
"oke giliran gue." ucap Zian memutar hotel dan berhenti tepat di depan Ferdiansyah.
"Truth or dare?"
"Truth."jawab cepat Ferdiansyah.
"perasaan dari tadi truth aja, nggak coba dare gitu?"
"Terserah gue, maunya truth atau dare. Buruan apaan?"
"tunggu...." mikir sejenak. "Baiklah, kenapa lo nikah sama Ara?"
"pertanyaan apa tu? yang lain."
"itu pertanyaannya, nggak ada yang lain."
"karena gue cinta sama dia." ucap Ferdiansyah melihat zian dengan tatapan tajam. Ara yang mendengar melihat wajah Ferdiansyah yang tampak serius dengan ucapannya. Ara juga merasa deg-deg kan mendengar ucapan yang di sampaikan Ferdiansyah.
Auristela juga melihat wajah Ferdiansyah yang serius dengan ucapannya, dari wajahnya tidak ada kebohongan.
"kelihatannya ada yang positif banget." ucap Zian tersenyum. Niko dan Doni juga ikutan tersenyum seperti Zian.
"ingat Ara, ini cuma rekayasa dan cuma ucapan." batin Ara.
"Baiklah kita lanjut." Ferdiansyah memutar botol lalu berhenti di hadapan Ara. Ara tersenyum karena ia mendapatnya.
"truth or dare?" ia berharap Ara mengatakan Truth karena ia ingin mendengar jawaban Ara, karena ia sudah menyiapkan pertanyaan.
"Dare." Ara semangat.
"Serius mau pilih dare?" ucap Niko.
"Iya, Ara serius."
"Ya sudah cium saya."
"HA?" Ara, Niko, dan Dino terkejut. Auristela san Zian menatap Ferdiansyah dengan wajah tidak percaya sedangkan Ferdiansyah tersenyum penuh kemenangan.
"Nggak bisa gitu, yang lain." protes Ara, nggak mungkin dia cium Ferdiansyah di depan teman-temannya dan juga di depan Auristela yang sudah memasang wajah tidak terima.
"Baiklah, peluk saya selama permainan." seenak Ferdiansyah.
ucapan Ferdiansyah membuat mereka semakin terkejut, meskipun sudah suami istri tapi mereka tidak ingin melihat seperti itu.
"baiklah... ini yang terakhir dan kamu harus melakukannya."
"jangan yang aneh-aneh Ferdiansyah." ucap Niko.
"Ya, yang wajar dan masih SNI." timpal Dino.
"Baiklah.. kamu bilang (aku sayang kamu wahai suami ku) di luar keras-keras."
"wih ada yang bucin kelihatannya." bisik Dino kepada Niko. Zian yang mendengar tantangan tersebut tersenyum.
"Baiklah, Ara akan lakukan siapa takut bilang gituan aja."
"oke nantik pas aku buka pintu kamu langsung teriak dan bilang (aku sayang kamu wahai suamiku yang terganteng)." ucap Ferdiansyah menambah kata.
"Nggak bisa, tidak bisa ada penambahan kata. Ucapan yang pertama yang akan Ara lakukan."protes Ara.
__ADS_1
"baiklah."
Niko dan Dino sudah meletakkan kamera di luar, dan Ferdiansyah bersiap-siap membuka pintu. Zian, Dino, Niko dan Auristela menunggu di belakang pintu.
"setelah aku bilang 1,2,3 kamu langsung teriak."
"Iya tenang aja." menyiapkan kata-kata yang akan ia teriak kan. Zian menunggu dengan wajah yang biasa cool, Auristela dengan wajah yang tampak sedih melihat kedekatan mereka. Niko dan Dino penuh semangat. Dan Ferdiansyah juga menunggu hal tersebut.
"kapan lagi bisa ngerjain dia." batin Ferdiansyah senang, tapi tiba-tiba saja ia deg-deg kan."
"1....2....3....." Ferdiansyah langsung membuka pintu.
"AKU SAYANG...." ucap Ara terpurus melihat Adnan baru saja muncul dari dj hadapan Ara, Adnan terdiam mendengar suara Ara yang keras begitu pula Ara juga terdiam. "bang Adnan." sambung Ara.
Ferdiansyah yang mendengar hal tersebut langsung terkejut lalu ikut keluar untuk melihat. Dan benar saja, Adnan berada sekitar 5 meter dari Ara.
Adnan sebelumnya sudah menelfon mbak lela dan mengabarkan bahwa ia sudah hampir tiba dan langsung menjemput Khanza. Ia merasa tidak enak kepada Ara.
Tapi ia tidak menyangka hal tersebut terjadi, bahkan Adnan sempat terdiam mendengarnya.
