Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Di kamar Ara sibuk dengan cermin sambil melihat rambutnya. Bukannya tidur Ara asyik dengan menata rambutnya padahal jam sudah larut malam.


"rambut orang cantik begini di bilang jelek, sakit mata tu artis. Memang rambut kawan-kawannya berkilau tapi itukan butuh perawatan. Lah Ara aja boro-boro perawatan, masuk salon aja nggak pernah. Eh pernah nggak ya?" monolog Ara di depan cermin sambil berfikir apakah ia pernah ke salon.


"pernah tapi tukang salonnya ke hotel, itupun pas hari pernikahan. ah... pusing mikirnya mending tidur dari pada mikirin omongan artis. Awas aja kalau udah perawatan pasti cantik."


Ara melanjutkan tidurnya sampai subuh, subuh kali ini ia agak ke siangan yaitu jam setengah 6 karena tidur sudah larut malam. Ferdiansyah shalat subuh jam 6 akibat gedoran dari Ara, setelah shalat ia melanjutkan tidurnya yang akan bangun kembali sekitar jam 9 pagi.


***


Ara menyaksikan duduk di depan tv, ia hanya mengganti-ganti Chanel tv. Ia mulai bosan dan tidak ada pekerjaan yang akan di lakukan biasanya ia bekerja dan siang seperti ini ia akan menikmati makan siang bersama teman-teman lalu mengobrol. Tetapi sekarang berbeda semuanya berubah ia hanya di dalam rumah, mau keluar tidak ada yang nemenin. Akhirnya ia mengingat khanza bocah imut yang pernah menyebut dirinya bunda.


"Mending aku ke rumah Khanza, tunggu dulu kalau bapaknya di rumah gimana?" Ara melangkah ke kamar tetapi berhenti setelah mengingat ada bapaknya Khanza.


"Tapi inikan hari Senin otomatis orang Kerja."monolog Ara melanjutkan langkah ke kamar tetapi terhenti mendengar suara bel rumah berbunyi.


"jangan si artis yang udah pulang, tapi kalau dia pulang kenapa pencet bel segala." Ara sudah tiba di ambang pintu, ketika di buka ia melihat seorang laki-laki sambil menggendong anak perempuan dan jangan lupa mbak Lela dibelakangnya membawa tas keperluan Khanza.


"unda."ucap Khanza lesu dengan mata bengkak. ya Khanza dan bapaknya berkunjung ke rumah Ara karena permintaan Khanza.


"Khanza kenapa pak eh bang?" tanya Ara.


"Dia sakit udah dua hari demamnya nggak turun-turun, padahal saya udah bawa ke rumah sakit. Awal sakit dia minta ketemu sama kamu tapi saya larang, soalnya takut ngerepotin kamu. Tadi nangisnya nggak berhenti-henti minta ketemu kamu."


"Ya ampun khanza nggak boleh gitu nak."


"endong unda." ucap Khanza yang disambut oleh Ara.


"apa boleh saya titipkan Khanza di sini?" ucap Adnan tak enak hati.


"nggak papa kok bang."ucap Ara senang


"tapi maaf pak eh bang, nggak ada Abang Ferdiansyah jadi nggak bisa....." ucap Ara langsung di potong oleh Adnan. Ia mengerti bahwa ia tidak bisa masuk ke dalam rumah karena suami Ara tidak ada di rumah.


"ya nggak papa, saya cuma mau nitip Khanza sama kamu soalnya ibu saya lagi nggak disini, nantik juga ada mbak Lela. Saya yang seharusnya minta maaf karena buat kamu ngerepotin jagain Khanza. Kalau gitu saya permisi dulu." ucap Adnan melangkah maju ke arah Ara, Ara yang menggendong Khanza kaget. "papa berangkat dulu ya, Khanza baik-baik jangan buat bunda Ara kerepotan. insyaallah nantik saya pulang siap Maghrib, sekali lagi saya minta maaf." ucap Adnan di wajah anaknya tepatnya di dalam gendongan dan dijawab dengan anggukkan Khanza . Lalu Adnan mencium kepala anaknya yang membuat Ara bisa mencium wangi rambut Adnan.


"iya bang."


"kok aku ngerasa kayak laki bini ya."batin Ara mikir.


Hal tersebut membuat mbak Lela yang melihat tersenyum-senyum berbeda dengan orang yang berada di pagar, wajahnya terlihat kesal.


"ehemmmm." suara tersebut mengejutkan Ara, mbak Lela tidak untuk Adnan karena ia memberikan senyuman kepada Ferdiansyah yang baru saja tiba.


"kalau gitu saya permisi dulu Ra, Ferdi assalamualaikum." ucap Adnan.


"wa'alaikumussalam bang, pak."ucap Ara dan mbak Lela bareng, lalu Ara melihat Ferdiansyah.


"kenapa lihat kayak gitu?"ucap kesal Ferdiansyah.

__ADS_1


"kenapa pulang lagi? bukannya tadi bilangnya pulang malam."


"nggak suka saya pulang jam segini, senang saya nggak di rumah biar bisa berduaan sama di duda." ucap Ferdiansyah masuk ke dalam rumah.


"kenak dimana dia?"bingung Ara.


"cemburu kali mbak Ara." ucapan mbak Lela membuat Ara tertawa, sedangkan Khanza yang ada di gendongan Ara sudah tertidur.


