
Ara sudah menyelesaikan pekerjaannya yang di bantu juga bersama bik Tutik. Ia melihat jam tangan yang tandanya sebentar lagi akan di antar.
sebelumnya ia juga di kirim alamat pemesan, kita di share lok ternyata sebuah kantor. Pantesan pesanan risolnya banyak.
Ternyata sebelumnya Ara juga sudah mempostingnya di sosial media. Dan mulainsekatang pesanannya sudsh mulai banyak.
Dan ada juga orang mengetahuinya dari mulut ke mulut, apalagi setelah pesanan dari tetangganya yang bisa di katakan orang sosialita.
"Kalau begini terus, mending nak Ara buka ruko saja." saran dari bik Tutik, selama bik Tutik membantu ara, ara juga memberikan sesuatu kepada bik Tutik karena sudah membantunya.
Sebagai tambah-tambahan bik Tutik belanja, tentu saja bik Tutik menolak karena gaji yang di berikan kepadanya sudah cukup dan bisa di katakan banyak baginya.
"Ya bik, rencana mau buka tapi uangnya masih belum cukup."
"Kenapa nggak minta tolong sama nak Ferdiansyah aja?"
"Nggak usah bik, nantik ngeropotin bang Ferdiansyah."ucap Ara tak enak untuk meminta tolong kepada Ferdiansyah dan hal tersebut bik tutik maklumkan karena melihat mereka berdua yang jarang berdua dan terkesan seperti orang asing ketika di rumah.
"ini di antar siapa nantik nak Ara?"
"Ara yang antar nantik bik."
"pakai apa?honda?"
"Iya bik, bibik tenang aja. Ara sudah beli tas delivery makanan, jadi bawanya nggak susah." ucap Ara tersenyum menyusun risol yang setelah di goreng dan kering ke dalam wadah.
"Biar bibik saja yang nyusun nak Ara."
"kalau gitu, Ara ambil dulu tasnya bik. Dan Ara juga mau siap-siap antar pesanan."
"oke."
Ara bersiap-siap dan menukar bajunya. Dengan riasan yang tipis beserta hodie di padukan dengan celana kulot tak lupa hijabnya.
Meskipun penampilannya sederhana tapi tampak bagus dan juga keren.
"Sudah mau berangkat nak Ara? wah... Nak Ara keren." ucap bibik tutik melihat penampilan Ara, Ara hanya tersenyum.
"ya bik, ini mau berangkat. Sudah semuanya bik?"
"Sudah Nak ara, mau di masukkan ke tas itu nak Ara?"
"Iya bik, tapi tasnya di pasangan dulu ke honda."
Ara bersama bik tutik menyusun risol tersebut di tas yang sebelumnya sudah Ara pasang di honda.
"Safety ya Nak Ara."
"Harus bik, pakai helm, plus kaca mata dan sarung tangan" Ara tersenyum menunjukkan semua yang di pakainya.
"ya nak Ara, bagus. Sekalian bagus nak Ara juga tambah kece dan keren." bik tutik mengangkat kedua jempulnya untuk ara dengan senyuman.
__ADS_1
"Kalau gitu Ara pergi dulu bik." menyalami bik Tutik, hal tersebut membuat bik Tutik segan meskipun Ara seperti itu. Tapi bik Tutik masih tidak terbiasa apalagi Ara adalah majikannya.
"Ya nak Ara, hati-hati di jalan jangan ngebut. Pelan-pelan saja bawanya." ucap Bik tutik seperti ibu yang menasehati anaknya, bik tutik tersenyum melihat senyuman Ara untuk dirinya.
"Bibik tenang aja, ara bawanya pelan-pelan kok. Kalau gitu Ara berangkat bik, assalamualaikum." ucap Ara menutup kaca helmnya.
"Waalaikumussalam." ucap bik Tutik melihat Ara pergi, memang awalnya ara memacu kendaraannya pelan tetapi ketika hendak di pagar rumah, kecepatan honda melaju. " percuma aku mengingatkannya, ucapan tadi hanya berlaku di perkarangan rumah saja. Tidak untuk di jalan raya." geleng-geleng bik Tutik. " semoga nak Ara selalu sehat-sehat." ucap bik Tutik menutup pintu rumah.
Ara melajukan motornya sesuai dengan instruksi petunjuk Ara jalan. Sekitar 15 menit perjalanan ia sampai di sebuah kantor.
"besarnya." ara membuka helm yang sedang di parkiran motor.
dring... dring....
"Apa mbak Ara sudah sampai?" ucap seseorang di seberang telfon.
"sudah mbak, saya lagi di parkiran sekarang mbak."
"kalau gitu saya tunggu ya mbak, nantik bilang aja ke resepsionis ketemu Farah dan tadi juga saya sudah menginformasikan juga." Jelasnya.
"oke mbak." pembicaraan tersebut terputus.
Tidaknya di tempat resepsionis dengan membawa tas delivery Ara langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
"oh ya mbak, mbak langsung saja ke lantai 10 dan tas mbak nantik di bawa oleh pak Nando." ucap resepsionis tersebut dengan sopan.
