Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Kesekian kalinya


__ADS_3

"nyanyinya berdiri." Ferdiansyah menyuruh Ara berdiri di hadapannya. Ara langsung setuju.


"ayo nyanyi."


"mau nyanyi apa?"


"yang kamu bisa aja, saya tunggu."


"Mau nyanyi apa, lagu yang Ara hafal nggak ada."


"saya hitung sampai 3 kalau kamu nggak nyanyi, kamu cari cincin nya sampai dapat."


satu.........


dua......


ti.....


"Anak-anak Nabi ada tujuh orang


Tiga laki-laki empat perempuan


Pertama Qasim, Abdullah, Ibrahim


Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, Fatimah


Ibunya bernama Siti Aminah


Ayahnya bernama Abdullah


Kakeknya bernama Abdul Muthalib


Pamannya bernama Abu Thalib


Mari kita mengenali keluarga Nabi


Keluarga yang terpuji, keluarga suci


Mari kita mengenali keluarga Nabi


Keluarga yang terpuji, keluarga suci." Ara melakukannya dengan gerakan ala mengajar anak-anak, Ferdiansyah yang mendengar tidak tau harus berkata apa, pasalnya ia tidak akan mengira Ara akan menyanyi lagu tersebut.


"Gimana udah kan?"


"ha?"


"udah kan, Ara udah nyanyi sambil gerak. Jadi semuanya selesai."


"tadi lagu apa?"


"Abang nggak tau? serius?"


"ya saya nggak tau."


"memang....., dulu madrasah mana?"


"saya nggak madrasah." jawab Ferdiansyah, Ara yang mendengar hanya geleng-geleng kepala.


"kenapa? mau ngejek saya karena nggak tau nama anak nabi?"


"kenapa di ejek, tidak boleh suudzon harusnya husnudzon."


"kenapa nggak nyanyi kayak kemaren aja?"


"nyanyi yang mana?"


"yang joget seperti ini." Ferdiansyah mempraktekkan gaya Ara yang pernah ia lihat.


ara yang melihat hanya diam, sedangkan Ferdiansyah sibuk dengan gerakannya sambil tersenyum.


"Ara nggak mau."

__ADS_1


"kenapa?"


"nggak mau aja, lagian biar Abang tau anak nabi ada 7 hitung-hitung tambah ilmu juga."


"o....." jawaban Ara membuat Ferdiansyah pergi dengan ekspresi dingin.


"Abang mau ke mana?" teriak Ara, tapi tidak di jawab oleh Ferdiansyah, tanpa aba-aba Ara langsung berlari mengejar Ferdiansyah.


"mau ngapain?" ucap Ferdiansyah ketika Ara menghadang dengan merentangkan kedua tangannya di depan Ferdiansyah.


"Abang mau ke mana?"


"saya mau ke kamar?" ucap Ferdiansyah, Ara sudah mengubah posisinya kembali.


"Ara sudah selesai nyanyi, jadi di maafkan?"


Ferdiansyah langsung menyingkirkan Ara karena ia ingin cepat-cepat sampai di kamar.


"tunggu, kenapa nggak di jawab." berlari kembali.


Dan tibalah Ara di depan kamar Ferdiansyah, dan kali ini Ara di depan pintu sambil menghalangi Ferdiansyah.


"apa lagi?"


"jawab dulu."


"mau jawaban oke..." Ferdiansyah menarik tangan Ara dan langsung masuk ke dalam kamar, tanpa aba-aba ia langsung membawa Ara ke kamar mandi. Ara yang di bawa menjadi panik, dan juga ia tidak bisa melawan karena tenaga nya tidak sekuat dengan Ferdiansyah.


"wah wah apa-apaan ni, Ara nggak mau....." teriak Ara.


tibalah Ara dan Ferdiansyah di kamar mandi, tanpa peringatan satu dua tiga, Ferdiansyah langsung membuka celana sedangkan Ara yang melihat gerakkan tersebut berbalik badan.


posisi saat ini Ara berada di samping Ferdiansyah dan tepat di depan Ara adalah bathtub. bisa saja ia keluar tapi kaki Ara seakan-akan tertahan.


"parah...."batin Ara berdegup begitu kencang.


"leganya...."batin Ferdiansyah.


***


ketika ingin memencet bel, ternyata pintu rumah tidak terkunci.


"memang kebiasaan." ucap mama citra.


"kemana orang rumahnya ma? tapi kalau di lihat mobil Ferdi ada di depan." ucap papa Fendy.


"papa dengar nggak ada suara orang teriak."


"mama salah dengar mungkin, mana ada orang teriak ma."ucap papa Fendy duduk di ruang keluarga.


"mungkin mereka di atas, mama ke atas dulu pa."


