Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Ketemu Balita Imut


__ADS_3

Merasa ada yang menabrak dirinya, Ara langsung melihat apa yang menabraknya. Ia melihat seorang balita perempuan sekitar 3-4 tahunan. Terlihat wajah balita itu kebingungan ketika melihat wajah Ara.


"adek kenapa?"tanya Ara lembut.


"nggak ada kak, kata anza kakak mama anza." jawabnya sedikit cadel.


"aku nggak bisa buat bahasa cadel, jadi teman-teman anggap aja dia berbicara cadel karena ia masih berumur 3 tahun." author.


"kenapa bilang kakak, mamanya anza."


"soalnya Ibab kakak milip."


"Ibab apa ni? oh..... jilbab." Ara baru mengerti ketika anza menunjuk jilbabnya dan mengangguk. "oh ya mama anza dimana? biar kakak antar ke tempat mamanya."


"anza ke cini Ama Oma kak. Kakak ciapa namanya?"


"kalau gitu Oma anza di mana? nama kakak kak Ara."


"di WC Cana kak Ara." menunjuk toilet di ujung.


"ayok kakak antar ke sana, nantik Oma kamu cariin kamu."


sesampainya di depan toilet seorang paruh baya tetapi penampilannya masih terlihat muda keluar dari toilet. Wajahnya tidak asing bagi Ara, ia merasa pernah berjumpa dengan wanita paruh baya tersebut.


"Khanza nggak kemana-mana kan?" kata wanita tersebut tanpa melihat seseorang yang berada di sebelah cucunya. karena ia berpikir wanita mengantri untuk ke toilet.


"tadi anza pergi Oma."


"kemana?" terkejut.


"ketemu kakak Ala Oma." menunjuk Ara yang berada di sebelah nya.


wanita paruh baya tersebut terkejut ketika melihat Ara, begitu pula dengan Ara. Karena berdekatan ia langsung mengetahui wanita tersebut. wanita tersebut adalah tetangganya yang pernah ia berikan risoles ia aadalah ibu Lia.


"oh pantas dia nemuin nak Ara, soalnya jilbab nak Ara pakai mirip sama foto almarhumah mamanya. mamanya sempat berfoto pakai jilbab seperti ini dan foto itulah yang sering Khanza lihat." jelas Bu Lia yang membuat Ara menjadi sedih karena anza langsung menganggap bahwa ia adalah mamanya yang telah meninggal.


"maaf Bu, Ara jadi merasa bersalah dan membuat anza sedih." merasa sedih.


"nggak papa kok nak, lagian jilbab ini banyak juga yang jual jadi nggak perlu merasa bersalah gitu." jelas Bu Lia agar Ara tidak sedih.


"oh ya nak Ara sendirian kesini?"


"Iya Bu."


"nak Ferdiansyah kemana nak?"


"awalnya mau ke sini bareng Bu, rupanya Abang lagi ada kerjaan yang mendadak. Jadinya Ara ke sini sendiri."


"sekarang nak Ara mau pulang? kalau iya barengan sama Ibuk aja."


"boleh Bu? nggak ngerepotin?" dengan tersenyum.

__ADS_1


"nggak papa, malah ibu senang kalau barengan sama nak Ara."


sepanjang perjalanan pulang, Khanza banyak bercerita ia seperti anak-anak balita pada umumnya yang suka bertanya itu, ini dan segalanya.


"kakak umulnya blapa?"


"umur kakak 23 tahun."


"jauh sama anza, anza 3 tahun." mengacungkan 2 jari mungilnya. Ara yang melihat langsung tertawa dengan tingkah Khanza yang begitu polos.


"tiga itu seperti ini sayang." memperbaiki jari Khanza.


"Oma umul anza segini." menunjukkan jari 3 yang sudah di perbaiki oleh Ara.


ketika memasuki kawasan perumahan Khanza mulai bertanya kembali.


"kakak tinggal di cini juga?"


"iya." dengan tersenyum.


"dekat mana?"


"Khanza tau yang Oma ceritakan kemaren kalau ada kakak-kakak yang kasih Oma risoles. Yang kasih risoles itu kakak Ara. Kak Ara tinggal 3 rumah dari rumah Khanza." jelas Oma yang membuat Khanza langsung menatap Ara setelah penjelasan Omanya.


