
sarapan sudah tersedia, Ferdiansyah menyantap dengan tenang sedangkan Ara mencuci piring bekas sarapannya.
Ting tong (anggap bel)
Ara bergegas keluar, Ferdiansyah yang melihat menatap kepergian Ara dengan kepo. Ketika Ara sudah di depan pintu depan Ferdiansyah mengikutinya.
"assalamualaikum." ucap kedua pasangan suami istri tersebut yaitu Dinda dan juga gema berserta anaknya hafiz.
"wa'alaikumussalam mbak, mas, eh ada hafiz, makin ganteng aja. masuk dulu mas, mbak."
"kamu nyambut kakak juga." ucap Dinda yang melihat Ferdiansyah di belakang Ara.
"nggak, tadi aku mau keluar."
"loh bukannya tadi masih sarapan bang? itu tangan kenapa masih pegang roti?" ucap Ara yang melihat Ferdiansyah memegang roti sarapannya.
"saya mau kasih burung." elak Ferdiansyah yang langsung keluar.
"emang Abang ada burung?" ucap Ara polos, karena ia tidak melihat burung peliharaan selama ia di rumah.
"apa maksud kamu tanya burung saya, jelas saya punya burung."ucap Ferdiansyah yang menyalah artikan, seketika ia lupa dengan perkataan bawa roti tersebut akan diberi ke burung.
"Soalnya selama Ara di sini nggak pernah lihat burung Abang, cantik nggak?"
"jadi kamu mau lihat, nggak salah? saya pikir kamu..... ah sudahlah." ucap Ferdiansyah frustasi, kedua pasangan suami yang datang cuma bisa geleng kepala mendengar pembicaraan keduanya yang terbilang absurd. Hafiz yang semula di sana sudah masuk terlebih dahulu.
"kalian masih bahas mengenai burung juga pagi-pagi." ucap gema.
"Dia yang mulai, aku sih yes aja kalau dia mau." Ferdiansyah santai dengan senyuman puasnya.
"di mana burungnya bang? namanya siapa?"
"mmmmm namanya junior." pikir Ferdiansyah
Gema dan Dinda langsung masuk ke dalam, mereka geleng-geleng kepala atas kepolosan dari adik ipar mereka. Ditambah Ferdiansyah terus meladeninya seakan-akan Ara ingin padahal Ferdiansyah salah paham.
"kok namanya gitu, burungnya kecil mangkanya dibilang junior."
"enak aja kamu bilang burung saya kecil, kalau kamu lihat pasti tergoda." ucap Ferdiansyah tidak terima, disini Ara masih kurang paham.
"jenis burung apa bang? beo atau kakak tu?"
"maksud kamu? beo atau kakak tua? bukannya...."
"iya, abang kan mau kasih makan burung dengan roti jadi Ara mau lihat. Soalnya di rumah dulu papa ada pelihara burung, Ara sering kasih makan." Ara dengan penuh semangat.
"maksud kamu burung lain bukan burung saya?"
"burung saya? bukannya burung peliharaan Abang.... Yak...... maksudnya astagfirullah ya Allah. Jadi maksud Abang cerita burung yang mana?" seketika Ara teriak lalu tersadar dengan maksud dan tujuan Ferdiansyah. Ferdiansyah sendiri juga sadar bahwa yang di maksud Ara lain.
"burung.... burung..." Ferdiansyah linglung.
"stop tidak perlu di lanjutkan." Ara dengan memijat kepalanya lalu kembali ke dalam. Ferdiansyah sendiri sudah malu dan juga masuk ke dalam.
"sudah selesai masalah burungnya?"ucap gema melihat Ara.
"sudah mas." ucap Dinda yang asik bermain dengan anaknya. Ada sendiri menanggapi dengan senyuman saja karena pasti mengira Ara yang menggoda.
"sudah di lihat Ra?"ucap gema sambil melirik Ferdiansyah ke ruang atas.
"sudah mas, jangan di ganggu." ucap Dinda
__ADS_1
"siapa tau udah lihatkan."goda gema.
"mas." Dinda
"oh ya Ra, mbak minta tolong jagain hafiz ya. Soalnya mbak mau keluar kota sama mas gema ada yang mau di urus. Sebenarnya mbak mau bawa hafiz tapi hafiz nya nggak mau ikut, katanya dia mau main sama aunty ara."
