Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Acara Kemenangan


__ADS_3

sepanjang jalan menuju rumah Auristela, Ferdiansyah merasa tidak karuan. Ia merasa ada yang berbeda dan tidak bisa di ungkapkan. Mereka berdua menuju ke tempat acara bersamaan. Semua media menyoroti mereka, pasalnya Ferdiansyah sudah menikah akan tetapi ia pergi ke acara bersama orang yang dekat bersama dia dulu. Walaupun tidak pernah menjalin hubungan tetapi media terkadang membuat berita seolah-olah mereka sedang menjalan hubungan. Bagaimana tidak mereka selalu dekat hingga sekarang.


Sesi pengambilan foto Auristela begitu tampil glamor dan juga dengan pakaian ternama begitu juga dengan Ferdiansyah.


Ara yang sedang melihat itu menampilkan raut wajah yang sulit diartikan bagi bibik.


"itu Auristela bik?"


"ya nak, kenapa."


"cantik ya bik." wajah Ara tersenyum melihat bibik, bibik yang mendengar bingung kelana Ara mengatakan bahwa perempuan tersebut cantik. padahal Ara adalah istri nya Ferdiansyah.


"apakah nggak ada rasa cemburu gitu."batin bibik Tutik.


"ya nak Ara, tapi menurut bibik sih nak Ara yang cantik." ucap bibik.


"masak sih bik, Ara lebih cantik? emang sih bik banyak yang bilang begitu."ucap Ara pede, bibik yang mendengar jawaban Ara hanya geleng-geleng kepala.


"mereka dulu pernah pacaran ya bik." ucap Ara sambil melanjutkan makanannya.


"setau bibik nggak pernah, tapi banyak media yang bilang kalau mereka punya hubungan." mereka menonton acara tersebut.


"kenapa nggak nanya ke orangnya langsung bik? kan jelas."


"bibik nggak mau kepo tentang kehidupan nak Ferdi."


"menurut bibik, kalau Ara tanya ke orangnya langsung dia marah nggak bik?"


"ha? coba aja dulu nak Ara, siapa tau dia mau. Tapi bibik sih nggak yakin." di ikuti suara tertawa akhiran kalimat bibik.


"ya juga sih bik, Ara juga nggak yakin. Kalaupun memang dia kekasih bang Ferdiansyah kenapa mereka nggak nikah aja." ucap Ara penasaran.


"kok ngomong gitu nak Ara? menurut bibik karena nak Ferdi jodohnya nak Ara."


"jodoh ketemu di hotel, bisa jadi FTV tu bik." tawa aram


Selesai makan mereka berdua menikmati acara award tersebut. Tetapi yang lebih menikmati adalah bibik Tutik karena ia begitu fokus di acara tersebut. Ara sendiri lebih asyik dengan handphone nya, banyak pesanan risoles untuk besok hari. Ia begitu senang mendapatkan pesanan. Ara mencatat jumlah pesanan dan tanggal pengantaran di kertas memo lalu menempelnya di kulkas dapur. Bibik yang melihat kegiatan Ara tersenyum.


***


Ferdiansyah setiap award pasti mendapatkan penghargaan, mulai dari aktor terbaik, aktor tertampan, artis terfavorit dan sebagainya. Jadi tidak canggung lagi bagi dia ketika tampil di depan.


Ara yang selesai meletakkan memo mendengar nama Ferdiansyah di panggil. Bibik yang melihat Ferdiansyah tampil tersenyum.


"menang apaan bik?"

__ADS_1


"aktor terbaik." kata bibik.


Ferdiansayah mengucapkan ucapan terimakasih lalu kameraman langsung menyorot wajah Auristela yang tersebut dengan anggun. bibik yang melihat layar tv dengan wajah Auristela langsung melihat Ara yang asyik dengan handphonenya.


"Selain itu saya ucapkan terimakasih kepada istri saya yang ada di rumah, terimakasih sayang." kata Ferdiansyah dengan melihat kamera. Ara yang mendengar ucapan Ferdiansyah langsung melihat layar tv. Tatapan Ferdiansyah dan Ara bertemu walaupun di halangi jarak.


"pandai kali dia berakting, memang cocok untuk gelarnya aktor terbaik."


"cie cie di sebutin." ucap bibik menggoda Ara.


"apaan sih bik, yang ada wajar kalau nggak di sebutin nantik gosip bertebaran dimana-mana ." kata Ara tertawa.


"ya juga sih."


Ara yang mulai mengantuk langsung ke kamar sedangkan bibik Tutik beres-beres di dapur. suasana jam 10 di rumah Ferdiansyah sudah sunyi. Untuk acara award biasanya Ferdiansyah akan pulang hingga menjelang subuh, karena akan ada sesi kumpul-kumpul sesama artis ataupun berfoto-foto. Tapi kali ini Ferdiansyah langsung pulang walaupun sudah larut malam ia mengantar Auristela terlebih dahulu dan langsung ke rumah.


meskipun sudah larut malam, tetapi jalanan masih ramai dan para penjual makanan masih banyak pengunjung. Memang malam-malam begini enaknya kulineran dan juga karena ia tinggal di kota besar jadi ada yang masih bekerja sampai jam segini. Ferdiansyah yang melihat penjual martabak Manis langsung memberhentikan mobilnya, ia langsung memesan keju coklat 2 kotak. Ia ingin memberikan kepada Ara, karena tidak tau selera Ara ia memilih menu favorit para pengunjung.


