
Ferdiansyah menikmati sarapan di meja makan, menu kali ini adalah nasi goreng plus sambel terasi. Ferdiansyah yang melihat Ara yang memakan sambal terasi dengan nasi putih pagi-pagi hanya geleng kepala. Ara terbilang orang yang doyan dengan pedas.
"nantik sakit perut kalau kebanyakkan makan sambalnya."
"dikit kok.
"dari mana dikit kalau sambalnya dua sendok, lagian kenapa sih pagi-pagi buat sambal terasi."
"lagi pengen."melanjutkan makan.
"pengen maksudnya kamu...?"
"jangan mikir aneh-aneh, Ara kalau lagi pengen ya pengen aja."
"saya nggak mikir aneh, tapi aneh aja."
Ara asyik dengan sarapannya, sedangkan Ferdiansyah sesekali melihat Ara. Ia ingin menyampaikan sesuatu tetapi ragu-ragu.
"kamu ada waktu nantik sore?"ucap Ferdiansyah tiba-tiba.
"kenapa?"
"saya nanya ada waktu sore atau nggak?"kesal Ferdiansyah.
"nggak ada."sedikit cuek.
"saya mau ngajak kamu ke bioskop, soalnya sekarang ada peluncuran film saya."
"Ara ada kerjaan, antar kue."
"katanya tadi nggak ada, sekarang ada. Saya nggak mau tau pokoknya kamu ikut saya ke bioskop. Apa kata media nantik kalau kamu nggak ada."
"jangan dengar kata media, masalah selesai."
"kamu memang nggak bisa diajak kompromi."
"ya ya ya gitu aja ngambek."
"saya nggak peduli."melangkah pergi dari meja makan.
"ya sudah."
"ingat jam 4."teriak Ferdiansyah.
"katanya nggak peduli tapi di ingetin juga."kata Ara yang berada di meja makan.
***
Ferdiansyah masih sibuk dengan kerjaannya di lokasi syuting dan akan bersiap-siap pergi ke bioskop bersama Ara.
"kalau gitu gue duluan mau ada yang di jemput." kata Ferdiansyah kepada kru dan teman-teman lainnya. Ketika hendak melangkah pergi seseorang wanita dengan pakaian yang modis menghampiri Ferdiansyah.
"kamu mau kemana di?" ucap Auristela, mendengar kata tersebut Ferdiansyah berhenti dan melihat Auristela.
"aku mau pulang."
"aku kesini mau lihat kamu, sekalian mau bareng ke tempat bioskop, bukannya film kamu tayang perdana sekarang?"
"iya."
"aku boleh ikut kamu?"
"tapi aku pulang dulu, jemput Ara." mendengar nama Ara, Auristela terdiam walaupun dengan senyuman.
"nggak papa, yang penting aku bareng sama kalian, sekalian mau ucapkan selamat sama istri kamu."
"kalau gitu ayo."
perjalanan kali ini sunyi tanpa ada obrolan keduanya, hanya lagu dalam radio yang berbunyi.
"kamu semenjak menikah, tidak seperti dulu." ucap Auristela menatap ke depan, Ferdiansyah menoleh sebentar.
__ADS_1
"maksud kamu?"
"seperti sekarang, biasanya kamu banyak ngomong dan menanya ini dan itu."
"maaf, tapi kali ini kita sudah berbeda Au."
"berbeda, tetapi kamu masih memanggilku dengan sebutan Au." setelah Auristela berbicara tidak ada obrolan lagi.
"aku sedang menuju ke rumah, kamu siap-siap."Ferdiansyah menelfon Ara.
"ya, Ara udah siap dari tadi. katanya jam 4 langsung pergi ini udah jam 4 lewat."kesal ara
"ya tadi Abang ada urusan sedikit."ucap Ferdiansyah mengatakan dirinya Abang karena ada Auristela, ia akan memperlihatkan bahwa pernikahannya baik-baik saja dan harmonis.
"tumben panggil Abang, jangan-jangan disana ada mama?."ucap Ara mengejek.
"nggak ada mama, kamu siap-siap aja Abang bentar lagi sampai, assalamualaikum."
"wa'alaikumussalam."
Auristela mendengar percakapan Ferdiansyah dengan seseorang di telfon merasa iri pasalnya Ferdiansyah menyebut dirinya Abang. selama dia bersama Ferdiansyah tidak pernah Ferdiansyah menyebut dirinya Abang di depan Auristela, memang jarak mereka hanya satu tahun tetapi Auristela merasa cemburu.
***
Ara yang sedang menikmati basreng pedas di meja makan mendengar suara klakson mobil, ia langsung keluar dengan cemilan basreng nya.
Ara keluar dengan wajah kesal, ia menghampiri mobil tersebut, memang kaca mobil tersebut hitam jadi Ara tidak bisa melihat siapa saja orang di dalamnya.
Ketika kaca mobil di turunkan, Ara yang melihat terkejut karena ia melihat seorang wanita yang cantik duduk di samping suaminya
"AU bisa pindah ke belakang?"ucap Ferdiansyah.
"Tapi di.. aku..."terputus akibat tatapan Ferdiansyah yang berbeda. "baiklah."ia keluar dari mobil dan menuju ke belakang.
