
#Terjebak Gairah Sang Mafia 3
Mantan pembawa masalah
•
•
Dinda menggeleng sambil tersenyum, "Gausah mas, aku tadi cuma ngelamun karena bosan aja. Aku boleh gak mas main ke rumah teman aku nanti siang? Ya hitung-hitung buat cari kegiatan biar gak bosan," ucapnya.
"Oh gitu, ya boleh dong sayang. Lagian abis ini kan saya harus kerja, daripada kamu sendiri disini lebih baik kamu sama teman kamu," ucap Erick.
"Makasih ya mas, kamu emang baik banget deh!" ucap Dinda.
"Sama-sama cantik, yaudah nanti saya antar kamu kesana ya? Sekarang gimana kalau kita sarapan bareng?" usul Erick.
Dinda mengangguk setuju, mereka lalu sama-sama menikmati santap pagi yang enak itu di meja makan. Ya Dinda seketika melupakan pikirannya tentang Tom, ia tak ingin suaminya menaruh curiga jika ia terus saja melamun hanya karena memikirkan pria yang sudah menjadi masa lalunya itu.
Setelah selesai sarapan dan mencuci piring, Dinda yang baru saja berdandan kini pergi menemui suaminya di depan yang sudah menunggu. Mereka kali ini akan pergi bersama-sama menuju rumah Aulia, sahabat Dinda. Nantinya Dinda berniat untuk mengajak Aulia menemui sahabatnya yang lain.
"Mas, aku udah siap nih. Kita berangkat sekarang aja yuk! Takutnya juga nanti kamu terlambat ke kantor kalau kita kelamaan," ucap Dinda.
Erick bangkit dari duduknya dan menghampiri Dinda sembari mengusap wajahnya, "Kamu cantik sekali sayang! Ini nih yang selalu bikin saya sulit buat tinggalin kamu," ucapnya lembut.
Dinda tersipu malu dan menundukkan kepalanya, "Ah mas bisa aja, udah ah ayo kita berangkat!" ucapnya.
"Iya sayangku," Erick menyetujui ucapan istrinya dan mengajak sang istri pergi dari apartemennya dengan bergandengan tangan.
Ceklek
Namun, saat mereka baru saja membuka pintu, tanpa diduga Ariana alias mantan istri Erick sudah berdiri di depan mereka dengan pakaian seksi disertai senyum menggoda. Sontak saja Erick merasa kikuk, ia tampak gugup dan bingung harus berkata apa ketika melihat Ariana di depannya.
__ADS_1
"Ariana, kamu ngapain di depan apartemen saya?" tanya Erick dengan nada sinis.
"Halo mas! Apa kabar kamu? Setelah menikah, kamu sepertinya makin bersinar aja mas. Pasti kamu bahagia ya menikah sama istri kamu ini?" ujar Ariana sembari melirik sinis ke arah Dinda.
"Kalau iya kenapa? Jelaslah saya bahagia, karena saya mencintai Dinda. Kamu itu sebenarnya mau apa sih Riana?!" ujar Erick kesal.
"Sabar mas! Kenapa sih kamu selalu sinis gitu tiap kali ketemu aku? Padahal dulu sebelum kamu nikah, kamu kan masih minta digoyang sama aku," ucap Ariana.
Deg!
Perkataan yang dilontarkan Ariana itu membuat Erick sangat terkejut, ia tak menyangka Ariana bisa mengatakan hal itu di hadapan dirinya dan juga Dinda. Tentu Erick sangat khawatir Dinda akan berpikir yang tidak-tidak padanya, apalagi Ariana seolah sengaja memancing mereka.
"Bicara apa sih kamu? Tidak usah membahas hal yang sudah berlalu, kamu pergi sekarang dan jangan ganggu kami!" sentak Erick.
"Oh waw, sombong banget sih kamu mas! Sekarang kamu usir aku, dulu padahal kamu mohon-mohon buat minta dipuaskan," cibir Ariana.
"Jaga bicara kamu! Saya gak pernah bersikap seperti itu, kamu jangan aneh-aneh ya Ariana!" kesal Erick.
"Kamu memang pandai bersilat lidah Erick, bisa-bisanya kamu tidak mau mengakui perbuatan kamu itu di depan istri kamu," ucap Ariana.
