
"Hai Di..." ucap Auristela tersenyum.
"Hai." Auristela kepada Ara dengan senyuman canggung. Ara juga membalasnya dengan senyuman juga.
Ara melihatnya dengan tatapan bertanya-tanya. Apakah Ferdiansyah mengundang Auristela. Ferdiansyah tidak menyangka kalau Auristela akan datang juga.
"Masuk mbak." ucap Ara
"Ya terimakasih."
Auristela di persilahkan duduk di ruang tamu. Ara ingin ke belakang mengambil air minum untuk ara, ketika ingin melangkah ke belakang, Ferdiansyah juga ikut.
"Mau ke mana?" bisik Ara
"Ikut kamu."jawab Ferdiansyah berbisik juga.
"Di sini aja, kan ada tamu abang." Ara masih berbisik.
"Tapi... aku nggak..." ucapan Ferdiansyah terpotong karena teman-teman sudah datang.
"hei bro..." kata salah satu temannya, yang datang 4 orang.
"Eh ada Auristela." ucap salah satunya.
"Berarti dia nggak termasuk teman bang Ferdiansyah, apa bang Ferdiansyah ngulang dia secara khusus?"batin Ara.
"Iya."ucap Auristela.
"jadi lo ngulang Auristela juga di?" ucap salah satu temannya bernama Dika seorang DJ.
"Nggak, gue aja nggak tau kalau Auristela datang." ucap Ferdiansyah, Auristela melihat Ferdiansyah dengan sedih karena biasanya Ferdiansyah memanggil namanya dengan sebutan (Au) tapi kali ini beda.
"Aku tadi di ajak Niko." ucap Auristela
"jadi lo ngajak Auristela, Nik?" ucap Dika kembali.
"Ya, gue ngajak Auristela." jawab Niko.
Berbeda mereka asyik berbicara tentang siapa yang mengundang Auristela. Zian salah satu teman Ferdiansyah yang bekerja sebagai CEO suatu perusahaan melihat Ara dengan tatapan tidak bisa di baca.
Ara merasa ada yang melihatnya diri langsung menoleh ke arah Zian. Mata mereka bertemu, Zian langsung memutuskan kontak mata tersebut begitu pula Ara. Hal tersebut tidak luput dari penglihatan Ferdiansyah.
"siapa dia? kayak pernah lihat tapi dimana ya?" batin Ara.
" Silahkan duduk mas-mas." ucap Ara,membuat mereka melihat asal suara.
"Bini lu bro?" kata Dika.
"hem." jawab Ferdiansyah
"unda." ucap Kahnza yang masih di gendongan Ara.
"Anak lu bro?" Dika terkejut, begitu pula dengan Niko. Auristela ingin berkata tapi ia ingin mendengar jawaban Ferdiansyah.
"Tapi setau gue, kalau keponakan lu bukannya laki-laki. Lah ini perempuan." tkmpal Niko.
__ADS_1
"Buakn, ini anak tetangga."
"Saya permisi ke belakang sebentar." ucap Ara izin.
"Ya." ucap Dika dan Niko tersenyum.
"udah cocok kalau punya anak bro." ucap Niko sambil tertawa.
"aamiin doakan aja." ucap Ferdiansyah melangkah pergi.
"lu mau ke mana?" kata Dika melihat Ferdiansyah juga mau pergi.
"Ke belakang sebentar."
"kelihatannya Aktor kita bukan banget sama bininya." ucap Dika di senggol oleh Niko, karena ada Auristela. Niko memberi kode bahwa Auristela ada di sini tapi Dika mengelak karena benar aja kalau Ferdiansyah menyukai istrinya, memang dulu Ferdiansyah dekat dengan Auristela tapi sekarang berbeda.
"Jadi dia Istri Ferdiansyah." ucap Zian yang membuat mereka bertiga melihat ke arah Zian, yang dari tadi tidak berbicara.
"Ya, bukannya pak ceo kita di undang ke pernikahan Ferdiansyah."
"Ya di undang tapi nggak datang karena ada gue ada di luar kota."
"oh pantesan, orang sibuk." ucap Dika.
"emang lo nggak sibuk?" kata Niko
"nggak, gue sibuknya cuma malam doang, hahaha." Dika tertawa. " udah lama Auristela?"
"nggak, baru datang juga."