Mbak lela yang mendapat pesan dari majikannya, ingin keluar untuk memastikan. Tapi ia melihat ke arah pintu utama di sana banyak orang.
"Ada apa ya?" guamam Mbak lela melangkahkan kakinya ke pintu utama.
Adnan yang tadinya diam melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"assalamualaikum." ucap Adnan sopan. "Saya mau jemput Khanza."
"Waalaikumussalam bang Adnan." Jawab Ara, Ferdiansyah, Nio, Doni, Zian dan Auristela juga menjawab dengan pelan.
"khanzanya di dalam lagi tidur bang." Ara melihat ke arah Ferdiansyah.
Niko, zian dan Doni bertanya-tanya di dalam pikiran masing-masing mereka. Siapakah laki-laki tersebut, dan mereka juga ingin tertawa karena dare yang di berikan Ferdiansyah seketika gagal karena kehadiran laki-laki tersebut.
"sudah datang pak." ucap mbak lela yang melihat Adnan masuk ke dalam.
"Ya saya baru sampai."
"apa dia bapaknya anak yang di pegang Ara tadi." batin Doni.
Auristela merasa tidak familiar dengan wajah Adnan, ia mencoba-coba berfikir dimana ia pernah berjumpa dengan Adnan.
Zian sudah tau dengan Adnan, ketika masuk Adnan dan Zian saling berjabat tangan. Ferdiansyah, Doni dan Niko juga melakukan hal yang sama.
"Sebentar pak saya ke kamar dulu bangunkan Kahnza." ucap mbak lela.
"Dia tidur?"
"Iya pak."
"jangan di bangunkan, biar saya aja yang gendong dia."
"Bisa tunjukkan di mana khanza tidur?" Adnan kepada Ara, Ara dan mbak lela langsung menunjukkan arahnya.
Auristela baru sadar kalau yang baru saja ia lihat adalah seorang pemilik perusahaan belanja online. Ia pernah menjadi mengisi acara bernyanyi di acara ulang tahunnya.
"Apa dia pemilik perusahaan belanja online?" Auristela bertanya kepada mereka untuk memastikan hal tersebut.
"Ya, dia yang punya namanya Adnan." ucap zian.
__ADS_1
"patut, wajahnya nggak asing." timpal Niko.
"emangnya pernah ketemu?" Dino
"nggak." Niko tertawa.
"Jadi Khanza anaknya dia?" Dino.
"ya."Ferdiansyah
"tadi bukannya anaknya panggil bini lu dengan sebutan Bunda berarti bini lu udah nikah duluan sama si Adnan?"
"Enak aja... dia baru nikah sekali dan ituojn sama gue. Soal sebutan Bunda, anaknya aja yang panggil begitu, karena dia nggak punya Bunda." jelas Ferdiansyah.
"Berarti dia duda?" Doni
"bisa di bilang seperti itu."
"Tapi setau gue, dia belum pernah menikah." ucap Zian.
"Mungkin pernikahannya di tutupi, atau dia ambil anak angkat, Bisa jadi kan begitu." Niko.
"Iya juga." timpal Doni.
"Tapi kelihatannya anaknya suka banget sama bini lu." Zian yang memanas-manaskan Ferdiansyah.
"Hem..."
"permisi aku mau toilet dulu." ucap Auristela.
"ya." ucal Niko. Ferdiansyah, Zian, san Doni memgangguk.
Sedangkan di kamar Khanza sudah di gendong dengan Adnan. Ia sama sekali tidak terganggu mungkin karena efek setelah minum obat.
"Kalau gitu saya bereskan peralatan Khanza dulu pak." mbak lela menuju peralatan Khanza yang juga berada di sana.
"Sekali lagi terimaksih Ara."
"Ya bang Adnan."
Adnan menggendong sampai ke ruang tamu, ia juga ingin berterimakasih kepada Ferdiansyah selaku pemilik rumah.
"Terimakasih pak Adnan, susah mau mengizinkan Khanza main di sini sampai ketiduran."
"Ya sama-sama, tidak masalah." ucap Ferdiansyah tersenyum.
"unda..." ucap Khanza yang terbangun dari gendongan papanya. Khanza sadar ia sedang di gendong oleh seseorang.
"papa.. papa uda ulang, unda mana?" ucap Khanza dengan suara khas anak-anak bangun tidur.
"Bunda sini kok." ucap Ara, mendengar hal tersebut Khanza melihat ke arah asal suara.
"kok gue berasa lihat sebuah keluarga bahagia ya?" bisik Doni kepada Niko, niko juga mengangguk-angguk kepalanya. Ferdiansyah yang melihat Ara mengatakan dirinya Bunda di hadapan teman-teman dan juga Adnan merasa tidak terima.
Sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1