
Ara begitu bahagia ketika mereka bertiga shalat asmara berjamaah. Ferdiansyah mengambil hpnya lalu ia memilih dress rumahan untuk seorang hijaber. Dan tanpa sepengetahuan Ara ia memesannya.
***
Dan ini adalah hal ke dua kalinya mereka berjamaah shalat. Sesudah shalat maghrib mereka makan bersama di meja makan, lagi-lagi Ferdiansyah melihat Ara. Ferdiansyah memperhatikan pakaian yang di pakai oleh Ara.
Setau dirinya perempuan menyukai pakaian dress ataupun daster modern ketika di rumah. Tapi itu berbeda untuk Ara, Ara sering memakai kulot, training dan juga rok yang dipadukan oleh baju kaos lengan panjang longgar.
Memang awal menikah Ferdiansyah jarang memperhatikan cara berpakaian istrinya tapi hati ini ia baru sadar. Meskipun Ara berpakaian seperti itu, tapi tidak mengurangi kecantikannya tapi Ferdiansyah merasa sedikit aneh saja.
"Apa kamu berpakaian seperti itu?" ucap Ferdiansyah di sela-sela mereka makan. Ara yang mendapat pertanyaan yang tiba-tiba saat ia mengunyah makanannya langsung menatap Ferdiansyah dengan mengerutkan kedua alisnya.
"kamu lanjut aja dulu, nantik di jawab." lanjut kata Ferdiansyah yang melihat mulut Ara yang masih ada makanan.
Selesai makan dan peralatan makan sudah di bereskan mereka berdua melanjutkan obrolan mereka. Hafiz pergi ke ruang keluarga untuk menonton film.
"jawablah."
"jawab apa?"
"soal yang tadi saya nanya di meja makan."
"oh itu... jawabnya karena Ara nyaman aja sudah."
"setau saya perempuan suka pakai dress atau daster ketika di rumah."
"Iya juga sih, pas di kos pun teman-teman Ara kalau di kos sering pakai daster."
"saya nggak nanya teman kamu, yang saya tanya kamu. Kenapa nggak pakai daster atau dress rumahan?"
"karena nggak pernah." jawab Ara yang membuat Ferdiansyah menatapnya dengan tidak percaya.
"kenapa?nggak percaya apa yang Ara bilang. Baiklah kalau abang nggak percaya abang bisa tanya sama mama dan papa, kalau nggak percaya lagi abang bisa lihat baju-baju Ara."
"stop... sudah. Jadi kamu kalau di rumah dan tidur beginian?"
"kalau di rumah iya,.kalau tidur Ara pakai baju tidur, ih kenapa sih tanda-tanya soal baju Ara? abang mau belikan Ara baju?" kata Ara
ting tong (anggap bel)
mendengar suara bel Ara langsung membuka pintu, Ferdiansyah yang melihat hal itu hanya bisa gelang-geleng kepala sambil tersenyum.
ternyata yang tiba adalah tukang paket, Ayana juga tidak merasa membeli sesuatu lewat online. Tapi nama yang tertera di sana adalah miliknya.
"mungkin kakak, atau adek mbak yang pesan tapi dengan nama mbak."
__ADS_1
"apa iya?tumben kirim paket." batin ara.
"mungkin ya mas, kalau gitu saya terima paketnya, terimakasih." ucap Ara tidak ingin berbelit, dan ia juga bisa tanya dengan Ferdiansyah masalah paket tersebut.
"ya mbak sama-sama."
"siapa?" ucap Ferdiansyah melihat Ara memegang bungkusan paket.
"tukang paket." jawab Ara meletakkan kotak tersebut di atas meja. Lalu mengambil handphone miliknya.
"ini paket abang?"
"enggak, emangnya atas nama siapa?"
"nama Ara, tapi Ara nggak ada pesan paket."
"udah di bayar?"
"sudah."
"kakak, atau nggak adek kamu yang ngirim."
"nggak, ini Ara lagi chat kata kakak sama adek Ara nggak." melibatkan chatnya bersama kakak dan adiknya.
"buka aja." suruh Ferdiansyah karena ia ingin tau ekspresi Ara mendapat kejutan dari nya.