"ya, papa mau istirahat dulu." ucap papa Fendy memejamkan mata.


ketika menaiki tangga, mama citra tidak mendengar suara sama sekali, dan beberapa kali mama citra memanggil nama keduanya tetapi tidak ada sahutan.


mama citra melihat kamar juga terbuka sedikit dan tanpa pikir panjang mama citra langsung membukanya. Tetapi orang yang ia cari tidak ada, ia melihat sekeliling kamar.


sedangkan di kamar mandi ketika hendak menyiram, celana Ferdiansyah terkena air, dan akibatnya celana bagian depan basah.


mama citra yang tidak menemukan mereka berniat keluar kamar tapi terhenti karena ia mendengar suara pintu kamar mandi akan di buka.


mama citra melihat Ferdiansyah keluar kamar mandi dengan wajah segar dan juga ia melihat celana anaknya yang basah. Ferdiansyah melihat mamanya dengan ekspresi terkejut tetapi mama citra ingin bertanya dimana Ara tetapi hal tak terduga ia dapati adalah melihat Ara juga keluar dari kamar mandi tersebut.


pemandangan dua orang keluar kamar mandi dengan wajah yang satu segar dan satu lagi cemburut membuat mama citra berprasangka yang tidak-tidak.


"kalian...."


"nggak kok ma." ucap Ara cepat.


"tapi itu kamu basah." menunjuk celana Ferdiansyah, Ara dan Ferdiansyah langsung melihat apa yang di tunjuk oleh mama citra.

__ADS_1


"biasa ma...Mama ke sini sendiri??" ucap Ferdiansyah.


"nggak mama sama papa, papa lagi di bawah."


"kalau gitu aku ke bawah dulu ma."langsung keluar kamar.


"kalian begitu di kamar mandi?" ucap mama citra.


"nggak kok ma, mama salah paham tadi bang Ferdiansyah cuma buang air kecil." Ara mengutuk dalam hati, kenapa ia harus mengucapkan hal itu.


"ha buang air kecil? kamu jangan malu, itu lumrah kok kalau sudah suami istri." ucap mama citra dengan senyuman.


"tapi nggak kayak gitu juga ma."batin Ara.


***


menu makan malam kali ini begitu beraneka ragam. karena mama dan papa Ferdiansyah ikut bergabung juga.


"vitamin yang mama kasih sudah habis?"


"belum ma."


"ya udah, tadi mama juga ada bawa vitamin lagi, jadi harus di minum ya."


"ya ma."


"vitamin apa ma?" kata pak Fendy.


"vitamin untuk penguat stamina tubuh juga daya tahan tubuh supaya lebih kuat."


"untuk Ferdi nggak ma?"


"kamu udah kuat, di kamar mandi aja kamu bablas."


"maksud mama?"


"sudahlah, lanjut makan. Nggak baik makan sambil ngobrol." ucap papa Fendy.


kedua orang tua Ferdiansyah sudah pulang, tinggallah sepasang suami istri tersebut di depan halaman sambil melambaikan tangan dengan senyuman.


"kenapa senyum-senyum gitu."


"nggak boleh, setahu saya senyum itu sedekah."


"ya senyum sedekah tapi kalau Abang yang senyum kesannya ada maksud dan tujuan tertentu." bergidik ngeri.


"baiklah kalau gitu kita masuk aja, udah malam nantik adek kedinginan, Abang juga yang risau." ucap Ferdiansyah menggoda Ara sambil merangkul bahu Ara.


Ara yang mendapat perlakuan tersebut terkejut, apalagi ia mendengar perkataan Ferdiansyah yang menyebut dirinya Abang dan untuk dirinya adek.


"geser dikit."


"nggak baik gitu, suami mau dekat-dekat, kok di larang. mending kita ke dalam. Abang takut adek masuk angin." masih menggoda Ara. membawa Ara ke dalam rumah.


"ya bang nantik adek sakit. Abang yang capek jaga Adek." ucap Ara memainkan perannya.


mendengar hal itu, Ferdiansyah memperkuat rangkulan bahu pada Ara, kalau di lihat mereka seperti orang yang sedang berkelahi tetapi orang lain melihat akan mengira mereka melakukan hal romantis.


Tanpa mereka sadari seseorang sudah berada di belakang mereka, ia adalah Auristela yang sedang menyaksikan keromantisan mereka.


"istri siapa sih?" gemas Ferdiansyah mencubit pipi Ara.


"istri orang." ucap Ara dengan suara kurang jelas.


"pengen di cium." gemas Ferdiansyah. Mendengar hal itu Ara menghindar.


"Hem..." ucap Auristela. Mendengar suara tersebut, Ferdiansyah melihat ke belakang begitu pula dengan Ara. posisi mereka masih saling merangkul, tetapi Ferdiansyah langsung melepas rangkulan tersebut.


sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.

__ADS_1


jangan lupa vote dan follow


__ADS_2