Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Berbeda


__ADS_3

Hafiz dan Ara sedang jogging pagi berdua berbeda dengan Ferdiansyah yang sibuk dengan jadwal syuting paginya. Ara juga sempat bertemu dengan ibu santai dan juga Khanza tetapi hari ini ia juga bertemu dengan padanya Kahnza.


Memang hari ini adalah hari weekend banyak orang-orang yang menikmati hari ini mulai dari jogging, bersepeda dan masih banyak lagi.


Termasuk Ara dan juga Hafiz, kini mereka jogging bersama, ketika orang-orang melihat mereka pasti orang-orang beranggapan mereka adalah keluarga yang berbahagia.


Jadwal untuk promosi film yang di bintang oleh Ferdiansyah memang hari ini tepatnya weekend. Memang sebagai seorang artis tiada hari tanpa tersorot.


Bu santi dan juga Ara saling berbincang-bincang. mereka begitu menikmati suasana pagi yang cerah saat ini.


"papa, anza au itu." menunjuk permen kapas.


"oke, tapi khanza siap makan permen kapas harus gosok gigi."


"ya pa." Jawab adnan membeli 2 bungkus untuk khanza dan juga Hafiz.


"ini untuk anak papa, dan ini untuk jagoan om."


"makasih pa." Jawab Khanza tersenyum


"makasih om." Hafiz juga tersebut. Adnan yang mendengar jawaban mereka berdua gemas lalu mengusap kedua kepala bocah tersebut.


"unda ama oma au?" kata khanza kepada Ara yang batu datang bersama omanya.


"makanlah cucu oma." bu santai tersenyum.


"nggak khanza, khanza makan aja. Ingat setelah makan ini jangan lupa gosok gigi khanza, Hafiz."ucap Ara tersenyum seperti ibu yang mengingatkan anaknya.


"Iya unda, aunty." jawab mereka berdua bersamaan.


"aunty kayak papa, tadi papa bilang gitu juga."


"Iya aunty.... tadi kata papa khanza juga gitu aunty." ucap Hafiz.


setelah menikmati permen kapas, khanza dan juga Hafiz bermain bersama.


"Dadah khanza..." Hafiz melambaikan tangannya, karena mereka akan pulang masing-masing.


Sebenarnya Khanza tidak ingin berpisah dengan Ara dan Hafiz dan terjadilah sebuah drama yang membuat papanya Kahnza menjadi pusing.


Dan akhirnya terselesaikan karena bujukkan dari Ara.Adnan menjadi tidak enak dengan Ara karena ulah anaknya Khanza.


***


Sore hari Ferdiansyah pulang ke rumah dengan membawa makanan street food, ia tahu bahwa Ara sangat menyukai makanan yang di jual di pinggir jalan. Selama ia tinggal bersama Ara ia sedikit tahu bahwa Ara sangat suka mengemil.

__ADS_1


Ferdiansyah masuk ke rumah tidak ada seorang pun dan juga tidak ada suara Ara maupun keponakannya.


"ke mana mereka." lirih Ferdiansyah meletakkan kantong plastik di atas meja ruang keluarga. Ketika ia ingin melangkah menuju kamar tiba-iba saja Ara turun bersama Hafiz.


Ferdiansyah memperhatikan penampilan Ara. Selama ia menjalankan pernikahan bersama Ara ia baru sadar selama ini Ara kalau di rumah memakai baju kaos dan juga training ataupun kulot dengan baju kaos yang oversize.


Ara yang di perhatikan oleh Ferdiansyah langsung mengejutkan Ferdiansyah karena ia merasa ngeri dengan tatapan tersebut.


"ngapain lihat Ara segitunya?" ucap Ara menyadarkan Ferdiansyah.


"siapa yang merhatiin kamu? dasar aneh." ucap Ferdiansyah tersadar dari lamunannya dan langsung duduk di kursi.


"siapa yang aneh?."


"kamu siapa lagi? nggak mungkin Hafiz."


"Ara, aneh dari mana nya?"


"sudahlah, saya nggak mau ribut sama kamu. Tu ada makanan." tunjuk Ferdiansyah ke arah meja, tanpa menjawab pertanyaan Ferdiansyah, ara langsung menuju kantong makanan tersebut. Meski sering makan cemilan sering dan Ara suka makan tapi badannya sama sekali tidak berpengaruh.


"wah....siomay, Makasih abang." ucap Ara dengan tersenyum, Hafiz dan bik tutik menikmatinya dengan lahap, memang Ferdiansyah membelinya cukup banyak karena ia bagi-bagi juga kepada orang yang ada di rumahnya.


untuk Ara ia memberikan spesial karena ia tahu bahwa Ara menyukai pedas. Ara makan begitu lahap sampai-sampai keringat bercucuran karena pedas tapi itu membuat Ara ketagihan.