***


Ferdiansyah masuk ke rumah yang suasananya sudah sunyi, ia langsung menuju ke kamar Ara sambil membawa martabak. Tetapi ketika sudah di depan pintu kamar Ara, tiba-tiba saja pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan Ara yang sedang memegang botol minum air tanpa mengenakan hijab. Mereka berdua sama-sama terkejut, Ara yang baru menyadari tidak memakai hijab langsung masuk kembali.


tok tok tok


"iya." jawab Ara, mendengar jawaban tersebut Ferdiansyah langsung turun ke bawah untuk meletakkan martabak tersebut. Ara yang di dalam sibuk mencari hijab instan nya.


***


Di dapur Ferdiansyah sudah duduk di meja makan menunggu Ara sambil memainkan hpnya. Tidak lama kemudian Ara turun dengan baju piyama plus jilbab instan. Ia langsung mengambil air karena ia begitu haus lalu meminumnya.


"Tumben." Ara duduk di meja makan.


"tuh buka." kata Ferdiansyah mengalihkan pandangannya dari hp ke Ara.


"wah mantap, martabak keju coklat." ucap Ara membuka kotak tersebut. "Abang nggak makan?" kata Ara.


"nggak, itu buat kamu."


"sebanyak ini mau bisa Ara habisin, coba dulu bang pasti nantik ketagihan." Ara mengambil martabak tersebut dan menyuapinya ke mulut Ferdiansyah, Ferdiansyah yang mendapat perlakuan seperti itu menatap Ara lalu membuka mulutnya. Ia menggigit setengah dari potongan martabak tersebut. "enak kan bang? mending di makan bang, kalau nggak habis mubazir." Ferdiansyah hanya menjawab dengan dehaman lalu Ara memberikan sisa an martabak tersebut ke tangan Ferdiansyah.


Ara begitu menikmati martabak manis tersebut, tanpa ia sadari Ferdiansyah melihat itu lalu menatap potongan martabak di tangannya sambil tersenyum.


"Abang kenapa senyum-senyum?" kata Ara yang membuat Ferdiansyah terkejut.


"siapa yang senyum." elak Ferdiansyah

__ADS_1


"tadi Ara lihat senyum-senyum lihatin martabak."


"ngaco kamu, kamu kenapa jam segini belum tidur?" mengalihkan pembicaraan.


"tadinya udah tidur, tapi karena haus Ara mau ke dapur eh malah ketemu Abang. Apalagi bawain martabak, pas pula sebenarnya Ara dari tadi pengen cemilan gitu."


"kenapa nggak cari cemilan? kan bisa keluar sama bibik atau delivery."


"inti dari semuanya adalah Ara malas. pengennya kayak gini di beliin."


"jadi kamu suka kalau saya sering kasih cemilan buat kamu."


"bisa dibilang begitu." mengunyah martabak nya.


"baiklah saya tidak akan membelikan kamu cemilan.


"nggak papa, nantik Ara cari sendiri."


"tapi kamu malas."


"malas untuk hari ini, besok-besok Ara semangat." tetap cuek, sedangkan lawan bicaranya sudah geram dengan perlakuan Ara.


"martabak itu juga tadi di kasih sama pihak acara, jadi bukan saya yang belikan. Mana mungkin saya mau belikan kamu, malam-malam begini." ucapan Ferdiansyah bohong yang mana membuat Ara yang sedang makan menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"yang penting halal, mau itu di kasih ataupun di beli, semoga yang memberi mendapat keberkahan, Aamiin." mengadahkan kedua tangannya seperti orang berdoa.


selesai menikmati 3 potong martabak Ara membereskan lalu memasukkan ke dalam kulkas. Ia ingin melanjutkan tidur ya lagi karena ia sudah mulai mengantuk.


"tunggu."ucap Ferdiansyah yang membuat Ara yang akan melangkah menuju lantai dua berhenti tanpa membalikkan badannya. "kenapa kamu masih pakai jilbab di rumah?" ucapan tersebut membuat Ara terdiam.


"kalau kamu nggak mau jawab juga nggak papa. Tapi kamu kelihatan berbeda tanpa jilbab." kalimat terakhir Ferdiansyah membuat Ara berbalik badan. "Maksud saya lebih baik kamu memakai jilbab, soalnya saya lihat rambut kamu jelek."


"Kenapa kalau rambut Ara jelek? nggak suka? kalau nggak suka jangan di lihat."ucap Ara sewot, lalu menuju ke kamarnya tanpa mendengar suara Ferdiansyah yang meneriakkannya.


"yak, saya ngomong jujur kenapa kamu sewot gitu." teriak Ferdiansyah ketika melihat Ara berjalan cepat ke lantai dua. Sebenarnya Ferdiansyah terkejut melihat penampilan Ara bangun tidur tadi, tapi ia tidak mau mengakuinya.


"dirimu memang berbeda."batin Ferdiansyah.


sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.


jangan lupa vote dan follow


terimakasih 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2