Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
siapa?


__ADS_3

"Nak ara ngapain?" ucap bik Tutik melihat ara di dapur.


"ini Bik buat cemilan."


"Untuk teman, mas Ferdiansyah ya?"


"ya bik..."


"Mau mbok bantu?"


"Boleh mbok." ucap Ara semangat, bik tutik membantu membuat kulit resoles, Ara sudah mengajarkan bik tutik untuk takaran dan menunjukkan bagaimana kulit yang sudah matang.


"Bik, Ara mau nanya." ucap Ara yang menggulung-gulung risoles.


"Ya tanya aja Nak Ara."


"Teman-temannya bang Ferdiansyah gimana sih mbok?"


"setau bibik, yang mau datang ini orangnya asyik aja nak ara, ada yang dingin, ada yang mulutnya blak-blakkan pokoknya macam-macam."


"Banyak yang mau datang mbok?" Ayana terkejut.


"nggak juga, cuma 4 orang." pikir bik Tutik


"4 orang?" Ayana terkejut kembali.


"Bukannya nak Ferdiansyah sudah bilang ke nak Ara."


"sudah sih mbok, tapi dia cuma bilang ada teman yang mau datang, ara pikir cuma satu. Ara buat nggak banyak pula." ucap Ara pasrah.


"Tenang aja nak Ara, palingan nak Ferdiansyah sudah pesan makanan."


"syukurlah bik."


Mereka melanjutkan kegiatan masak-memasak mereka. Di lain tempat Ferdiansyah sedang melakukan olah raga di ruangan gym.


setelah melakukan push up sebanyak 30 x Ferdiansyah menuju jendela, ia melihat ke arah keluar sambil mengingat perkataan teman-temannya ingin ke rumah dia.


Bukan masalah teman-teman ke rumah, melainkan Auristela juga akan ikut. Ferdiansyah memejamkan mata sambil menghela nafas.


***


"sudah selesai bik." menyusun risoles di wajah lalu memasukkannya ke dalam kulkas.


"kenapa di masukkan ke kulkas nak Ara?"


"Biar padat bik, nantik kalau di goreng tepung rotinya lengket."


"oh begitu, kata bibik buat risol itu langsung di goreng."


"nggak bik."


"Dapat ilmu bibik dari nak Ara."


"Mau cari apa nak Ferdiansyah." ucap bibik tutik melihat Ferdiansyah yang berada di belakang Ara. Ara membalikkan badannya.


"Mau minum bik." mengambil minuman.


Ara yang membereskan pakaian dan mencuci peralatan sedikit, Ferdiansyah asyik dengan minimnya. Sedangkan Bibik tutik yang melihat tempat sampah langsung mengambilnya untuk di buang.


Ketika tempat tutup di buka, bik Tutik melihat kotak biru yang masih bagus, karena penasaran bik tutik mengambilnya. Melihat Bik tutik yang berada di depan tempat sampah lama Ferdiansyah atuh tak atuh lain dengan Ara.

__ADS_1


"Ada apa bik?" penasaran.


"ini, mbok dapat ini di sini, masih baru." ucap bibik Tutik kepada Ara. Ferdiansyah yang tanpa sengaja melihat langsung tersedak.


"uhuk... uhuk...."


Ara yang melihatnya tampak terkejut, bibik Tutik juga merasa malu menunjukkan hal tersebut.


"Jadi di buang aja ya?" ucap Bibik tutik setelah melihat ekspresi keduanya tampak salah tingkah. Ferdiansyah juga langsung keluar dari dapur, Ara menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan bibik Tutik.


"ada-ada kelakuan mereka."batin bibik Tutik.


***


Setelah kejadian di dapur tadi, mereka saling menyibukkan diri masing-masing. Karena teman-tem Ferdiansyah akan datang, bibik Tutik pun akan menginap atas permintaan. Ferdiansyah.


Ara menyibukkan diri di dalam kamar dengan beres-beres kamar. Berbeda dengan Ferdiansyah yang pergi ke tempat kerja karena teman-teman mereka akan datang malam nantik.


Teman-teman Ferdiansyah bukan artis saja, ada pengusaha, teman tongkrongan dan teman bisnis. Bahkan untuk Ferdiansyah mempunyai teman ciwi-ciwi termasuk lawan aktingnya.


Pintu bel rumah Ferdiansyah berbunyi.


"Bukannya temannya bang Ferdiansyah datangnya malam?" batin Ara mendengar suara bel.


Karena penasaran, ara menuju pintu utama dan ingin melihat siapa tamu yang datang.


cklek...


"unda...." teriak Khanza dari luar bersama mbak lela baby sisternya.