Ferdiansyah yang melihat Ara yang berkeringat langsung terpesona bahwa pikirannya sudah belalang buana. Seketika ia langsung tersadar dan bahkan melarang Ara untuk melanjutkan makanannya.


"nantik, tanggung abang." ucap Ara, mendengar jawaban tersebut Ferdiansyah menjadi tidak stabil.


Tapi Ara tidak mau mendengarnya ia melanjutkan makannya. Ferdiansyah yang sudah panas dingin langsung berdiri lalu mengambil handuk dan melemparkan handuk ke kepala Ara. Hal tersebut membuat wajah Ara menjadi tertutup tanpa merasa bersalah Ferdiansyah melangkah pergi.


Hafiz yang melihat Auntynya di lempar handuk hanya terdiam, ia menatap oom nya lalu Auntynya.


"Aunty nggak papa?" ucap Hafiz memberhentikan makannya.


"nggak papa, Hafiz lanjut aja makannya." ucap Ara dan Hafiz melanjutkan makannya, ara melanjutkan makannya juga tapi ara masih tidak terima."oom kamu tu ya buat aunty kesel, udah tau anty.lagi makan malah di lempar segala pakai handuk, emangnya aunty salah apa, sudah di lempar dia malah pergi tanpa kata-kata dan dosa seketika dia merasa tidak bersalah, awas aja nantik." cerocos Ara, Hafiz yang menikmati makan sebelumnya seketika berhenti.


Selesai makan, Ara langsung menghampiri Ferdiansyah ke kamarnya tanpa mengetuk pintu Ara langsung masuk.


Dengan wajah dan hati yang menggebu-gebu hal yang ia lakukan merimbas kepada dirinya. Ara terkejut begitu pula dengan Ferdiansyah, mata mereka berdua sama-smaa bertemu dengan ekspresi terkejut. Saat ini Ferdiansyah sedang memakai celana yang masih masuk sebelah kaki dan belum memakai baju.


Mereka berdua gelagapan, Ara langsung berbalik badan sedangkan Ferdiansyah kalangan kabut dibuatnya.


"kalau masuk ketuk dulu bukan asal masuk." kesal Ferdiansyah yang masih memakai baju dan celananya.


"maaf." lirih Ara yang masih berbalik badan.

__ADS_1


"sudah." ucap Ferdiansyah menyelesaikan berpakaiannya.


"sudah?." Ara memastikan kembali.


"hem." jawab Ferdiansyah, ara berbalik badan dengan wajah yang menunduk.


"ada apa?"


"Ara mau ngomong."


"ngomong apa buruan."


"Ara nggak terima soal tadi abang lempar Ara dengan handuk, emangnya Ara salah apa?" cerocos Ara dengan cepat padahal sebelumnya dia ngomong dengan nada lembut dan menunduk. Kali ini ia menatap Ferdiansyah dan berkata cepat.


"kan saya tadi bilang lap keringat, mangkanya saya kasih handuk. Kamu kalau suami bilang laksanakan bukan mengelak."


"Tapi..."


"sudah, saya mau istirahat."


"jangan istirahat, ini udah sore nggak baik tidur."


"fine fine." Ferdiansyah duduk kembali setelah mendengar ucapan Ara.


"abang sudah shalat?" ucap Ara yang membuat kedua hening.


"belum."


"gimana kita shalat aja, abang imam nya." Sebenarnya Ara was-was juga.


"Hem." melangkah ke kamar mandi.


"Shalatnya di bawah ya bang, sekalian ajak Hafiz." ucap Ara kembali dan di jawab deheman oleh Ferdiansyah.


Dan sekarang mereka di ruangan keluarga, memang ruangan khusus tempat shalat tidak ada di rumah Ferdiansyah. Meskipun Ferdiansyah tidak terlalu paham agama tapi ia tau tata cara shalat dan ia shalat masih bolong-bolong.


Saat ini Ara sudah memakai mukenanya dan Hafiz juga sudah siap dengan sejadah nya begitu pula dengan Ferdiansyah lengkap dengan kopiahnya.


Kalau orang lain melihat mereka seperti keluarga yang harmonis. Di dalam hati Ara begitu bersyukur dan juga bahagia.


"terimakasih ya Allah."batin ara melihat Ferdiansyah yang sedang merapikan kain sarung Hafiz


Sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

__ADS_1


jangan lupa vote dan follow


__ADS_2