Menikah Dengan Artis

Menikah Dengan Artis
Tamu Makan Malam


__ADS_3

Suhu badan Khanza sudah mulai berkurang, meskipun begitu Khanza tetap berada di sisi Ara. Saat ini Khanza dan Ara berada di ruang keluarga tepatnya Ara sedang menonton televisi dan Khanza memeluknya.


*flashback


Khanza terbangun dan melihat Ara di sebelahnya.


"unda-unda.."menggoyangkan tangan Ara.


"mmmmm.. iya Khanza."suara khas bangun tidur.


"unda anza haus."


"tunggu bentar bunda ambil dulu. Khanza diamnya nantik tambah sakit."kata Ara tetapi terhenti karena baru menyadari ada tangan seseorang di pinggangnya. pelan-pelan Ara melihat siapakah orang tersebut.


"ya unda."melihat Ara.


"bang..."suara Ara sedikit keras.


"ap sih saya ngantuk."membuka mata lalu menutup nya kembali.


"awas dulu Ara mau ambil minum."


"ya ya ya."Ferdiansyah dengan malas lalu melanjutkan tidurnya.


"kenapa dia tidur disini."batin Ara bertanya.


Khanza yang setengah sadar melihat seorang laki-laki di sampingnya membelakangi tubuhnya, ia mengira laki-laki tersebut adalah papanya.


"papa."ucap Khanza memeluk Ferdiansyah, Ferdiansyah yang belum sepenuhnya tidur merasa ada seseorang memeluknya dari belakang. Ia langsung membalikkan badan dengan hati-hati.


Ferdiansyah yang melihat anak kecil tersebut memicingkan mata sambil memeluknya ia merasa terharu. Lalu Ferdiansyah membalas pelukan anak tersebut dengan hangat.


cklek


Ara yang membawa minum melihat pemandangan di ranjang merasa bingung sejak kapan Ferdiansyah memeluk Khanza dan mereka berdua sama-sama terlihat seperti bapak dan anak.


"Khanza minum dulu, tadi katanya haus." ke arah ranjang sebelah kanan membangunkan dengan lembut sambil mengelus-ngelus pipi Khanza.


"unda..."Khanza membuka matanya lalu melepaskan pelukannya dengan Ferdiansyah. Ferdiansyah yang setengah tidur ketika Khanza melepaskan pelukannya Ferdiansyah juga melakukannya.


"minumnya duduknya nak." ucap Ara mendudukkan Khanza.


"unda anza mau pipis."


"ya udah Khanza jalan sendiri atau di gendong?"


"endong nda." pergi ke WC, Ferdiansyah yang merasa keduanya sudah masuk ke WC bangun dan duduk di ranjang untuk mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.


Khanza sudah dilap badannya kerena ia tidak diperbolehkan mandi karena masih sakit, tetapi sudah badannya sudah turun. Mbak Lela yang memberi kabar ke Adnan bahwa demam khanza sudah turun merasa senang.


***


Ara, mbak Lela, bik Tutik dan Khanza sedang menikmati makan malam sambil menyuapi Khanza yang berada di pangkuannya. Begitu juga dengan Ferdiansyah sedang duduk di meja makan menikmati makan malamnya. Tak lama kemudian suara bel rumah berbunyi.


"Biar bik Tutik buka dulu."


"Gimana bang enak nggak capcay nya?"tanya Ara.


"Biasa aja."cuek sebenarnya capcay nya enak dan pas tetapi ia tidak mau mengakuinya.


"enak kok mbak Ara."ucap mbak Lela yang ditatap oleh Ferdiansyah.


"pasti dia nggak mau ngaku."batin mbak Lela.


"kenapa diambil terus?"tanya Ara.


"saya mau makan, biasanya saya kalau makan harus ada sayur."


"ngeles aja terus."batin Ara


"kamu nggak ikhlas Masakin suami?"


Bibik Tutik masuk bersama Adnan yang membawa kantong makanan.