"kamu ngapain?" melihat Ara yang mengetik di hpnya tak lama ia menelfon. Tak lama suara hp berbunyi yang berasal dari sofa yang di duduki Ferdiansyah.
Ara menatap hp Ferdiansyah yang tertera namanya dan Ara juga mengecek kembali hpnya. Ferdiansyah masih tidak mengerti apa yang di lakukan Ara.
Ara langsung mengakhiri panggilan, ia menatap Ferdiansyah dengan tatapan mengintimidasi.
"kenapa lihat saya gitu?" selot Ferdiansyah.
"apa maksud abang kirim paket gini atas nama Ara?"
"maksud kamu?"
"Ara tau, ini paket abang kan."
"Jangan asal nuduh."
"Gimana nggak nuduh, jelas-jelas nomor pengirim ini nomor abang, dan Ara barusan nelfon."
"kok bisa nggak kepikiran ke nomor hp, bisa-bisanya dia jeli." batin Ferdiansyah.
__ADS_1
"oke, saya ngaku itu punya saya tapi untuk kamu."
"APA?" teriak Ara senang. "so sweet ya... kasih Ara paket pakai nggak ngaku segalanya." ara menyenggol pundak Ferdiansyah, Ferdiansyah yang mendapat perlakuan Ara seperti itu menatapnya dengan tercengang, memang Ara tidak bisa di tebak.
Tanpa pikir panjang Ara langsung membukanya, ia tidak takut membukanya karena ada pemilik paket di dekatnya.
Ara mengambil bungkusan kain yang di dalam plastik, Ferdiansyah masih melihat yang Ara lakukan. Ara menatap kembali Ferdiansyah dengan menyakitkan matanya.
"buruan."
"ya." membukanya lalu memegangnya sambil berdiri dan menyesuaikan dengan tubuhnya.
seperti inilah kira-kira paket yang di terima Ara, di dalamnya ada 3 pcs baju seperti gambar di atas. Tapi saat ini Ara memegang warna merah maroon.
"Apa ni?"
"bajulah, kamu hidup di zaman apa? masak beginian nggak tau?"
"ya tau, ini untuk apa?"
"untuk di pakai Ara.." ucap Ferdiansyah dengan wajah kesal. "kamu bisa pakai ini di rumah, kamu bisa padukan sama legkng atapun celana kulot kamu."
"Ara masih banyak baju kok."
"kalau di kasih seseorang harus di terima, namanya rezeki nggak boleh di tolak."
"ya..ya, terimakasih pak Ferdiansyah atas kemurahan hati anda yang sangat baik, semoga apa yang anda lakukan di balas kebaikannya."
"nggak usah formal, saya cuma aneh aja lihat kamu pakai begituan di rumah. Setau saya cewek-cewek itu di rumah pakai dress bukan begini." melihat penampilan Ara.
"oh ya? jadi selama ini abang diam-diam perhatikan penampilan Ara? wah-wah so sweet banget sih." ucap Ara yang terkejut dengan wajah imut di tambah dirinya memegang pipi Ferd6ketiak mengucapkan kata imut.
"sudah." melepaskan tangan Ara deri pipinya. "saya nggak merhatiin kamu, tapi nggak enak di lihat itu aja."
"Bukannya pakaian Ara masih sopan? nggak aneh-aneh kok." ucap Ara yang memperhatikan penampilannya.
Memang penampilan Ara tidak ada yang salah, tapi Ferdiansyah melihat penampilan Ara seperti anak-anak remaja, dan ia merasa menikah dengans emang anak remaja. Padahal umur mereka hanya berjarak 6 tahun saja.
Ferdiansyah pergi ke kamarnya, dan ia tidak mau mendengar ocehan Ara lagi. Ara yang melihat Ferdiansyah meninggalkannya tidak peduli dan ia melanjutkan kegiatannya membuka baju dan mencocokkan ke badannya.
"bagus juga, pandai juga dia belanja. Bahannya juga halus pasti harganya lumayan." ucap Ara tersenyum.
Sekian dulu ceritanya
__ADS_1
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow