
Saat kngin mengambil air whudu untuk shalat maghrib tiba-tiba saja Ara datang bulan dan stok pembalutnya hanya tinggal satu untuk malam ini.
"huf... kalau beli pagi toko bukanya jam 8, setelah makan nantik ke mini market aja." ara menghela nafas.
Ara keluar kamar untuk menyiapkan makan malam. setelah terhidang Ara sesekali melihat ke arah jenjang. Ara ingin menghampiri Ferdiansyah di kamar tapi ia sendiri merasa canggung untuk melakukannya.
di dalam kamar setelah shalat Ferdiansyah biasanya langsung turun dan makan malam tapi untuk malam ntah kenapa ia malu bertemu dengan Ara.
Ferdiansyah memang kalau untuk kewajiban masih bolong-bolong tapi semenjak ia shalat bersama Ara tiba-tiba saja ia membuat setelah jam shalat.
Perutnya sudah ingin di beri makanan, tapi akhirnya ia mengalah setelah mondar-mandir di dalam kamar. Akhirnya ia turun ke bawah untuk makan dan ia berharap Ara tidak di sana.
Ketika setelah sampai di meja makan, yang ia harapkan tidak sesuai. Ara sedang menyiapkan makanan di atas meja makan. Mata mereka saling bertatapan tapi langsung di alihkan oleh Ferdiansyah.
"dia datang."batin ara melihat Ferdiansyah yang juga melihat dia, tapi Ferdiansyah langsung menatap ke arah lain.
"Suasana seperti apa ini."batin Ferdiansyah yang masih berdiri.
"Makan bang." ucap Ara mempersiapkan Ferdiansyah.
"Hem." menarik kursi dan duduk.
Ara mengambil nasi dan juga lauk untuk Ferdiansyah seperti biasanya lalu memberikan kepada Ferdiansyah tanpa mengucapkan terimakasih. Setelah itu ia mengambil untuk dirinya sendiri.
Makan malam kali ini terasa awkward bagi mereka berdua. Apalagi setelah kejadian sore yang di lakukan Ferdiansyah terhadap Ara. Hanya suara sendok milik Ferdiansyah yang berbunyi sedangkan Ara memang biasa makan pakai tangan.
"izin nggak ya?"batin Ara sesekali melihat Ferdiansyah yang makan dengan hikmat.
"jangan bilang dia kegeeran setelah kejadian tadi." batin Ferdiansyah yang melihat Ara mencuri pandang dengan dirinya.
Selesai makanpun mereka saling diam, tapi ketika Ferdiansyah hendak kembali ke kamarnya tiba-tiba saja Ara mencegahnya.
"Tunggu." ucap Ara, menghentikan langkah Ferdiansyah yang hendak pergi.
"Ada apa?" ucapnya dingin, Ara bisa merasakan perbedaan Ferdiansyah.
"Em.. Ara mau izin keluar, mau ke mini market." ucap Ara yang berada di belakang Ferdiansyah, mendengar hal tersebut tiba-tiba Ferdiansyah berbalik badan lalu melihat Ara. Hal tersebut membuat mereka berdua berdiam sejenak.
"boleh?" ucap Ara supaya keluar dari suasana tersebut.
"hem." ucap Ferdiansyah, mendengar hal tersebut Ara langsung mengambil kunci motor.
"pakai motor?" ucap Ferdiansyah yang melihat Ara ingin ke garasi.
"Ya bang."
"Biar saya antar." ntah kenapa kalimat tersebut yang keluar dari mulut Ferdiansyah. Ara ingin menolak tapi kunci motor yang berada di tangannya sudah di ambil Ferdiansyah terlebih dahulu.
__ADS_1
Memang mini market dekat rumah mereka tidak terlalu jauh, tapi saat ini terasa jauh dan suasana di atas motor pun awkward sekali. Ara sesekali melihat kiri kanan komplek dan Ferdiansyah fokus mengendarai motor mati tersebut.
Setibanya di mini market Ferdiansyah langsung masuk tanpa menunggu ara yang masih di tempat parkiran.
Ara menyusulnya dan Ferdiansyah tampak berada di tempat minuman. Tak ingin berlama-lama Ara langsung mencari apa yang harus dia cari.
"Akhirnya dapat." mengambil 6 buah sekaligus, agar nggak susah-susah keluar. Ia langsung menuju kasir.
Memang Ara terbilang cukup polos, pernah ketika kuliah ia belanja bersama temannya di mini market. Setibanya di kasir ia melihat kotak berwarna biru, ia memang suka memakan permen dan suka mencoba jenis-jenis permen.
flashback on
ketika kotak tersebut sudah di tangannya, teman yang baru sampai di sampingnya terkejut melihat apa yang Ara pegang.
"kamu beli itu?." kata teman kuliah Ara dulu
"hem." ucap ara mengangguk senang.
"kamu tau itu apa?"
"tau." ucap ara membuat temannya makin terkejut "ini permen kan?" kalimat ini membuat temannya menemukan jidat sedangkan kasir melakukan hal yang sama seperti teman ara sambil ngakak. mengingat hal tersebut Ara malu banget.
flashback off.
Ara menggelengkan kepalanya mengingat hal yang memalukan tersebut.
"kamu?" ucap ara terkejut, bagaimana tidak dia adalah kasir yang sama ketika ara memegang kotak biru tersebut. Ara mengingatnya begitu pula dengan sang kasir.
Suasana mini market sepi jadi kasir perempuan tersebut menceritakan kalau dia kerja part timeline di sini karena ia masih kuliah. kenapa bisa di sini padahal dulu dia tinggal di kota ara? karena kuliahnya berada di sini. Jadi ia sebagai kasir untuk nambah-nambah uang jajan.
"oh gitu, semangat kerja sama kuliahnya."
"Iya kak Ara." ucap gadis bernama putri tersebut. Dan istri juga tau kalau Ara sudah menikah dengan Ferdiansyah seorang artis yang terkenal di negaranya. ketika putri ingin memberikan plastik belanja tiba-tiba Ferdiansyah meletakkan cukup banyak cemilan dan minuman.
"sekalian aja di gabungkan." ucap Ferdiansyah membuat putri dan Ara menatapnya.
Putri alangsung menghitung belanjaan Ferdiansyah dan di gabungan dengan punya Ara.
"Totalnya 328.000." ucap Putri sambil tersenyum melihat Ara yang berdiam saja. lalu memasukkan belanjaan ke kantong belanja. Ferdiansyah memberikan uang nya dan Ara mengambil kantong belanja.
"Terimakasih selamat belanja kembali." memberikan kembalikan uang Ferdiansyah. Ara tersenyum begitu pula dengan putri yang penuh arti.
mereka berdua sudah tiba di rumah, Ara mengambil barang yang ia beli di kantong satu lagi, karena kantong belanja milik ya di bedakan.
Ferdiansyah juga mengambil kantong belanjanya, tapi ia melihat kotak biru yang membuat ia terkejut.
"kapan aku ambil ini?memang aku tadi belanja bingung tapi nggak sampai pegang beginian?" ucapnya masih memegang kotak tersebut.
__ADS_1
"apa dia yang beli?" ucap Ferdiansyah kemudian ia menggelengkan kepala, dan ia langsung mengambil struktur belanja, yang adeknya malah dia buang setelah belanja tadi.
Ara yang ingin meminta minuman Ferdiansyah turun kembali. Di perjalanan pulang tadi Ferdiansyah mengatakan kalau belanjaan ia boleh di makan jadi Ara berniat memintanya.
Tapi ketika Ara sudah di samping Ferdiansyah ingin mengatakan sesuatu, matanyabtertuju pada tangan Ferdiansyah yang memegang kotak biru yang sebelumnya ia lihat di mini market.
"Abang beli itu?"Lirih Ara yang membuat Ferdiansyah menatapnya terkejut dan baru sadar Ara di sampingnya.
"nggak, saya nggak beli beginian." ucapnya tidak terima dan langsung meletakkan kembali dengan cara di lempar ke dalam kantong belanja.
"kamu ngapain ke sini?bukannya tadi udah ke atas?" Ferdiansyah mengalihkan pembicaraan.
"emm.. tadi katanya boleh ambil jajan ini, jadi ara mau minta." ucap Ara dengan nada canggung.
"ambil aja, lagian ini buat di makan. Sekalian susun aja di kulkas." ucap Ferdiansyah pergi dari hadapan Ara.
"Tuhggu bang." menghentikan langkah Ferdiansyah.
"ini juga masukkan ke kulkas?" ucap Ara memegang kotak biru tersebut, Ferdiansyah yang mendengar langsung memelaskan wajahnya yang tampak frustrasi dengan perkataan Ara.
"Buang aja."
"Masak di buang bang, mubazir tadi ara lihat harganya lumayan dapat mie ayam 2 porsi."
"dia samakan dengan harga mie ayam."batin Ferdiansyah sedih mendengarnya.
"trus mau di apain? di pakai? nggak mungkinlah, lagian kalau iya di pakai kamu mau..." ucap Ferdiansyah terpotong oleh Ara.
"Iya Ara buang." ucapnya ke tempat sampah.
"2 porsi mie ayam."batin Ara sedih melihat nya.
"kalau mau mie ayam, nantik saya belikan."
"nggak usah bang, ara udah kenyang. Kalau besok boleh Ara tunggu. Ara ambil ini ya bang, makasih." ucap ara mengambil minuman dan snak.
"ya." ucap Ferdiansyah pelan.
**kira-kira apa kotak biru tersebut
klunya adalah sering berada di tempat meja kasir😅😅😅
Sekian dulu ceritanya**
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1