"khanza." ucap Ara, ia melihat mbak lela dengan ekspresi bertanya-taanya. "Masuk mbak lela." mereka masuk, ketika sudah masuk dan duduk khanza masih senantiasa di dekat Ara.


"maaf mbak Ara, tadi khanza ingin ke sini. Jadi kami baru dapat izin, soalnya badannya khanza lagi sakit mbak, demam." ucap Mbak lela panjang lebar, memang Ara dapat merasakan suhu badan Khanza ketika memeluk dirinya.


"Emangnya bang Adnan ke mana mbak?"


"ke luar kota mbak."


"trus, omanya Khanza mana mbak, bu lia sama bu santi."


"Bu lia sedang sakit mbak, sedangkan Bu Santi baru berangkat subuh tadi ke rumahnya luar kota. Dan Khanza nggak enak badan dari pagi menjelang siang tadi mbak."


"kasihannya anak bunda." mengusap kepala Kahnza yang memeluk dirinya dari samping.


"maaf ngerepotin mbak Ara."


"nggak kok mbak lela, khanza sudah minum obat?" tanya Ara kepada Khanza, lalu di hawa dengan gelengan kepala.


"kenapa nggak mau minum obat? kalau kita minum obat kita cepat sembuh, trus bisa main bareng bunda deh." pancing Ara agar Khanza meminum obatnya.


"ada obatnya mbak?" ucap Ara kepada mbak lela.


"ada mbak, ini keperluan Khanza saya bawa semaunya." jawab lela membawa tas.


Karena bujukkan Ara, akhirnya Khanza mau makan dan juga makan obat. Mbak lela merasa lega begitu pula dengan Ara.


setelah minum obat, Khanza langsung tertidur di kamar Ara mungkin efek dari obat tersebut. Ara duduk di samping Khanza yang sedang tidur sesekali Ara mengusap rambut dan juga wajah Khanza yang sedang tidur tenang.


"Berasa pagi jagain anak." ucap Ara pelan sambil tersenyum, Mbak lela mendengar juga tersenyum.


"udah cocok mbak." celetuk mbak Lela.

__ADS_1


Adnan juga mengucapkan terimaksih kepada Ara ikut merawat anaknya. Hal itu ia sampaikan lewat hp dari mbak lela.


***


Kondisi Khanza juga sudah mulia membaik, tapi ia mau di gendong Ara. Membuat Ara tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang ingin menggoreng risoles untuk teman-teman pemilik rumah.


"sama mbak aja ya, Khanza minta gendongnya. Kasian bunda Aranya." bujuk mbak lela melihat Ara.


"ndak au." ucap nya yang masih di pelukan Ara. posisinya Ara duduk di kursi dapur dan Khanza duduk di pangkuannya sambil memeluknya.


"Sudahlah mbak, nggak papa kok. Dari pada nangis nantik malah sakit lagi. Anak bunda pintar, dia mau cepat sembuh jadi maunya dekat bunda." ucap Ara mengusap punggung khanza dengan nada seperti anak kecil.


"Kalau gitu aku bantuin bibi tutik aja mbak."


"ya terimakasih mbak lela."


"seharusnya aku yang bilang terimakasih mbak." ucap mbak lela tersenyum.


Asyik dengan kegiatan masing-masing, Ferdiansyah datang melirik Ara dan tertuju pada bocah di pangkuannya.


"Anak siapa kamu ambil."


"Enak aja ambil anak orang."


"unda."


"ya Khanza, Khanza mau apa?"


"Minum unda."


"Biar aku ambilkan mbak." ucap Lela melihat perseturuan suami istri tersebut.


"oh.... anak si Duda..."batin Ferdiansyah.


"Mana bapaknya, kenapa ada di sini?"


"Papanya lagi ke luar kota."


"Trus kenapa dia di sini?bukannya dia ada rumah?


"berisik, lagian ada mbak lela juga kok disini. Abang ngomong tambah sakit Khanzanya."


"Dia sakit?"


"minumnya mbak."


"Terimakasih mbak lela."


"ya dia sakit." memberikan minum kepada Khanza dengan pelan-pelan.


"saya aja sakit nggak pernah di ginikan, di pangku lagi." gumam Ferdiansyah.


"Apa?nggak salah dengar tu?" ucap Ara tidak percaya dengan gumaman Ferdiansyah yang bisa di katakan aneh di telinga Ara.


"nggak, saya bilang saya sakit kamu nggak pernah ginikan saya..." ucapnya terpotong mendengar suara bel berbunyi. Ferdiansyah langsung melangkah ke pintu di ikuti dengan Ara yang menggendong Khanza.


"Hai Di...." ucap perempuan yang berada di pintu.


Sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

__ADS_1


jangan lupa vote dan follow


__ADS_2