Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Bocah


__ADS_3

"udah berapa lama gue nggak pulang?"batin Ferdiansyah, "kok ada bocah?apa gue mimpi?nggak mungkin gue mimpi."memegang kepalanya sambil mengurutnya.


kepalanya sakit dan ia izin untuk pulang. ketika pulang ia melihat bocah dan itu membuat kepalanya tambah sakit. Bocah tersebut masih betah bermain karena bocah tersebut membelakangi Ferdiansyah.


Ferdiansyah berjalan melewati bocah tersebut yang membuat bocah itu melihat Ferdiansyah dengan bingung.


"oom ciapa?" tanya nya. Yang di tanya malah menatap bocah tersebut dengan raut wajah tak terbaca.


"seharusnya saya yang nanya kamu siapa? ini rumah saya." menatap Khanza, Khanza yang di tatap langsung berubah raut wajahnya. Dan langsung menangis


"aduh kepala saya tambah sakit, kamu bisa diam nggak?" dengan tegas yang membuat tangisan Khanza semakin kuat.


Ara yang mendengar suara tangisan anak kecil langsung mempercepat jalannya. Ia sekarang melihat Ferdiansyah memegang kepala sedang kan Khanza menangis.


"Khanza kenapa?" ucap Ara


"oom.... i...tu... ja....hat.." tersendat dengan wajah yang menunduk Khanza menunjukkan Ferdiansyah.


"saya, saya cuma nanya, nggak ngapa-ng..."terpotong


"kalau nanya bisa lembut nggak? ini itu anak kecil pasti Abang nanya nya pake nada sangar kayak gini." Ara mendongkak ke atas menatap tajam, karena posisinya Ara sedang duduk di lantai sedangkan Ferdiansyah berdiri.


"udah, kepala saya tambah sakit dengar kamu celoteh." duduk di sofa dekat mereka bermain.


Ferdiansyah masih memegang kepalanya yang sakitnya minta ampun sambil menutup mata. Ia tidak sanggup ke kamar atas karena ketika ia berjalan pasti akan pusing. Ara sudah menjelaskan kepada Khanza mengenai Ferdiansyah. Khanza yang mendengar penjelasan tersebut langsung meminta maaf dan melanjutkan permainannya. Ferdiansyah sebenarnya mendengar permintaan maaf dari Khanza karena kepalanya sakit minta ampun ia hanya membalas dengan deheman.


"Khanza di sini dulunya kakak mau ke dapur sebentar." bisik Ara ke Khanza karena ia takut Ferdiansyah terganggu.


***


Khanza masih asyik bermain dengan alat tulis dan gambarnya sesekali ia melihat Ferdiansyah yang kelihatan nya sudah tidur dengan posisi duduk. Tak lama kemudian Ara datang dengan membawa minum, minyak urut dan obat.


"bang, minum dulu obatnya."


"saya nggak mau minum obat." jawab Ferdiansyah masih menutup matanya. Bukan tidak mau minum obat, Ferdiansyah sebenarnya tidak bisa meminum obat karena obat tersebut akan keluar kembali. Jadi kalau minum obat, obat tersebut harus di hancurkan terlebih dahulu.


"kalau tau bisa berabe."batin Ferdiansyah.


"trus maunya apa? nantik tambah sakit."


"kamu diam, itu buat saya cepat sembuh." masih menutup matanya. Tiba-tiba Ferdiansyah merasakan tangan seseorang yang memijit kepalanya.


"enakkan nggak?"


" Hem." Ferdiansyah merasa kepalanya enakkan, tiba-tiba gerakkan tersebut berhenti. Ferdiansyah membuka mata dan melihat Ara berada di sebelah dirinya.


"sini tangannya." kata Ara. Ferdiansyah tidak tau apa yang di lakukan Ara dengan tangannya, padahal ia sakit kepala kenapa pula tangannya harus di urut juga seperti itu pikirannya sekarang.

__ADS_1


"akh..... akh.... akh... sakit sakit " dengan suara menggema di ruangan tersebut. Ara tidak mendengarnya ia terus mengurutnya. Khanza yang melihat hanya diam. Tiba-tiba Mbak Lela datang dan melihat semuanya.


"kenapa mbak Ara?" tanya mbak Lela yang duduk di sebelah Khanza.


"sakit kepala mbak Lela."


"sakit.... sakit .... udah...udah.... akh......" mendengar rintihan tersebut Ara memberhentikan nya.


"benar sakit kepala." ucap Ara tenang.


"benar beda kalau di tv." batin mbak lela.


"saya itu emang sakit kepala, malah kamu buat saya makin sakit. tangan saya merah, kamu mau bunuh saya?" cerewet Ferdiansyah


"udah di bantuin malah nggak bilang terimakasih, urat kepala itu di sini mangkanya Ara urut di sebelah sini." menekan uratnya kembali.


"awww......" teriak Ferdiansyah.