"kamu kenapa nggak masuk?cepat nantik terlambat."melihat Ara yang dia melihat Auristela.
"ah Yaya." masuk ke mobil.
"di tadi mami kirim pesan suruh ke rumah soalnya mami ada acara makan malam gitu."
"baiklah, nantik aku ke sana."
"kata mami juga kamu sudah jarang ke rumah."
"maaf, aku akhir-akhir ini sibuk kerja."
"jadi selama ini artis ini sering ke rumah mamanya model ini."batin Ara.
karena merasa di kacangin, Ara makan cemilan sambil melihat pemandangan dari luar.
"kamu makan apa?" Ferdiansyah.
"basreng."kata Ara melanjutkan makannya tanpa berbasa-basi, karena ia tahu bahwa Ferdiansyah tidak bakal suka karena pedas. Dapat di lihat dari bentuknya yang merah.
"Abang mau."
"ini pedas."
"emangnya ada masalah?"
"tapikan kamu nggak suka pedas di.."di potong oleh Auristela yang berada di belakang.
"sampai makanan dia tau, mantap-mantap."batin Ara memuji Auristela.
"kali ini aku suka pedas. Ayo Ra, Abang mau coba."
"baiklah."memberikan basreng tersebut.
"Abang mana bisa ambil Ra, kamu suap kan aja, A....."membuka mulutnya, Auristela dan Ara yang mendengar terkejut. Ara langsung menyuapinya dengan tanda tanya.
"jangan bilang dia buat mantannya cemburu gitu."batin Ara.
__ADS_1
satu, dua, sampai tiga suap membuat wajah Ferdiansyah merah karena kepedasan, Ara yang melihat langsung mengambil minum lalu menyodorkan nya kepada Ferdiansyah.
Tiba-tiba saja hp Ara berbunyi dan ia langsung mengangkat nya. Tertera disana nomor yang tidak di kenal.
"halo assalamualaikum."
"wa'alaikumussalam nda, in anza."ucap Khanza cadel, ia menggunakan hp papanya untuk menelfon Ara.
"Khanza apa kabar sayang?"dengan senang tanpa menghiraukan Ferdiansyah dan Auristela yang berada di mobil.
"cehat unda, tadi anza ke lumah unda tapi Ndak ada."dengan nada sedih.
"oh bunda lagi luar sayang, bunda mau ke bioskop."
"bioskop, anza mau ikut nda, papa-papa ayok ke bioskop ada unda di sana." Khanza berada di pangkuan Adnan sekarang.
"*baiklah, sekarang Khanza kasih hpnya sama papanya biar papa ngomong sama bunda Ara."kata Adnan yang terdengar oleh Ara di sebrang hp.
"assalamualaikum Ara maaf menelfon kamu, tadi Khanza ke rumah kamu ingin bermain tetapi kamu nggak ada. Jadinya dia nangis abang nggak tau cara membujuknya. Tapi dengan sebutan nama kamu dia langsung diam. Maafkan Abang sekali lagi telah menjual nama kamu untuk mendiamkan Khanza."ucap Adnan panjang lebar.
"nggak papa kok bang, kapan mau ke bioskop nya, tapi Ara nonton film bang Ferdiansyah. Jadi filmnya nggak cocok untuk Khanza."
"kamu nonton aja dulu, nantik Abang bilang sama khanza kalau ketemu kamu selesai nonton saja."
"apa Khanza tidak akan nangis?"
"nantik abang bujuk kembali."
"Baiklah bang."
"ya Ra."
"unda nantik kita ketemu ya nda."ucap Khanza semangat.
"ya Khanza sayang."
"anza sayang unda, muah..."
"bunda juga sayang Khanza muah..."
"papa nggak sayang unda?"kata anza yang bisa terdengar oleh Ara. "unda papa uga cayang unda."Khanza mewakili papanya karena papanya terdiam ketika Khanza ngomong seperti itu.
"maaf Ra, kalau gitu Abang tutup. nantik share lokasi aja ya ra.assalamualaikum."
"oke bang, wa'alaikumussalam bang."dengan senyuman
"dari siapa?"tanya Ferdiansyah yang menyimak obrolan Ara yang begitu bahagia.
"dari Khanza."
"Dari Khanza tetapi kok panggilan (Abang)?"
"oh tadi papanya Khanza. Dia bilang Khanza mau main ke rumah tapi Ara nggak ada di rumah jadinya Khanza menangis deh."
"harus gitu nelfon kamu, kamukan bukan bundanya."
"emang bukan bundanya tapi Ara udah anggap Khanza anak Ara."
"trus bapaknya kamu anggap apa?"
"apa ya? kalau Ara bundanya, Khanza anaknya berarti pak Adnan papanya. Benar nggak?" Ara tersenyum karena ingin melihat ekspresi apa yang akan di perlihatkan oleh Ferdiansyah. Tatapan yang tunjukkan Ferdiansyah tajam.
"ehemm..."kata Auristela di belakang."apa ada air minum?"
"ada Au, bentar."Ferdiansyah mengambil air minum botol yang selalu tersedia di mobil di sampingnya.
sekian dulu ceritanya
ini cerita perdana Ku jadi harap maklum kalau ada kata-kata yang salah dalam penulisannya.
jangan lupa vote dan follow
__ADS_1
terimakasih 🙏🏻