"ya mbak nggak papa kok, malah Ara senang ada teman di rumah."
"sekali lagi mbak ucap terimakasih Ra."
"ya mbak, nggak papa kok mbak, bukannya mbak lagi hamil ya?"
"iya Ra, asal kamu tau aja, mbak kamu kalau hamil nggak hamil sama aja malah lagi hamil tenaganya kuat."ucap gema yang asik dengan hpnya. Gema tipe orang yang mudah bergaul dan suka bercanda jadi dengan orang baru pun sudah terasa kenal lama apabila dekat dengannya.
"bagus kalau gitu mas, tapi mbak, mbak juga harus banyak istirahat juga supaya badannya nggak kecapekan."
"iya Ra."
"silahkan di makan." ucap bik tutik
"terimakasih bik."
"aunty ini apa?" di sini hafiz anaknya aktif dan juga suka bertanya.
(hafiz sebenarnya bahasanya sedikit cadel jadi author tulis seperti biasa, bayangkan saya anak umur 4 tahun berbicara.)
"itu putu ayu, coba deh enak kok."
"enak ma, hafiz boleh tambah aunty?"
"boleh kok, makan aja selagi masih panas." ucap Ara
mereka saling mengobrol satu sama lain. Ferdiansyah yang sudah selesai dengan urusannya duduk di sebelah gema yang asik dengan hpnya.
"ke dapur lagi buat kue sama Ara."
"bukannya mau berangkat?"
"iya nantik siang jadwal berangkatnya."
"masih main gituan mas?"
"Hem... kamu nggak main."
"lagi nggak mood."
"lagi nggak mood, ada apa gerangan wahai adik ipar ku." canda gema mematikan hp lalu melihat wajah Ferdiansyah.
"sudah mas gema, jangan mulai. Saya lagi nggak mood."
"jangan-jangan nggak mood karena nggak bisa lihatkan burung ke Ara."
"maksudnya? mas gema mau ngejek saya?"
"ya, kamu bukannya mau lihatkan burung beo ke Ara?"
"sudah mas gema jangan mulai, saya lagi nggak mood."
"Ara ada yang badmood." Teriak gema, karena Dinda dan juga Ara sedang berada di dapur membuat kue putu ayu. Dinda ingin tau apa saja resep dari putu ayu tersebut dan akhirnya Ara memberikannya sambil belajar membuatnya.
"kenapa mas gema kak?"
__ADS_1
"paling godain suami kamu." ucap Dinda memegang mixer.
***
"hafiz baik-baik di sini jangan buat aunty Ara sama om Ferdi kerepotan."
"ya ma."
"mama sama papa pergi dulu, terimakasih Ra."
"ya kak."
"aku nggak kak."
"ya kamu juga."
"kami pergi dulu assalamualaikum." ucap gema dan Dinda
"wa'alaikumussalam kak, mbak."
"aunty putu ayunya masih ada?"
"ada kok."
"nggak ada lagi aunty."
"loh bukannya tadi aunty baru letak di atas meja."
"iya tapi om Ferdi yang habiskan." ucap hafiz menunjuk Ferdiansyah, langsung saja Ara melihatnya dengan mengintimidasi.
"kenapa?" ucap Ferdiansyah karena di tatap oleh Ara, sebelumnya Ferdiansyah bilang bahwa kue tersebut tidak enak.
"kenapa di makan kalau nggak enak?"
"saya lapar." cuek Ferdiansyah, mendengar perdebatan tersebut hafiz masuk ke dalam rumah.
"bukannya sudah sarapan tadi."
"itu beda, yang ini.... pokoknya beda titik nggak pakai koma."
"aneh.... bilang aja putu ayunya enak apa susahnya."
"saya bilang, saya lapar."
"kan tadi sudah sarapan sama roti."
"rotinya saya kasih burung?"
"Ara nggak mau bahas burung."
"terus? sudahlah kita selesaikan pembahasan burung sampai disini."
"lagian siapa yang mau bahas tentang burung."
"saya bilang selesai." melangkah masuk dengan wajah malu.
"kenapa wajahnya kayak gitu? dasar egois, kalau enak bilang aja. Apa dia mikir kalau Ara mau lihat Buru.. akhhhhhh......" lirih Ara menggeleng kepala.
**Sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
__ADS_1
jangan lupa vote dan follow**