
mereka berdua begitu menikmati makanan yang ada di taman tersebut walaupun dengan sedikit kejahilan Ferdiansyah.
"ayok." ucap Ferdiansyah setelah membayar makanan mereka.
"terimakasih pak." ucap Ara tersenyum.
"ya neng sama-sama."
Ferdiansyah sangat menikmati perjalanan, mungkin karena memakai sepeda motor jadi ia bisa melihat pemandangan kota dan merasakan angin. Ferdiansyah mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Ara yang berada di belakangnya merasa sepeda motor yang mereka tumpangi cukup lambat.
"nggak bisa cepat?" kata Ara.
"nggak boleh kencang-kencang, kamu diam aja dibelakang." kata Ferdiansyah tersenyum sambil melihat kaca spion yang memperlihatkan wajah Ara yang sedang kesal.
Ferdiansyah memberhentikan sepeda motor tepatnya di sebuah toko baju muslim. Ara yang di belakang bingung dibuatnya.
"kenapa berhenti di sini? Abang mau beli baju Koko?."
"ya saya mau beli Koko." kata Ferdiansyah mulai melangkah masuk ke dalam toko. Tetapi ia memberhentikan langkahnya karena Ara tidak mengikuti nya.
"kamu kok masih di situ?"kata Ferdiansyah membalikkan badannya.
"katanya mau beli baju, ya udah masuk aja. Ara tunggu di sini aja." kata Ara
"saya beli baju lama, ngapain kamu di sana. Ayok ke dalam."
"ya ya ya." Ara melangkah ke dalam toko.
Ara melihat begitu banyak baju gamis perempuan, memang toko ini termasuk toko yang cukup terkenal dan produknya ternama. pengunjung yang datang cukup banyak.
"wah bagusnya." batin Ara melihat gamis yang berwarna Dove.
bukan merek (author)
gerak-gerik dan tatapan mata Ara tidak luput dari penglihatan Ferdiansyah. Sebenarnya ia kemari ingin membelikan Ara pakaian, tetapi karena gengsi yang di dalam dirinya tidak mau mengalah, terpaksa ia mencari alasan.
"kamu mau baju yang itu? kalau mau ambil aja." kata Ferdiansyah di samping Ara yang terkejut.
" ha? nggak, baju Ara masih banyak." ucap Ara menggeleng kepala, pasalnya ia sekarang tidak membawa uang. Lagian setelah melihat harganya Ara menjadi berfikir ulang untuk membelinya. Memang bahannya sangat lembut dan dingin sesuai harganya.
"ambil aja, saya yang bayar. Hitung-hitung hadiah dari saya." Ferdiansyah langsung memanggil karyawan toko untuk membungkus gamis tersebut.
"tidak di coba dulu kak?" ucap karyawan kepada Ara.
"bo.." ucap Ara terpotong oleh Ferdiansyah
"nggak perlu, itu ukuran L kan?." kata Ferdiansyah
"iya mas." ucap karyawan tersebut.
"oh berarti pas sama istri saya. langsung bungkus aja mbak."
"kalau begitu saya permisi." kata karyawan menuju tempat kasir.
"ada yang lain? jilbab?oh ya jilbabnya." ucap Ferdiansyah mengingat bahwa baju tersebut harus ada hijab yang serasi.
"nggak perlu bang, Ara ada kok jilbab warna itu. Oh ya terimakasih banyak udah belikan Ara baju." ucap Ara tersenyum.
" itu nggak gratis, ada syaratnya dan itu saya minta di rumah." ucap Ferdiansyah tersenyum jail sambil mengangkat sebelah alisnya. Ferdiansyah langsung menuju ke tempat kasir tanpa memperdulikan wajah Ara yang kesal akibat kelakuannya.
"kalau endingnya begini, mendingan Ara tolak. Nyesel terima pemberian orang nggak ikhlas. Atau jangan-jangan ha......." batin Ara teriak memikirkan yang tidak-tidak, ia menggelengkan kepalanya. "tenang-tenang, itu, itu, ha....." memejamkan matanya tanpa ia sadari Ferdiansyah sudah ada di sampingnya.
"ayok kita pulang." kata Ferdiansyah menenteng tas belanja.
"nggak mau." kata Ara membuka mata dengan suara keras.
"kamu kenapa sih? kita pulang sekarang. Mau di sini sampai malam?"
"iya iya." Ara menjawab dengan lesu.
__ADS_1
sepanjang jalan Ara terus memikirkan perkataan Ferdiansyah, dan ia merasa gelisah.
***
"Ayo." ajak Ferdiansyah
"kemana?"
"ke dalam kamar lah."
"apa? Ara nggak mau." Ara mengelak.
"ayok saya nggak tahan." menarik tangan Ara yang memberontak.
"Ara nggak mau, nggak mau." teriak Ara, bik Tutik yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tibanya di kamar, Ferdiansyah langsung mengunci kamarnya dan langsung membuka bajunya. Ara yang melihat mendadak terkejut melihatnya.
"yakkk." teriak Ara.
"ayok."
****
"udahlah bang Ara capek." ucap Ara lesu.
"dikit lagi Ra, lagi enak-enaknya ni."
"Abang yang enak, Ara yang capek."
"aduh sakit-sakit, pelan-pelan Ra."
"ini udah pelan."
"aduh... aduh... aduh."
"sabar dikit lagi."
