."


"ih abang jahat aku tu cinta berat sini dong dekat-dekat." seketika lagu tersebut keluar saja dari hp ara yang menampilkan sw seseorang. Ara yang mendengar langsung tertuju ke hpnya yang tertekan sedangkan Ferdiansyah menatapnya dengan intens.


"kamu kalau kasih kode keras juga ya." ucap Ferdiansyah tersenyum. "panggil abang sayang segala." ucapnya lagi menggoda ara.


"ini cuma tertekan."


"Gausah mengelak, kalau sayang bilang sayang aja. Abang pun sayang adek...." ucap Ferdiansyah menggoda ara yang tampak tidak terima ucapan Ferdiansyah.


"Gak usah bilang gitu, dengannya aneh."


"Wajar suami bilang sayang sama istri sendiri." bela Ferdiansyah.


"Wajar sih, tapi nggak Wajar untuk kita berdua. Kesannya aneh dan.... pokoknya aneh aja."


"Kamu nggak mau di bilang sayang sama abang?" godaan Ferdiansyah.


"nggak."


"masak." ucap Ferdiansyah berdiri lalu menghampiri ara. Posisi saat ini adalah Ferdiansyah di samping ara.


"Jauh-jauh sana, ara mau makan." mendorong badan Ferdiansyah tapi tidak mempan.


"Dekat-dekat bisa kali, sini abang suapkan adek." ucap Ferdiansyah mengambil sendok bekas ia dan ayana dan akan ia masukkan ke dalam mulut ayana. Ayana yang melihat itu langsung membungkam mulutnya karena ia tidak mau.


kata orang-orang kalau sendok satu berdua tanpa mereka sadari hal tersebut, mereka sudah melakukan ciuman, begitu ara mendengarnya.


Ferdiansyah yang mengetahui ara menyukai kucing dan langsung saja idenya keluar. Ia mengeluarkan suara untuk memanggil kucing seakan-akan ada kucing di dekat mereka. Dan benar saja ara langsung melihat ke kanan sambil membuka mulutnya. Kesempatan tersebut langsung saja Ferdiansyah ambil untuk memasukkan martabak di sendok yang di pegang. Secepat kilat Ferdiansyah menutup mulut ara dengan tangannya lebih tepatnya menjepit mulut Ara dengan tangan dan mulut ara bentuknya seperti bebek manyun.


"kunyah.... sayang di buang mubazir." ucap Ferdiansyah santai masih menjepit bibir Ara, ara yang mendengar mengunyah nya dengan wajah kesal.


"Bagus anak pintar, anak siapa sih." ucap Ferdiansyah memindahkan tangannya ke pipi Ara lalu mencubitnya dengan gemas. Wajah Ara masih kesal dan makanannya sudah di telan.


"Nggak usah pasang muka begituan, jelek." ucap Ferdiansyah berbanding terbalik dengan hatinya.


"kok bisa gemes sih."batin Ferdiansyah.


"Biarin, siapa juga yang mau sama orang jelek kayak Ara." ucap Ara.


"Udah saya mau ke kamar, kamu bereskan semuanya. Dan habiskan martabaknya karena saya sudah beli jangan sampai mubazir."


"ya."


"ucap apa?"


"apa?"bingung ara dengan perkataan. Ferdiansyah. "oh makasih martabaknya bang."ucap ara masih dengan wajah sedikit kesal.


"masak bilang makasih wajahnya kayak gitu,yang ikhlas dong."


"kan tadi udah di bilang, dari awal juga ara bilang makasih."


"Tapi beda, saya maunya yang sekarang."


"dasar artis labil."batin ara.


"ayo saya mau dengar."


"Terimakasih abang Ferdiansyah yang baik hati." ucap Ara dengan senyuman yang di buat-buat. Mendengar hal tersebut Ferdiansyah tersenyum lalu mengusap kepala Ara yang tertutup jilbab. Ara yang mendapat perlakuan seperti itu terdiam.


"Kamu cepat bereskan, setelah itu tidur." ucap Ferdiansyah seperti suami yang perhatian, tidak ada godaan, ataupun rayuan. Tanpa Ara sadari ia mengangguk mendengar ucapan Ferdiansyah.


Sekian dulu ceritanya

__ADS_1


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.


jangan lupa vote dan follow


__ADS_2