"assalamualaikum."ucap Adnan


"wa'alaikumussalam bang, pak."ucap Ara dan mbak Lela. Khanza yang melihat papanya datang langsung menghampiri papanya. Adnan langsung menggendong putrinya. Ferdiansyah melihat sebentar dan melanjutkan makan malamnya.

__ADS_1


"baik-baik Khanza."ucap Ara


"Putri papa udah sehat?"


"udah pa."


"ayo Khanza makan lagi."kata mbak Lela yang langsung di anggukkan oleh Khanza.


"api anza au Ama unda."


"ya sini."


"ini, maaf ngerepotin pasti Khanza ngerepotin kamu."menyerahkan kantong makanan tersebut kepada Ara. Adnan membawa martabak telur dan martabak manis.


"nggak kok bang, malah Ara senang ada kawan, ini kenapa bawa-bawa segala bang?"


"nggak mungkin saya melenggang kangkung ke rumah orang Ra."mendengar ucapan Adnan, Ara tersenyum lalu menerimanya.


"Ndak ingat apa, ada laki disini."batin Ferdiansyah sedikit membunyikan sendok.


"kenapa bang?"


"dagingnya licin."cuek Ferdiansyah


"kalau gitu Ara terima ya bang, Ara ke belakang dulu mau ambil piring. Abang duduk aja dulu." ketika ingin beranjak bik Tutik melarangnya. Adnan duduk di hadapan Ara tepatnya sebelah kiri Ferdiansyah yang berada di tengah meja.


"biar bibik aja nak Ara."langsung ke belakang.


"Makan dulu bang."


"Lela ke belakang dulu mbak Ara."setelah menyelesaikan makannya Ara menjawab dengan anggukan.


"silahkan pak Adnan." membawa segelas kopi dan juga piring untuk martabak.


"makasih bik." bik Tutik tersenyum dan langsung ke dapur. Tinggallah Ara, Khanza, Ferdiansyah dan Adnan.


"unda anza mau itu." menunjuk martabak telur Ara mengambilnya.


"biar Khanza sama saya aja Ra, kamu lanjut aja makannya."


"anza mau Ama unda."


ketika mencicipi makanan tersebut Adnan begitu menikmatinya.


"kamu yang masak Ra?"ucap Adnan.


"Ara cuma bantu-bantu bik Tutik aja."


"capcay nya enak saya suka."


"orang lain aja ngaku enak, si artis malah bilang biasa aja."batin Ara kesal.


"iya pa, anza juga cuka sayul capcal unda. Tadi unda masak sayulnya cendili."


"patutlah anak papa makan sayur biasanya nggak mau."


"sayulnya beda pa, sayulnya enak coalnya unda yang uat." ucap Khanza


"kalau bang Adnan mau, nantik Ara bungkus kan."


"nggak usah Ra, ngerepotin kamu jadinya."


"unda anza mau sayul ini juga, tapi becok pagi."


"kalau untuk besok pagi nggak bisa lagi Khanza, biar bunda buat yang baru besok pagi."


"hole...."senang Khanza


"memang pandai sekali dia ambil hati orang, nggak tau kalau masih ada lakinya disini?"batin Ferdiansyah.


"ehem.. kalau sedang makan seharusnya diam."ucap Ferdiansyah. Mereka mendengar ucapan Ferdiansyah langsung diam dan menikmati makanan masing-masing.


"makannya sudah habis bilang Alhamdulillah."ucap Ara diikuti Khanza dengan cadel. Ferdiansyah dan Adnan juga menyelesaikan makannya.


"Khanza ke sana dulu ya, soalnya bunda mau beres-beres."


"anza mau Ama unda."rengek Khanza

__ADS_1


"Khanza sama papa aja ya."ajak Adnan


"Ndak Au."menggeleng kepalanya


"biar bibi aja yang beresin nak Ara."


"iya mbak biar bibi sama Lela aja beresin."


"kalau gitu Khanza ikut bunda ke sana aja ya."mengajak ke ruang keluarga, lalu diikuti Adnan dibelakangnya. Ferdiansyah yang melihat begitu kesal pasalnya mereka bertiga seperti sepasang suami istri yang bahagia.