"ya, alhamdulillah." ucap Auristela
"silahkan di minum mas, mbak." ucap bibik tutik menghidangkan minuman dan juga cemilan.
Mata zian melihat ke arah risoles yang baru saja di hidangkan oleh bibik Tutik. Ia makin penasaran apakah benar atau tidak. Zian mengambil risoles tersebut lalu memakannya.
"sama."batin Zian.
"Di makan bro, Auristela."
"Iya di, bro." ucap mereka serentak.
"Wih enak juga risolesnya." ucap Dimas, Niko yang penasaran juga mengambilnya.
"Ya enak, kok diam aja Zian?" ketika melihat Zian berhenti mengunyah risoles tersebut.
Ara yang sudah meletakkan Khanza ke dalam kamarnya karena sudah mengantuk, ia berencana ke bawah untuk menyapa sebentar teman-teman Ferdiansyah. Kalau tidak ke bawah nantik ia di bilang sombong. Bukan hanya itu ia penasaran kenapa Auristela datang juga.
"Kiara Azumi." ucap Zian, Ara yang menuju ke arah mereka memberhentikan langkahnya.
"Kiara Azumi?siapa?" ucap Dika penasaran. Ferdiansyah seperti pernah dengar nama tersebut tapi ia lupa siapa.
"Kia." ucap Zian kembali melihat Ara di depannya.
"kok dia tau nama kecil aku?" batin Ara.
__ADS_1
"Ya?" jawab Ara, Ferdiansyah menatap Zian dan Ara dengan tanda tanya begitu pula dengan Niko, Dika dan juga Auristela.
"Ada apa?" tanya Ara kembali.
"jadi kamu Kia?"
"ya."
"Kamu nggak kenal aku? Aku Zian. Bukan aku Abang Zian." ucap Zian kembali memang dulu Ara sering memanggilnya Abang Zian. "Kamu ingat?" memastikan Ara mengingat dirinya.
flashback on
Kiara biasanya di panggil kia, sering bermain ke rumah tetangganya. Ia memiliki tetangga yang cukup berada, dan tetangganya sering bolak-balik keluar kota.
Dan ia sering bermain dengan anak laki-laki tetangganya meskipun jarak mereka cukup jauh. Tetapi anak laki-laki tersebut senang bermain dengan Ara. Anak laki-laki tersebut bernama Zian Nugraha.
Ia memiliki sifat pendiam dan tidak mudah bergaul, sedangkan Ara anaknya periang dan sering mengajak dirinya untuk ikut bermain.
Zian yang awalnya pemalu, akhirnya memiliki teman, ia juga sering membantu Ara mengerjakan pr sekolah.
Ara juga sering memberikan risoles kepada Zian untuk di cicipi, memang Ara suka memasak dan sering mencoba-coba bersama mamanya.
"ini bang, tadi kia buat sama mama, karena kia belum boleh goreng sendiri." memberikan kotak yang berisikan risoles kepada Zian yang akan pindah karena usaha bapaknya sukses di ibu kota.
"Terimakasih kia, Dan ini untuk Kia." memberikan sebuah paper bag kepada Ara yang berusia kisaran 12 Thun sedangkan Zian berumur 18 tahun. Selain pindah rumah ia juga akan melanjutkan pendidikannya.
"Terimakasih bang zian." ucap Ara senang. Zian juga sennag melihat Ara senang.
Semenjak itu mereka tidak pernah bertemu, Zian sempat ke rumahnya dulu tapi keluarga Ara juga pindah dari sana. Mereka masih di kota tersebut tapi pindah alamat. Ia sempat bertanya kepada tetangga di sana tapi mereka tidak mengetahuinya.
Flashback off
"Apa kabar Kia?"
"Baik bang, Abang gimana?"
"alhamdulillah baik." ucap Zian, mereka bertempat terkejut mendengar ucapan Zian kecuali Ara. Sejak kapan Zian bertambah itulah pikiran mereka.
"Jadi kalian saling kenal?" ucap Auristela.
"Ya dulu kia kami bertentanggaan.".
"Dia bukan Kia, tapi Ara."
"Ya dia kia, Kiara Azumi." jelas Zian, Ferdiansyah yang mendengar menjadi terdiam.
"kelihatannya cinta lama bersemi." bisik Dika kepada Niko.
"Hem dan ada perang ke tiga akan di mulai..." balas bisik Niko.
Sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1