Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Bunda


__ADS_3

Hafiz tertidur di ruang keluarga yang di sana masih bersama Ara. Ara juga masih melipat-lipat baju pemberian dari Ferdiansyah.


"eh udah tidur aja." ucap Ara yang mengecek Hafiz tidur di atas karpet sambil memegang mainan mobil-mobilannya.


"nggak kebayang aku kalau punya anak, pasti ginjal rasanya." batin Ara mengusap-usap kepala Hafiz.


Ara melihat jam masih menunjukkan pukul setengah 9 Malam. Ara membereskan mainan Hafiz yang berserakan. Tak lama suara hp miliknya berdering di sana tertera mama nya yang menelfon.


"assalamualaikum ma."


"waalaikumussalam ara."


"Giaman kabarnya ma?"


"alhamdulillah sehat, kamu gimana?"


"alhamdulillah sehat juga ma."


tjba-tiba saja panggilan dari mamanya berubah menjadi panggilan video call. Di seberang tertampil wajah mama dan papanya yang sedang duduk di meja.


"Sehat nak?"


"alhamdulillah sehat pa, papa gimana?"


"alhamdulillah sehat juga."


"mana suami kamu ra?" ucap ibu Utami.


"Kamar ma, mama sama papa sudah makan?"


"sudah."


mereka mengobrol cukup lama, saling menanyakan kamar, dan juga menceritakan apa saja kegiatan yang mereka lakukan. Ara begitu senang dengan obrolan yang mereka lakukan di tambah lelucon yang adiknya katakan.


"udah cocok kak, jadi mama muda." ucap Kahfi adiknya ara ketika ara menunjukkan wajah Hafiz yang sedang tidur. Ara juga menjelaskan kepada orang tuanya bahwa Hafiz tinggal bersama mereka.


Orang tua Ara senang, melihat anaknya sekarang makin beranjak dewasa. Dan ia juga melihat jiwa ke ibuan Ara keluar.


"Di jaga Hafiznya baik-baik."ucap mama Ara.


"Ya ma."


Asyik video call ara tidak tau kalau Ferdiansyah menuju ke ruang keluarga menuju ke tempat Hafiz. Ferdiansyah tidak tau apa yang di lakukan Ara karena ia mengecek pesan dari hpnya.


Ferdiansyah sudah di samping ara yang masih membalas pesan dari seseorang, ia begitu serius sampai-sampai ara yang melihatnya dengan raut wajah bingung.


"Ara." ucap Mama Ara di telfon yang membuat keduanya langsung menuju ke arah sumber suara.


Ferdiansyah menatap layar hp ara yang menampilkan wajah kedua mertuanya. Ia langsung meletakkan hpnya dan langsung menyapa kedua mertuanya.


"assalamualaikum ma, pa."


"waalaikumussalam nak Ferdiansyah." ucap mereka serentak.


Ntah memang sudah profesional, Ferdiansyah langsung mengambil alih pembicaraan. Yang awalnya ara yang berbicara dengan kedua orang tuanya sekarang Ferdiansyah yang yang tampak semangat berbicara dengan kedua mertuanya.


Bahkan papa dan mama nya ara sampai tertawa mendengar ucapan Ferdiansyah. Kahfi juga beberapa kali melontarkan lelucon membuat Ferdiansyah membalasnya dengan lelucon juga.


"kalau gitu papa tutup dulu telfonnya." ucap papa ara.

__ADS_1


"ya pa." Jawab Ferdiansyah


"assalamualaikum."


"waalaikumussalam pa, ma." ucap ara dan Ferdiansyah bersamaan.


Ara mengambil hpnya yang berada di atas meja, karena tadinya hpnya di letakkan di atas meja dengan bersandarkan gelas. Ferdiansyah menatap ara dengan tanda tanya.


"kenapa lihatnya gitu?"


"nggak ada, tadi yang nelfon kamu atau orang tua kamu?"


"mama dulu."


"kenapa?"


"mana Ara tau, mungkin kangen sama Ara. Secara Ara orangnya ngangenin tau." ucap Ara pede, lalu Ferdiansyah menatap ke arah Hafiz yang lagi tidur. Ia tidak sadar selama mengobrol bersama orang tua Ara, ternyata Hafiz tidur.


"sejak kapan Hafiz tidur?"


"Dari tadi sekitar 30 menit yang lalu."


"oh pantesan diam, damai rumah."


"angkatin ke kamar." ucap Ara menyuruh Ferdiansyah mendapat perintah tersebut Ferdiansyah menunjukkan ekspresi wajah yang terkejut. Sedangkan Ara membereskan peralatan yang berada di ruang keluarga.


"kamu suruh saya?" ucap Ferdiansyah tidak percaya sambil menunjuk dirinya.


"ya, trus siapa lagi? Masak Ara yang angkat. Itu sama aja abang tega sama Ara. Lihat Ara udah beberes, sedangkan abang di suruh angkatin Hafiz aja nggak mau." ucap Ara mengomel.


"ya, saya angkat sekarang." ucap Ferdiansyah. Ketika Hafiz sudah di gendongannya ia melihat Ara kembali.