***


Awalnya Adnan mengajak anaknya untuk pulang tetapi Khanza tidak ingin dan ia menyuruh papanya untuk menginap di rumah Ferdiansyah saja. Sekarang mereka berada diruang keluarga sambil menyaksikan acara kartun bocah kembar. Khanza begitu serius dengan tontonan nya, Khanza berada di paha Ara sebagai bantalan sedangkan Adnan berada di kursi memang jarak mereka agak sedikit jauh yang sedang memegang hp dengan serius. tetapi dari penglihatan Ferdiansyah itu seperti seorang anak yang bermakna dengan ibunya sedangkan ayahnya melakukan pekerjaan.


"kenapa siarannya ini?"protes Ferdiansyah dengan suara pelan lebih seperti berbisik yang sudah berada di samping Ara. Mendengar itu Khanza langsung menatap Ferdiansyah begitu juga dengan Ara.


"yang nonton khanza, nggak mungkin siaran tentang cinta-cinta."ucap Ara berbisik juga, mereka berdua mengobrol saling berbisik.


"ya kan dia bisa nonton di rumahnya. Saya mau nonton juga."kesal Ferdiansyah berbisik.


"Abang kan bisa nonton di kamar, di kamar juga ada tv."balas Ara berbisik.


"saya mau nonton disini."


"ya ngalah sebentar kenapa sih bang? kayak anak kecil aja, ingat umur bang udah berapa.Lagian tumben Abang mau nonton tv biasanya tv dianggurin aja."


"terserah saya, saya ada masanya ingin nonton tv dan ada masanya saya nggak mau nonton tv."


"ya ya ya terserah."


Tanpa mereka sadari Khanza yang berada di paha Ara sudah terlelap. Mungkin akibat kekenyangan matanya langsung berat. Adnan yang melihat kelakuan mereka tanpa mengetahui apa yang dibicarakan menatap dengan bingung. setelah ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat ia berinisiatif untuk melihat anaknya, karena biasanya Khanza jam segini sudah tidur.


"ehh."Ara terkejut melihat Adnan berada di depannya.


"Khanza udah tidur."ucap Adnan duduk di depan Ara sambil melihat anaknya.


"ohh Khanza tidur?kok Ara nggak ngerasa ya?"


"Biar saya gendong aja Ra."mengambil Khanza dengan hati-hati. Ketika Ara ingin berdiri kakinya merasa kesemutan.


"kaki kamu kesemutan? maaf ngerepotin kamu." Adnan tak enak.


"nggak papa bang, bentar lagi hilang kok."


"pak tasnya Khanza udah siap, mbak Ara makasih banyak ya. Udah makan bareng sampai main bareng."ucap mbak Lela.


"ya mbak Lela, kapan-kapan ke sini aja lagi."


"ya mbak Ara."


"terimakasih Ferdi sudah mengajak saya makan di rumah kamu.


"ya sama-sama."


"kalau gitu Abang pulang Ra, assalamualaikum Ra, Ferdi." Adnan menyebut dirinya Abang yang membuat Ferdiansyah terkejut.


"ya bang wa'alaikumussalam."ucap Ara tersenyum, Ara dan Ferdiansyah mengantar Adnan, Khanza dan mbak Lela sampai pintu depan. Ara terus tersenyum melihat Khanza yang berada di gendongan Adnan.


"gitu aja senang, se senang itulah kamu bisa ketemu duda?"


"ih apaan sih, orang senang lihat Khanza."


"bapaknya juga."sewot Ferdiansyah


"kalau iya kenapa? Ara senang lihat bapaknya."menantang Ferdiansyah.


"saya sudah duga, pasti kamu suka sama bapaknya. Ingat kamu itu udah punya suami."Ferdiansyah langsung masuk ke dalam.


"dasar aneh."lirih Ara.


sekian dulu ceritanya


ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.


jangan lupa vote dan follow


terimakasih 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2