***


"ke kamar Ara aja mbak soalnya Khanza udah tidur."


"iya mbak."


mbak Lela meletakkan tas keperluan Khanza di meja rias sedangkan Ara meletakkan Khanza di tempat tidur. Wajah Khanza begitu damai, Ara merasa badan Khanza masih panas tetapi mendengar dari mbak Lela bahwa Khanza tidur tenang sekarang merasa senang pasalnya Khanza sulit tidur ketika ia demam.


"kenapa berdiri aja di sana mbak Lela? ke sini aja mbak"kata Ara yang di ikuti oleh mbak Lela.


"maaf ngerepotin mbak Ara jadinya."ucap mbak Lela tak enak.


"nggak kok mbak Lela, Ara malah senang soalnya ada teman. Biasanya Ara bosan sendirian di rumah. Ya sih ada bik Tutik tapi kadang bik Tutik kerjakan pekerjaan rumah kalau di ajak ngobrol nantik kerjaan rumah nggak kelar, mau di bantu malah di larang. Palingan Ara bantu masak sama sapu-sapu doang."ucap Ara panjang lebar yang simak oleh mbak Lela.


"kan mbak Ara udah ada kegiatan jualan kue."


"iya, tapi yang pesan kan bukan setiap hari mbak Lela. Kalau dulu Ara kerja jadi ada kegiatannya."


Tok tok tok.


pintu langsung di buka tanpa meminta izin terlebih dahulu, pelaku dari itu semua adalah Ferdiansyah.


"kenapa masuk langsung?"


"nggak boleh, ini rumah saya jadi bebas kalau langsung masuk tanpa izin kamu." mbak Lela yang mendengar perkataan Ferdiansyah dibuat bingung.


"kan ada mbak Lela sama Khanza. Gimana kalau aku atau mbak Lela tadi lagi tukar baju?perkataan Ara membuat mbak Lela menjadi tambah bingung.


"kenapa aku pula yang dibahas."


"kalau kamu kan istri jadi sah-sah aja mau tukar baju, mau nggak pakai baju sama aja."ucap Ferdiansyah enteng.


"yak."teriak Ara.


"mbak Ara saya keluar sebentar ya."ucap lirih mbak Lela lalu keluar dari kamar tersebut sambil menutup pintu.


"nggak boleh teriak-teriak ini bukan hutan."


"Abang duluan yang mulai, kalau masuk itu izin dulu."


"ya ya ya." Ferdiansyah melangkah ke tempat tidur.

__ADS_1


"jangan ganggu, dia lagi tidur."


"siapa juga yang ganggu saya mau tidur di sini."merebahkan badannya di ranjang.


"kalau di pikir-pikir kita kayak suami istri yang lagi jagain anak tidur."ucap Ferdiansyah melihat wajah Khanza.


"jangan di sana, nantik Khanza bangun." menarik lengan Ferdiansyah, yang membuat Khanza terganggu dan akhirnya ia menangis.


"hiks...hiks..."


"kan udah Ara bilang."kesal Ara naik ke atas ranjang, Ferdiansyah yang sedang di atas ranjang langsung duduk sambil melihat reaksi Ara yang tampak kesal.


"udah ya Khanza."ucap Ara menenangkan Khanza yang atas ranjang sambil menggosokkan punggung Khanza agar diam.


Khanza memeluk Ara yang berbaring di sampingnya, dan menenggelamkan wajahnya di dada Ara.


"udah ya, khanza tidur lagi. Anak manis, anak saleha, anak pintar, anak cantik." sambil menepuk-nepuk pantat Khanza pelan dilanjutkan dengan bacaan shalawat. Tanpa Ara sadari Ferdiansyah yang melihat dengan takjub dan tersenyum. Dia merasa bahwa ia sekarang adalah seorang ayah yang menemani anak yang sedang sakit bersama istri.


Mereka larut dalam suasana, Ara yang menidurkan Khanza malah dia juga ikutan tertidur, sedangkan Ferdiansyah yang melihat Ara tidur ia juga ikutan merebahkan dirinya di samping Ara, jadi posisinya sekarang adalah Ara berada di tengah sambil memeluk Khanza sedangkan Ferdiansyah menghadap punggung Ara.


***


mbak Lela yang sudah lama menunggu di dapur bersama bik Tutik akhirnya meminta tolong kepada bik Tutik.


"bik, temani Lela ke kamar mbak Ara."


"emangnya kenapa?"


"tadi Lela nggak enak di sana soalnya ada suaminya mbak Ara, mangkanya Lela di sini. Lela mau lihat kondisi Khanza bik, nggak enak nantik masih ada suaminya mbak Ara."


"ya udah ayok bibik temani." mereka berdua menuju kamar Ara.


"kamarnya nggak di kunci."ucap bibik mulai membuka pintu. Kedua menatap sepasang suami istri sedang tidur dan jangan lupa Khanza juga berada di sana.


"seperti keluarga yang harmonis."bisik bibik.


"ya bik."bisik mbak Lela.


"kalau begini mending tunggu diluar aja."


"oke bik."mengacungkan kedua jempol ya karena mereka berbicara bisik-bisik.


sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.


jangan lupa vote dan follow


terimakasih 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2