"Ayah angkat dedeknya ke kamar, bunda beberes dulu." ucap Ara manis sambil terbayang ara memakai baju yang baru saja ia beli.


"ya bunda, ayah tunggu di kamar."ucap Ferdiansyah tersenyum-senyum*.


"bang?bang? kenapa senyum-senyum sendiri?" ucap Ara yang melambai-lambaikan tangannya di depan Ferdiansyah. Hal tersebut membuat lamunan Ferdiansyah langsung buyar.


"ya bun?" ucap Ferdiansyah tidak sadar dengan ucapannya.


"bun?bun apa bang?" ucap Ara terkejut karena Ferdiansyah memanggilnya dengan sebutan (bun).


"emangnya saya bilang apa tadi?" ucap Ferdiansyah mengelak karena ia takut Ara salah tingkah. Dan ia juga menggeruti kenapa harus memanggil Ara seperti itu.


"abang bilang bun, bun apa bang? bunda?"tebak Ara. " perasaan abang panggil mama ke mama."


"Nggak kok, saya mau bilang ke kamu kalau buntut soup enak kalau malam-malam gini."


"Bukannya soup buntut ya bang?" ralat Ara.


"Terserah yang penting intinya itu."


"Abang masih lapar?kalau gitu pesan online aja bang atau mau ara pesankan?"


"Hem." ucap Ferdiansyah membawa Hafiz ke kamar miliknya, dan ia juga ingin mengelak dari pertanyaan Ara yang membuat dia akan bungkus. Dan jalan satu-satunya adalah menghantarkan Hafiz ke kamar.


Ara Asyik sudah mendapatkan pesanan yang di inginkan oleh Ferdiansyah dan di sana juga ada menu yang membuat Ara tergiur juga dan akhirnya ia juga memesan menu tersebut.


Sekitar menunggu selama 15 menitan, hal yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Ara begitu senang mendapat notifikasi bahwa pesanan datang. Ia menghampiri drive-in pengantar makan dengan semangat 45.

__ADS_1


"Terimakasih pak." memberikan uang tips kepada Bapak tersebut.


"Bukannya sudah di bayar mbak?"


"ini buat bapak."


"Terimakasih banyak mbak, semoga di mudahan rezeki nya."


"aamin pak."


"kalau gitu saya permisi..." ucap driver tersebut terpotong karena seseorang di belakangnya ara.


"siapa?" ucap Ferdiansyah, yang membuat driverdN juga Ara menatap. Tetapi Bapak tersebut menatapnya tidak percaya.


"Artis Ferdiansyah?"ucapan Bapak tersebut membuat Ferdiansyah menatapnya dengan tersenyum.


"jadi mbak? istrinya mas Ferdiansyah?" ucap Bapak tersebut tidak percaya datang ke rumah Ferdiansyah yang terkenal tersebut.


"ya pak." ucap Ara dengan nada yang terbilang ragu-ragu.


Setelah berbincang sedikit karena Bapak tersebut ingin meminta foto dan juga tanda tangan Ferdiansyah. Dan akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah. Ara langsung ke ruang makan dan mengambil peralatan makan.


"kamu pesan apa?" ucap Ferdiansyah yang berada di meja makan melihat Ara menuangkan soup buntut ke dalam mangkuk.


"Bukannya abang minta pesankan soup buntun?"


"kapan?perasaan..." ucap lirih Ferdiansyah tapi bisa di dengar Ara yang membuat Ferdiansyah mendapatkan tatapan tajam dari Ara. "oh ya saya lupa." ucapnya kembali karena takut nantinya Ara akan marah.


"ini soup ya, silahkan di nikmati tuan selagi masih panas." Ara kumat dengan berkata secara formal.


"oh ya terimakasih." ucap Ferdiansyah duduk lalu ia melihat Ara yang juga mengeluarkan makanan dari kantong belanja. Tampaknya makanan yang Ara pesan lebih menggiurkan.


"kamu pesan Tomyam?"


"hem, tadi lihat menu tiba-tiba aja tergiur."Ara begitu semangat ingin makan.


"Tukar." tiba-tiba saja Ferdiansyah merebut mangkuk ara lalu menukar dengan miliknya.


Ara yang melihat makanannya di tukar tidak terima dengan hal tersebut, terjadilah adu argumen kedua belah pihak.


"siapa yang beli?"


"Ara."


"Tapi uang saya."


"Tapi ara yang beli, bukannya tadi abang mintanya soup buntut tapi sekarang kok tomyam ara di ambil?"


"saya nggak mau soup buntut."


"trus kenapa bilang bun, bun, bun tadi?"


"saya bilang bunda, bukan soup buntut." ucap Ferdiansyah tanpa pa tersadar dengan ucapannya.


"Bunda?" ucap Ara pelan dengan wajah bingung, Ferdiansyah yang mendengar Ara mengucapkan kata bunda mereka berdua saling menatap satu sama lainnya.


Sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

__ADS_1


jangan lupa vote dan follow


__ADS_2