"risoles buatan kakak enak kali, papa Adnan aja cuka. punya anza aja di ambil papa Adnan." jelas Khanza dengan semangat.


"kapan-kapan buatin deh untuk Khanza sama papa Khanza." ucap Ara tulus, karena ia kasihan melihat Khanza yang masih berumur 3 tahun harus kehilangan mamanya ketika bayi.


"ya Bu."


***


"kakak tinggal di cini?" berada di dalam mobil tepatnya di jendela yang terbuka sedangkan Ara sudah di luar mobil.


"iya Khanza, ibu Lia nggak mampir dulu Bu?"


"maaf ya nak Ara, ibu lanjut pulang dulunya. takutnya papanya Khanza tunggu kelamaan di rumah."


"Oma, anza oleh main ke lumah kak ala ndak kalau ciang?"


"boleh dong, besok siang kakak jemput deh Khanza di rumah nantik main sama kakak di sini."


"apa nggak ngerepotin nak Ara?"


"nggak kok Bu, malah Ara senang ada teman di rumah."


"kalau gitu ibu sama Khanza pamitnya. assalamualaikum." ucap ibu Lia


"assalamualaikum kak." Khanza dengan cadel.


"assalamualaikum." ucap Ara sedikit keras.

__ADS_1


Ara melihat lampu ruang tamu masih menyala dan seseorang yang sedang duduk sambil menonton dengan serius tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Seseorang itu tidak peduli seseorang masuk ke dalam rumahnya padahal sudah mengucapkan salam tetapi tidak di balas.


"assalamualaikum, apa nggak ada orang."masih belum di jawab Ferdiansyah.


"assalamualaikum, salam itu wajib di jawab." menyindir Ferdiansyah.


"saya sudah jawab di dalam hati." kata seseorang tanpa melihat ara.


"oh ada orang, kata Ara nggak ada orang." pura-pura terkejut dengan gaya dramatis. Ferdiansyah yang mendengar kembali fokus menatap layar televisi.


Ara yang masih di cuekin langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Ferdiansyah hanya memandang kepergian Ara.


Ara memulai ritual sebelum tidur yaitu ber whudu, membersihkan tempat tidur dan memakai pelembap wajah.


Tok Tok Tok


"Apa?" jawab Ara yang sudah memakai jilbab instan.


"pulang sama siapa tadi?"


"Sama orang." yang masih menyembulkan kepalanya di pintu


"laki-laki atau perempuan?" tanya Ferdiansyah, Ara yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung membuka pintu dan berdiri tegap di depan Ferdiansyah dengan tatapan memicing.


"kenapa tanya laki-laki atau perempuan. kalau pulang sama laki-laki kenapa?" tantang Ara.


"ingat kamu itu udah punya suami."


"emang ada suami yang ninggalin istri nya sendirian di luar, udah di kejar malah tancap gas."Ara mengeluarkan fakta yang sebenarnya.


"ya itukan salah kamu, kenapa nggak jawab pertanyaan saya. Mau di sini atau pulang tapi kata kamu mau main, ya udah kasih."


"Ya kan bisa bicaranya baik-baik bukan emosian. Ara tau kok, kamu ngajak kamu ke sana untuk ngerjain Ara." Ara menatapnya dengan aura dingin.


"kok wajahnya berubah gitu ya."batin Ferdiansyah melihat raut wajah Ara sudah berubah dingin.


"Siapa bilang, saya ngajak kamu ikhlas lagian pasti kamu bosan di rumah jadi saya ajak jalan-jalan."


"Nggak usah ngelak lagi, Ara udah tau. Mulai dari naik roller coaster sampai pergi ke rumah hantu. Ara juga baca artikel apa saja yang di takuti wanita di taman hiburan. Pasti kamu baca artikel itu ya...." dengan nada sedikit mengejek.


"mana ada saya niat seperti itu, saya pergi dulu susah kalau ngobrol sama kamu." berlalu langsung, Ara yang melihat Ferdiansyah pergi mengejek nya.


"nggak ngaku juga padahal udah ke tangkap basah wle..." batin Ara mengejek Ferdiansyah.


sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.


jangan lupa vote dan follow


terimakasih 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2