Ariana menyeringai dengan tatapan menjurus ke arah Dinda, ia yakin betul ucapannya tadi sudah berhasil mempengaruhi wanita itu kalau Erick memang pernah meminta jatah lagi darinya saat masih berhubungan dengan Dinda. Terbukti saat ini Dinda juga tampak kecewa dan tak mau menatap wajah pria di sebelahnya itu.
"Baiklah, aku akan pergi. Semoga hubungan kalian langgeng ya walau kamu selalu mencari kepuasan di luar Erick!" ujar Ariana.
Tangan Erick terkepal kuat, ia benar-benar emosi dengan apa yang dilakukan Ariana kali ini. Namun, setelahnya Ariana pun pergi sesuai dengan apa yang dia katakan tadi. Erick sedikit merasa lega karena tak ada lagi yang akan mengganggunya, ia beralih menatap Dinda di sebelahnya.
"Dinda, kamu jangan dengarkan kata-kata dia ya! Saya setia sama kamu kok, saya akan bikin kamu bahagia selamanya dan menjadi istri yang paling sempurna!" ucap Erick coba meyakinkan istrinya.
Dinda mengangguk pelan, "Dari awal aku cuma percaya sama kamu mas," ucapnya.
"Good girl, gak salah saya pilih kamu buat jadi istri!" ucap Erick senang.
__ADS_1
Mereka berdua saling berbalas senyum, lalu Erick pun menggandeng tangan istrinya dan pergi bersama-sama menuju tempat Aulia. Ya Dinda sebenarnya kecewa setelah mendengar ucapan Ariana tadi, tetapi ia memilih menghindari keributan karena sedang malas untuk berdebat.
•
•
Disisi lain, Queen tiba di markas Jeevan bekerja untuk memantau semua yang terjadi disana. Ia datang sendiri sebab Jeevan tengah mengurus urusan yang lain, wanita itu juga berniat menemui Fritzy kembali dan membahas mengenai pernikahan yang sempat akan mereka lakukan sebelumnya.
Queen memasuki tempat itu dengan santainya, ia sapa para anak buahnya yang berada disana dan mereka semua pun menyambutnya dengan ramah. Lalu, saat di dalam Queen bertemu dengan Alden yang kebetulan baru saja memberi instruksi pada kurir mereka untuk segera berangkat.
"Alden!" sengaja Queen menyapa pria itu karena ia hendak menanyakan mengenai Fritzy, sontak Alden pun menoleh ke arahnya.
"Eh nona Queen, selamat siang!" Alden memberi salam dan sedikit membungkuk sebagai tanda hormat pada sang nona.
"Siang! Semuanya aman-aman aja kan? Gak ada masalah yang terjadi disini?" tanya Queen.
Alden tersenyum menggeleng, "Tidak ada nona, semua dapat kami atasi dengan baik. Nona tidak perlu khawatir untuk itu," jawabnya.
"Baguslah, aku bahagia mendengarnya. Oh ya, apa kamu tahu dimana Fritzy?" ujar Queen.
"Tentu nona, dia ada di ruangannya. Mari saya antar nona!" ucap Alden.
Queen mengangguk pelan, mereka pun bergegas menuju ruangan tempat Fritzy bekerja. Queen tampak mengamati sekitar ruangan itu sembari berjalan, ia masih belum percaya kalau pada akhirnya ia bekerjasama dengan kelompok Jeevan yang merupakan musuh besar ayahnya dulu.
Sesampainya di depan ruang Fritzy, keduanya sontak terkejut karena tiba-tiba pintu terbuka dan menunjukkan Fritzy yang tengah mual menutupi mulutnya. Tentu Fritzy juga kaget dengan apa yang dilihatnya, tetapi ia sudah tidak tahan lagi dan memilih pergi ke toilet di tempat itu.
"Hah? Apa yang terjadi dengan Fritzy, Alden?" tanya Queen pada pria itu.
"Eee dia sih biasa begitu nona, maklumlah namanya juga wanita hamil," jawab Alden tanpa berpikir.
Queen tersentak mendengarnya, "Hamil??" ujarnya dengan mata terbelalak lebar.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...