"mau cepat sembuh atau nggak?" Ara langsung mengambil tangan tersebut dan mengurutnya kembali. teriakan dan Omelan Ferdiansyah yang terdengar di ruang tersebut.


***


mbak Lela dan Khanza masih berada di rumah Ara, kali ini mereka membuat kulit risol sambil menggoreng risoles pesanan Bu Gita untuk nantik malam. Ferdiansyah sudah kembali ke kamarnya dan tidur.


"mbak Ara nantik malam ke rumah Bu Gita?"


"insyaallah mbak Lela."


"Bu Gita sering adakan syukurannya mbak?"


"selama mbak Lela kerja di sini, Bu Gita adakan sekali setahun mbak."


"wah mantap juga ya mbak"


"iya mbak Ara."


pesanan Bu Gita sudah selesai, mbak Lela sudah pulang mengambil baju Khanza. Karena Khanza ingin mandi di rumah Ara. Awalnya mbak Lela tidak mengizinkan karena takut merepotkan Ara. Jadi terjadinya hal yang tidak inginkan yaitu Khanza menangis, mbak Lela langsung menelfon ibu Lia dan meminta izin membawa Khanza ke acara Bu Gita dan akhirnya Khanza di izinkan.


"nantik saya nyusul Lela, bilang sama Khanza jangan nakal. nantik Oma tidak mengizinkan lagi main sama kak Ara." suara Oma Khanza yang di speaker oleh mbak Lela agar Khanza dengar.


"ya Oma." masih sedikit tersendat.


"assalamualaikum cucu Oma, Ara, lela."


"wa'alaikumussalam Bu, oma." ucap mereka bertiga serentak.


"maaf mbak ara ngerepotin."

__ADS_1


"nggak papa kok mbak kalau Khanza mau mandi di sini. Kalau bisa nantik bajunya panjang aja mbak biar sekalian ke rumah Bu Gita."


***


Khanza sudah cantik dengan pakaian gamis yang imut, Ara tidak menyangka Khanza memiliki baju gamis.


"cantiknya Khanza, anak siapa sih?" gemas Ara mencubit pipi Khanza.


"anak unda ala." dengan tersenyum. Ara yang mendengar di panggil bunda terkejut.


"oleh anza panggil unda ala?"


"boleh kok."ucap Ara semangat sambil menggendong Khanza ke kasur.


untuk pesanan sudah di antar bik Tutik sedangkan mbak Lela pulang untuk bersiap-siap. Ferdiansyah sendiri masih di dalam kamar, ketika di tanya apakah dia pergi men doa syukuran ibu Gita, ia menjawab bahwa ada urusan nantik jadi ia tidak ikut.


acara akan di adakan setelah shalat isya. Ara sudah bersiap-siap dan turun bersama Khanza, mbak Lela menunggu di ruang tengah bersama bik Tutik. Ferdiansyah yang keluar dari kamar bersamaan dengan Ara dan Khanza yang ada di gendongan Ara saling menatap.


"kok penampilannya beda ya." ucap Ferdiansyah.


"udah sembuh kepalanya?" ucap Ara memecahkan keheningan.


"udah." jawab Ferdiansyah.


"kalau gitu, Ara mau pamit ke rumah Bu Gita. Assalamualaikum" ucap Ara mendekati Ferdiansyah, lalu mencium tangannya. Ferdiansyah yang mendapat perlakukan seperti itu terkejut.


"hemm. wa'alaikumussalam" jawab Ferdiansyah.


Ara berjalan di depan Ferdiansyah, Ferdiansyah yang melihat Ara mengendong balita tersebut tersenyum membayangkan bahwa mereka akan pergi keluar untuk senang-senang.


"Unda, anza haus." di sela-sela mereka jalan, Ferdiansyah yang mendengar langsung melihat terkejut.


"Khanza sama mbak Lela dulu ya, nantik bunda ambilkan."


"anza au ikut unda." manja


"oke kalau gitu." Ara langsung merubah jalannya menjadi ke arah dapur.


mereka semua akan berangkat jalan kaki, karena jaraknya tidak jauh. Ferdiansyah yang keluar dari bagasi melihat ke arah mereka semua. awalnya Ferdiansyah memberi tumpangan sampai rumah Bu Gita karena SE arah tetapi Ara tidak mau karena Khanza tidak mau naik mobil. Khanza sekarang masih betah dengan gendongan Ara. Mbak Lela dan Bu Lia (Oma Khanza) yang melihat merasa segan. Oma Khanza baru datang dari butik karena butik sedang ada acara jadi ia pulang lama.


Ferdiansyah masih melihat mereka semua jalan menuju rumah Bu Gita. Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di dekat mereka, Ferdiansyah tidak tau siapa orang tersebut. Yang ia lihat adalah seorang pria tinggi dengan memakai kemeja dan langsung menuju arah Bu Lia dan menyalaminya lalu ke arah Ara.


"siapa dia."batin Ferdiansyah


sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

__ADS_1


jangan lupa vote dan follow


terimakasih 🙏🏻


__ADS_2