"nggak papa mbak, biar saya saja yang bawa."
"permisi mbak." ucal seseorang di sebelah Ara.
"Biar saya yang bawakan mbak."
"Terimakasih banyak pak." ucap Ara memberikan tas deliverynya, dan juga mengikuti pak Nando.
"kece kali pakaiannya mbak delivery tadi, padahal yang dia pakai pakaian brand, tapi seolah-olah pakaian brand." ucap salah satu resepsionis tersebut.
"Ya, mungkin karena wajahnya sudah glowing, apa yang di pakai pas aja." timpal resepsionis satunya.
Setibanya di lantai sepuluh ara dan pak Nando menuju ruangan dan di sana mereka menemui seorang wanita ternyata itu adalah mbak Farah yang menelfon Ara tadi.
Mereka saling berjabat tangan untuk saling mengenal satu sama lain.
"kalau begitu permisi mbak, bu Farah" ucap pak Nando yang bekerja sebagai OB.
"Iya pak." ucap mereka serentak.
"Terimakasih pak." ucap Ara karena sudah menghantarkan dirinya.
Farah membayar seluruh pesanan, termasuk biaya transportasi.
"Nantik bu Iin yang menyusun risolnya.Kalau begitu saya tinggal dulu, karena masih ada pekerjaan, terimaksih Ara." memperkenalkan bu iin yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ya mbak Farah, sama-sama."
"kalau begitu saya permisi."
"Ya mbak."
"Biar saya aja mbak Ara." ucap Bu iin yang bekerja sebagai OB di sana, usianya juga sudah berumur sekitar 50 an begitu pula pak Nando tadi.
"Nggak papa bu, Ara bantuin juga." ucap mereka saling bekerja sama.
"semuanya mbak Ara yang buat?"
"nggak bu.. tadi di bantu juga sama bibik di rumah." ucap Ara tersenyum, ketika melihat wajah Ara pertama bu iin mengingat seseorang.
"oh begitu..., kalau ibu lihat wajah kamu familiar tapi ibu lupa." ucap bu iin.
"Ha?" Ucap ara bingung padahal ia sebelumnya tidak pernah jumpa dengan bu iin. Bu iin yang di samping Ara mencoba mengingat-ingat kembali.
"Iya mirip kayak... hemm......"
"mirip siapa bu?" ucap Ara penasaran, apa ada seseorang yang bekerja di sini mirip dengannya pikirnya.
"mirip..... ha.... ibu tau."
"Siapa bu?"
"Mirip istri Ferdiansyah yang artis itu loh..." ucap Bu iin dan Ara langsung menolehnya dengan wajah bingung plus terkejut.
"Masak iya bu?"
"Iya mirip, kalau tentang artis-artis update apalagi Ferdiansyah kalau sudah main film, sinetron nggak ada tandingannya. Selain tampan kalau akting pasti keren. Ibu aja termasuk salah satu fansnya." ucap ibu tersebut semangat 45 kepada Ara.
"oh ya." ibu tersebut langsung mengambil hpnya dan memperlihatkan foto dirinya bersama Ferdiansyah di salah satu fansign di sebuah mall. Foto tersebut memperlihatkan wajah ibu tersebut dengan wajah penuh senyuman pepsoden sedangkan Ferdiansyah dengan senyuman simpul. "ini foto pas ibu fansign di mall, senang kali bisa ketemu langsung."
Rasanya Ara ingin tertawa melihat wajah Ferdiansyah yang tampak lucu baginya. Bagaimana tidak Ferdiansyah di foto tersebut tersenyum tapi matanya saja mungkin karena terburu-buru jadi kesannya lucu untuk Ara.
"Keren ibu, bisa foto bareng artis." ucal Ara tersenyum dan memberikan satu jempol kepada bu iin. "Boleh Ara minta fotonya bu? siapa tau Ara bisa juga ketemu sama artis idola ibu." ucap Ara dengan maksud lain.
"boleh." ucap bu iin lalu mengurimnya ke hp Ara.
"Terimakasih bu, oh ya ini sudah selesai bu. Ara balek dulu ya bu terimakasih sudah membantu."
"Ya mbak Ara, hati-hati."
Ara menenteng tas deliverynya dan melihat hpnya yang menampilkan wajah Ferdiansyah yang lucu. Ara tersenyum mengejek melihat wajah Ferdiansyah. Tanpa ia sadari ada seseorang yang melihat dirinya.
Laki-laki tersebut mengarah menuju Ara yang asyik dengan hpnya. Lalu terjadilah tabrakan, yang membuat hp Ara terjatuh.
"Maaf, maaf." ucap Ara menunduk mengambil Hpnya. Tapi ucapan Ara tidak di jawab ketika berdiri dan melihat wajah orang tersebut Ara terkejut lalu terdiam setelah melihat laki-laki tersebut.
Sekian dulu ceritanya
__ADS_1
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow