
Meskipun tertidur enak, Ara tidak lupa untuk mengerjakan kewajibannya. Menjelang sore sekitar jam 3 Ara terbangun dari tidurnya.
samar-samar ia melihat seorang laki-laki yang sedang tidur berhadapan dengannya. Dan ketika kesadarannya terkumpul Ara langsung melotot dan juga duduk seketika.
Hal yang ia lakukan membuat kepalanya langsung pusing. Bukan hafiz yang ia lihat melainkan Ferdiansyah yang tidur begitu nyenyak.
Tanpa bersuara Ara masih dalam keadaan syok, pandangannya masih tertuju kepada Ferdiansyah lalu beralih kepada hafiz.
"kenapa dia disini?"gumam Ara. Ara yang masih setengah sadar dan tidak sadar langsung menatap pakaiannya dan juga sekeliling.
"kalau di lihat memang ganteng." batin Ara dengan tersenyum. "eh... dia kan artis secara artis pasti banyak perawatan mangkanya mukanya kinclong." batin Ara membantah ucapan sebelumnya dengan ekspresi julid.
***
Ara sudah berada di kamarnya mengerjakan kewajibannya. Ketika hendak ke bawah ia bertemu dengan bik Tutik.
"sudah bangun nak Ara?"
"sudah bik, bibik sudah mau pulang ya?"
"ya nak Ara. Oh ya tadi nak Ferdiansyah bawa martabak. Martabaknya bibik letak di lemari makan."
"ya bik, untuk bibik?"
"sudah, tadi nak Ferdiansyah sudah bilang."
"oke bik."
"bibik pulang dulu assalamualaikum."
"wa'alaikumussalam bik, hati-hati."
bik Tutik memang bekerja hanya sampai jam 5 sore. Karena itu semua adalah permintaan Ferdiansyah. Ia takut ketahuan bahwa mereka tidak seperti suami istri pada umumnya.
"Tumben beli martabak." ucap Ara menuju dapur, ketika membuka lemari makan ia melihat kotak yang berbeda lalu Ara mengeluarkan keduanya.
"Ada martabak telur, tau aja Ara suka martabak telur." senang Ara yang ingin mengambil nya. Tetapi terhenti karena ia takut martabak tersebut bukan untuk dirinya melainkan untuk Ferdiansyah.
"nantik kalau Ara makan, rupanya ini punya dia. Aduh kok bimbang diriku, kelihatannya enak pula. Kalau minta izin yang punya lagi tidur, apa tunggu sampai bangun aja? padahal udah di kerongkongan." ucap Ara melirik martabak tersebut sambil menelan air ludahnya.
Karena masih berfikir untuk pergi dari sana dan meminta izin atau menunggu yang punya makanan tersebut, tanpa Ara sadari seseorang menghampiri dirinya dengan memegang baju Ara.
"eh..." Ara kaget melihat hafiz sedang memegang bajunya dengan wajah bangun tidur.
"Aunty aus."
"bentar aunty ambil dulu." jawab Ara, hafiz duduk di meja makan sambil melirik martabak.
"ini."
__ADS_1
"aunty beli maltabak?"
"nggak, tapi oom kamu yang beli."
"hafiz makan ya aunty."
"makan aja." jawab Ara dan langsung saja hafiz memakannya dengan lahap.
"lahap benar makannya, hafiz doyan martabak ya?"
"iya aunty, om Feldi juga suka maltabak. Tapi yang martabak yang hafiz makan kalau maltabak telul om Ferdi nggak suka."
"tapi kok di beli sama om ferdi ya?"
"nggak tau aunty, mungkin untuk aunty."
"ha? oh ya om Ferdi masih tidur?"
"iya tadi om Ferdi pas hafiz ke sini masih tidur tapi sekarang nggak tau." ucap hafiz, hafiz berbicara seperti anak umur 4 tahun dan juga nada bicaranya kayak cadel gitu ya...
"aunty kenapa nggak makan maltabaknya?"
"aunty makannya nantik."
"aunty hafiz udah kenyang, nggak mau lagi."
"kalau gitu aunty simpan dulu martabaknya. Dan sekarang waktunya hafiz mandi."
Ara sedang menyiapkan pakaian untuk hafiz, yang berada di kamar Ferdiansyah karena hafiz akan tidur di kamarnya.
***
Ferdiansyah bangun dan ia tidak mendapatkan 2 orang yang sebelumnya di sana. ia duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawanya.
"nyenyak kali aku tidur, dimana mereka ya?" lirih Ferdiansyah.
Ferdiansyah melihat ke dapur tetapi tidak ada, mau bertanya kepada bik Tutik, Ferdiansyah sadar bahwa bik Tutik sudah pulang. Karena tidak menemukan kedua orang tersebut ia berniat ke kamar untuk mandi.
cklek....
"oh dia di sini."batin Ferdiansyah.
"kenapa di sini?" jawab Ferdiansyah terbilang tidak sesuai dengan kata hati yang sebelumnya ia cari-cari.
"Ara siapin baju hafiz, dan nemenin hafiz mandi." jawab Ara.
sebenarnya hafiz mandi tidak tutup pintu jadi Ara bisa memantaunya. Mulai dari menyuruhnya menggosok badan dengan benar, gosok gigi lalu membilas dengan benar.
"om Ferdi Balu bangun tidur?"
__ADS_1
"iya."
"om maltabaknya enak, hafiz suka."
"hafiz sudah makan martabaknya?"
"sudah om, tapi aunty tidak makan maltabaknya."
"om Ferdi belikan untuk Hafiz." ucap Ferdiansyah sedikit melirik Ara yang asyik dengan dunianya.
"tapi om Feldi kan nggak suka maltabak telul."
"om suka kok, siapa bilang om nggak suka martabak telur."
"bukannya om sendiri yang...." ucapan hafiz terpotong karena Ferdiansyah langsung membekap mulutnya.
"udah sekarang kamu pasang baju." menuntun hafiz ke arah Ara.
"ini baju hafiz, hafiz bisa pakai sendiri?" kata Ara menyerahkan baju hafiz. Mendengar pertanyaan Ara hafiz hanya diam saja.
"baiklah, sekarang kita belajar memasang baju sama aunty." ucap Ara senang, Ferdiansyah yang melihat tersenyum tipis, siapa yang melihat pasti tidak akan mengetahui bahwa Ferdiansyah tersenyum. Ferdiansyah langsung ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Ara dan hafiz begitu senang apalagi hafiz senang belajar memasang baju. Untuk memasang baju hafiz sedikit kesusahan karena biasanya di rumah yang memasang bajunya adalah mamanya sendiri.
"sudah selesai, sekarang hafiz sudah ganteng."
"makasih aunty, aunty ayo kita siapkan baju untuk om Ferdi. Ayo aunty, ayo, ayo aunty." menarik tangan Ara yang sedang bingung. Dan akhirnya hafiz memilih baju Ferdiansyah dengan bantuan Ara yang mengambilnya.
"sekarang hafiz pakai baju warna bilu, aunty coklat, ibab aunty bilu, jadi baju om Feldi harus biru." ucap hafiz.
"ini bukan biru, namanya Dongker atau navy, kalau biru itu warnanya seperti ini." kata Ara memberikan penjelasan tentang warna sambil menunjukkan buku yang berwarna biru.
"oh gitu aunty."
"ya."
Ara meletaknya di atas ranjang, ia hanya menyiapkan baju dan celana Ferdiansyah sedangkan pakaian dalamnya Ara tidak mengambilnya.
"ayo kita ke bawah, aunty mau ngajak kamu jalan-jalan di depan."
"ayo aunty."
Ferdiansyah menyelesaikan ritual mandinya, dan ia juga tidak melihat Ara dan hafiz di dalam kamarnya. Namun ia tertuju pada pakaian yang berada di atas rancang. pakaian yang di siapkan adalah pakaian santai. Ia tersenyum karena Ferdiansyah ingat bahwa bajunya memiliki warna yang sama dengan hafiz dan juga Ara.
"kemana pakaian dalamnya?apa dia nggak nyiapkan juga? kalau tau gini mending nggak usah di siapkan. Tapi nggak papalah." awalnya Ferdiansyah tidak terima tapi endingnya ia tersenyum sambil memegang baju tersebut.
" lebih baik aku cepat-cepat keluar, aku dengar mereka akan keluar jadi aku nggak boleh ketinggalan." ucap Ferdiansyah tergesa-gesa, meskipun ia memakai pakaian santai aura bintangnya tidak akan berkurang.
Sekian dulu ceritanya
__ADS_1
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow