
Ara dan bik Tutik memasuki rumah, Ferdiansyah sendiri sedang di dapur. ia langsung bergegas tidak tau arah ketika Ara dan bik Tutik sudah di depan rumah.
"assalamualaikum." ucap keduanya tanpa ada yang menjawab.
bik Tutik langsung kebelakang sedangkan Ara ke dapur karena merasa kehausan. Ferdiansyah yang mendengar suara orang yang akan ke dapur langsung membuka kulkas, ia seakan-akan melakukan sesuatu.
"eh, cari apa bang?" tanya Ara melihat Ferdiansyah berdiri di kulkas terbuka tanpa melakukan apa-apa.
"cari cemilan." masih melihat-lihat isi kulkas.
"tumben." jawab Ara mengambil air minum.
"terserah saya, rumah-rumah saya jadi terserah saya mau ngapain." agak sewot.
"terserah saya, rumah-rumah saya jadi terserah saya mau ngapain."kata Ara dengan suara kecil dan nada mengejek.
"kamu ngejek syaa?"
"nggak."
"kenapa pulangnya lama? orang dari tadi pulangnya."
"karena Ara bukan orang tapi bidadari." dengan nada cuek.
"saya serius." datar
"Ara juga serius." setelah melihat wajah Ferdiansyah yang menatapnya dengan tajam akhirnya Ara mengaku. " tadi tunggu buk lia sama cucunya dulu."
"tunggu cucu buk Lia atau anaknya buk Lia." memang Adnan di kenal sebagai anaknya buk Lia di daerah sana.
"iya sekalian juga sama bapaknya Khanza, pak Adnan baik juga Lo bang, masak dia ambilkan makanan Ara trus..." kata Ara terpotong
"dia pasti ada maunya, kamu itu harus jaga-jaga karena setiap cowok pasti ada maunya ketika berbuat baik. Dan lagian kamu itu udah punya suami jadi jaga jarak." kata Ferdiansyah, Ara melihat sambil hanya mengangguk-angguk paham.
"iya iya, Abang cari apaan sih? dari tadi kelihatannya nggak ketemu-ketemu."
"saya cari.... ha ini..." kembali fokus ke kulkas dan mengambil es krim.
"oh es krim, emang es krim termasuk dalam jenis cemilan?" melangkah ke wastafel meletakkan gelas bekas air minumnya.
" termasuklah."memegang es krim
"ini, buat kamu tiba-tiba saya nggak mood makannya."kata Ferdiansyah memberikan eskrim tersebut. Ara yang melihat Ferdiansyah memberikan es krim kepada dirinya menyipitkan matanya ke arah Ferdiansyah.
"Abang pasti ada maunya."
"yak.. saya itu ikhlas kasih kamu. Kamu nggak bisa bedakan orang yang baik sama yang jahat ya? tampang yang baik begini mana ada maksud lain. lagian kan saya udah bilang saya nggak mood makannya karena kamu itu, terus bicara nggak faedah" cerocos Ferdiansyah
"Abang sendiri yang bilang, setiap cowok pasti ada maunya ketika berbuat baik."
"terkecuali buat saya, karena memberikan es krim kepada kamu adalah perbuatan kurang baik." kesal Ferdiansyah meletakkan es krim ke tangan Ara lalu pergi dari dapur.
__ADS_1
" sensi banget jadi cowok, lumayanlah dapat es krim." tersenyum melihat es krim di tangannya.
Ara begitu menikmati es krimnya di meja makan sedangkan Ferdiansyah sedang karuan di kamarnya. Entah kenapa dia menjadi kesal dengan pembicaraannya bersama Ara di dapur.
***
pagi begitu cerah, Ara menyiapkan sarapan untuk aktor terbaik di negaranya. sedangkan Ferdiansyah sedang di kamar mandi karena sebentar lagi ia akan melakukan pemotretan dari iklan ambasador. Memang selain aktor yang terkenal, Ferdiansyah juga kerap menjadi model iklan karena wajah dan tubuh yang bagus untuk iklan perawatan wajah dan pakaian. Apapun yang di iklan kan oleh dirinya rata-rata barang akan terjual lebih banyak.
"mana Ara bik?"
"tadi katanya kebelakang nak Ferdi."
"okelah bik."
"kalau gitu saya ke belakang dulu nak Ferdi."
"mmmm."
Ferdiansyah menatap sarapan pagi ini begitu simpel ada pancake dan nasi goreng. Ferdiansyah mengambil nasi goreng lalu memakannya, selama makan ia sesekali melihat arah pintu belakang. Dan orang yang ia cari muncul dari pintu tersebut. Ara berlalu di hadapan Ferdiansyah tanpa menyapanya. Ferdiansyah yang melihatnya dengan heran.
"saya mau berangkat." kalimat dari Ferdiansyah membuat Ara yang berjalan menuju kamarnya berhenti. tetapi tidak berbalik badan, setelah itu ia melanjutkan perjalanan nya.