"Ara agresif juga ternyata." batin mama Ferdiansyah dan langsung ke bawah karena takut ketahuan.
"mendingan nggak punggungnya sekarang? ini masuk angin, lihat punggung Abang merah-merah."
"mana bisa saya lihat, aduh. Kamu urut pakai tenaga dalam, tadi enak sekarang malah punggung saya tambah sakit."
ayo pikir apa?(author)
flashback on
sebelumnya Ara berfikir yang tidak-tidak karena ia langsung di bawa ke kamar dan keadaan Ferdiansyah sudah buka baju.
"ayok naik." ucap Ferdiansyah sudah berbaring telungkup di tempat tidur.
"ngapain." ucap Ara ragu yang berada di samping tempat tidur.
"ya tidurlah, sini saya mau tidur sama kamu." ucap Ferdiansyah enteng yang membuat Ara terkejut.
"nggak mau, Ara mau tidur di kamar Ara aja." ucap Ara sambil mencari kunci kamar.
"kuncinya sama saya, nggak usah di cari. Ayo naik ke sini." ucap Ferdiansyah masih telungkup.
"nggak mau, Ara mau keluar." masih bersikeras. Ferdiansyah yang bangun dan menarik tangan Ara agar ia naik ke tempat tidur.
"lepas nggak, lepas nggak." Ara memberontak.
"urut punggung saya, saya capek." Ferdiansyah melepaskan tangannya dan berbaring telungkup seperti awal.
"urut?." Ara bingung.
"ya urut, kamu pikir saya mau ngapain?." ucap Ferdiansyah tersenyum tetapi tidak diketahui oleh Ara yang sedang kesal karena di kerjain.
"ya, ya, ya , mana minyaknya?."
__ADS_1
"tu dekat lampu tidur."
Ferdiansyah menikmati urutan dari dari, tetapi Ara kesal karena ia dikerjain.
"emangnya kamu mikir saya mau ngapain?."
"nggak tau."cuek
"kamu itu jangan..."ucap Ferdiansyah terpotong
"minta nya kan bisa baik-baik, bukan diseret-seret segala. Apalagi sambil kunci-kunci pintu segala.
"ya takutnya nantik ada yang masuk." alasan Ferdiansyah.
flashback off
Ara sedang di kamar mandi Ferdiansyah mencuci tangan, Ferdiansyah turun kebawah karena ingin mengambil air minum. Ia tidak tau bahwa orang tuanya datang ke rumahnya.
"eh ada mama, papa mana ma?" melihat mamanya sedang menata makanan cemilan.
"oh papa di depan." melihat anaknya memakai kaos dan celana pendek selutut dengan wajah segar. "Ara mana nak?"
"di kamar mandi ma." ucap Ferdiansyah mengambil minum, jawaban dari Ferdiansyah membuat mamanya tersenyum.
"oh ya tadi mama bawa vitamin untuk Ara."
Ara ke dapur karena ingin memakan sesuatu, ia berharap ada cemilan dingin-dingin di kulkas. Ia melihat mama Ferdiansyah dan Ferdiansyah sedang mengobrol.
"assalamualaikum ma." ucap Ara sedikit lesu, lalu menyalami mama Ferdiansyah.
"wa'alaikumussalam Ara." tersenyum melihat Ara.
"kok senyumnya bahagia banget kelihatannya, apa yang anak sama mama nya bicarakan." batin Ara.
"oh ya tadi mama bawa minuman vitamin untuk kamu Ra, di minumnya kelihatannya kamu capek banget. tunggu mama ambil dulu biar kamu langsung coba." beranjak lalu mengambil vitamin tersebut.
"vitamin apaan di bawa mama?" tanya Ara membuka kulkas.
"nggak tau."
"jangan makan es krim dulu, minum ini dulu." mengambil es krim di tangan Ara lalu membawanya ke meja makan.
Ara yang melihat minuman di tangannya heran, pasalnya untuk bungkusannya bagus dan tertera logo rumah sakit. Tidak ada yang aneh dari minuman tersebut tetapi Ara ragu untuk mencobanya.
"bismillah." Ara langsung meminumnya.
"gimana enak nggak?" ucap mama Ferdiansyah penasaran. Ferdiansyah yang penasaran juga ikutan melihat ekspresi Ara.
"emm... lumayan ma." mengecap-ngecap.
"oh ya itu vitaminnya mama simpan di kulkas, jadi kalau bisa di minum ya."
"itu vitamin apaan sih ma? tumben mama bawa vitamin segala." tanya Ferdiansyah penasaran sedangkan Ara asyik dengan minumannya.
"itu vitamin stamina, supaya Ara kuat kalau sama kamu." ucapan mama Ferdiansyah membuat Ara yang asyik dengan minumannya tersedak.
"huk...huk...huk...." Ferdiansyah menepuk punggung Ara.
"minum Ra." Ferdiansyah menyodorkan minuman yang di pegang Ara tersebut, dan respon Ara langsung meminumnya sampai habis. Keduanya terkejut, dan baru sadar karena minuman tersebut habis. Mama Ferdiansyah hanya tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.
"Alhamdulillah minuman vitaminnya habis." ucap mama Ferdiansyah. Ara yang memegang bungkusan minuman tersebut menatap dengan raut wajah tidak percaya. Ferdiansyah yang melihat juga terkejut.
jeng jeng....
jeng jeng....
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1
terimakasih 🙏🏻