" kamu dengar saya nggak sih? saya mau berangkat kerja." melangkah menuju Ara
"pergi aja, Ara mau ke atas." tanpa membalikkan badannya
"kamu itu ngapain? kalau ngomong lihat orangnya bukan belakangi orangnya." Ferdiansyah membalikkan badan Ara dengan tangannya.
"saya kotor jadi....." dengan wajah kesal
"siapa yang menodai kamu? bilang siapa? biar saya yang hajar dia?" wajah Ferdiansyah sudah merah, dia mengguncang-guncang bahu Ara tanpa mendengar kalimat selanjutnya.
"kenapa sih?" menepis tangan Ferdiansyah di bahunya.
"kamu bilang tadi kamu kotor, siapa yang menodai kamu? di bagian mana di pegang? bilang sama saya." masih menatap Ara dengan nada tinggi.
"saya kotor karena tanam sayur, kenapa ngegas sih?nodai-nodai emangnya Ara deterjen. Lihat nih tangan Ara kotor." menunjukkan tangannya kepada Ferdiansyah.
"maaf saya terbawa suasana, soalnya.... saya dapat peran....sebagai.... laki-laki posesif. jadi dialognya seperti itu, jadi nggak perlu salah paham." Ferdiansyah bingung menjelaskan kepada Ara.
"ya Ara nggak salah paham, kalau gitu Ara ke kamar, permisi pak aktor." menuju kamar.
"Hem."
"kenapa gue lebay banget, ah mumet pala gue."lirih Ferdiansyah.
setelah membersihkan tangannya Ara langsung ke bawah dan ia melihat Ferdiansyah masih di meja makan.
"katanya mau kerja ngapain masih di situ." gumam Ara. Ara langsung mengambil pancake.
"saya pulangnya lama, mungkin tengah malam karena jadwal padat."kata Ferdiansyah tanpa melihat lawan bicaranya ia hanya fokus dengan handphone nya. Ara yang akan menyuapi pancake berhenti mendengar kalimat dari Ferdiansyah.
__ADS_1
"ya." jawab Ara seadanya lalu melanjutkan makannya. Selama makan Ferdiansyah masih di meja makan dengan fokus dengan handphone nya, selesai Ara makan Ferdiansyah langsung berdiri dan memberikan tangannya kepada Ara. Ara yang mendapatkan hal seperti itu bingung dan langsung menyambutnya. Hal tersebut di lihat oleh bibik yang akan ke dapur.
"jangan geer, tadi bibik lihat." kata Ferdiansyah
"ya."
"kamu bisa nggak jawabnya agak panjang sedikit dari tadi ya ya ya ya ya."
"trus Ara jawab apa? tidak gitu kan nggak mungkin." bingung Ara.
"sudahlah pusing kepala saya debat sama kamu, terlambat saya jadinya."
"kalau terlambat kenapa nggak dari tadi perginya malah asyik dengan hp."
"terserah saya, hidup-hidup saya, saya aktornya, kalau nggak ada saya syutingnya nggak akan jalan."
"itu namanya sombong, nggak boleh sombong nantik perannya diambil sama yang lain baru tau rasa."
"saya nggak sombong, yang saya ngomong tadi fakta kok. Kok malah jadinya debat, nantik sambung debatnya saya mau pergi." melangkah keluar rumah.
"assalamualaikum dulu." kata Ara yang dibelakang dirinya. Ferdiansyah berhenti mendengar perkataan Ara.
"assalamualaikum." kata Ferdiansyah tanpa berbalik badan.
"wa'alaikumussalam, hati-hati bang." kata Ara dengan tulus, sedangkan Ferdiansyah tersenyum mendengarnya tanpa berbalik dan melanjutkan langkahnya. setibanya di luar Ferdiansyah senyum-senyum sendiri setelah mendapatkan perhatian dari Ara.
"kenapa senyum?" kata Ara di samping dirinya, ia tidak tau kalau Ara menyusul dirinya. karena Ara melihat jam tangan Ferdiansyah di meja makan dan ia ingin memberikan kepada Ferdiansyah dan untung Ferdiansyah masih di teras rumah.
"Ha?kapan kamu di samping saya?" kata Ferdiansyah terkejut dan syok.
"baru kok semenjak Abang senyum-senyum sendiri."
"terserah saya, senyum kan merupakan sedekah." elak Ferdiansyah.
"kalau senyum-senyum sendiri namanya gila bang."
"kamu bilang saya gila?"
"nggak, Abang sendiri yang bilang diri abang gila."
"sudah cukup, jadi kenapa kamu nyusul saya, kangen? baru aja saya mau berangkat kerja." dengan pedenya.
"Ara mau kasih ini, jam tangan Abang tinggal di meja makan." memberikan jamnya. "jangan geer" Ara langsung lari kedalam rumah dengan tawa ledekan.
"yak dosa nertawain suami sendiri." kesal Ferdiansyah. "awas....gue balas nantik."gumanya.
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1
terimakasih 🙏🏻